#BEAUTYREPORT: CLINELLE CAVIAR GOLD, RANGKAIAN SKINCARE DENGAN KANDUNGAN CAVIAR DAN EMAS

Ehalo!

Kali ini aku mau me-review mengenai salah satu varian brand skincare yang lagi aku pakai selama satu bulan belakangan ini. Namanya adalah Clinelle CaviarGold. Clinelle ini sebenarnya adalah brand skincare asal Malaysia, tapi untuk varian CaviarGold ini, seluruh rangkaian produknya diproduksi di Korea Selatan dengan teknologi dan inovasi yang tentunya Korea banget.

Kalo kalian follow akun Instagram atau Twitterku, kalian pasti tau bahwa aku anaknya setia banget sama Korean Skincare karena sejauh ini memang paling cocok di kulitku. Jadi waktu pertama kali dengar soal Clinelle CaviarGold ini jadi penasaran pengen nyobain, apalagi karena ingredients-nya yang unik banget.

 

Mengandung Caviar dan Emas

Yup, nggak salah baca kok. Clinelle CaviarGold ini memang mengandung ekstrak Black Caviar (telur ikan Sturgeon liar yang harganya terkenal mahal banget). Caviar nggak cuma dijadikan bahan makanan, tapi sudah dijadikan sebagai salah satu bahan skincare premium karena kandungan nutrisi, mineral, anti oksidan, dan omega 3 yang tinggi banget. Di dalam skincare, ekstrak caviar ini berfungsi untuk meningkatkan kekencangan dan kelembaban kulit wajah karena kandungan lemak sehatnya.

Selain caviar, satu lagi bahan premium yang ada dalam Clinelle CaviarGold adalah emas, tepatnya senyawa 24K Nano Gold. Di dunia skincare, senyawa ini dikenal sebagai bahan yang mampu memberikan efek luar biasa pada kulit, sehingga kulit kita mampu menstimulasi produksi kolagen hingga 300%. Penggunaan emas di dalam perawatan kecantikan juga udah nggak asing ya, karena sudah banyak banget terbukti sejak puluhan tahun yang lalu.

Nggak cukup sampe di situ, Clinelle Caviar Gold ini juga mengandung ekstrak PhytoGold nabati yang berasal dari tumbuhan Golden Bell, bunga yang bisa dimakan dan biasanya digunakan sebagai bahan teh dan sirup tradisional di Eropa. Di China, sejak dulu juga ternyata tanaman Golden Bell ini dikenal khasiatnya sebagai tumbuhan obat, dipercaya bisa menyembuhkan penyakit seperti alergi dan melancarkan pernafasan. Di dunia kecantikan, kandungan PhytoGold ini dikenal memiliki khasiat mencerahkan kulit dan menyamarkan flek hitam karena mampu menghambat pembentukan melanin kulit.

 

No Bad Stuff

Satu hal yang paling bikin aku tambah yakin buat nyobain Clinelle kemarin adalah karena mereka berani claim bahwa mereka bebas bahan-bahan yang nggak baik buat tubuh. No artificial coloring, No artificial fragrances, No lanolin, No mineral oil, No SD-alcohol, No comedogenic ingredients and No Paraben. Gokil! Pas banget buat kulit sensitif kaya kulitku ini.

 

 

Solusi Anti Aging dan Mengencangkan Kulit

Dari kandungan utamanya aja, udah ketebak dong ya fungsi utamanya Clinelle CaviarGold ini?

– Mengencangkan

– Melembabkan

– Mencerahkan dan Mengatasi Flek Hitam

Buatku yang sudah memasuki usia di atas 25 tahun, 3 fungsi utama ini yang makin sering aku cari dalam skincare. Karena let’s face it, semakin tua kita, maka semakin banyak masalah yang dialami kulit. Jadi penting banget untuk pakai skincare yang beneran bisa jadi support system kita. Karena buatku, kulit adalah investasi. Oh iya, buat kamu yang ngerasa bahwa usia 25an masih “terlalu pagi” buat pakai skincare anti-aging, sebenernya itu pemikiran yang salah lho. Justru semakin cepat kita sadar bahwa kulit butuh nutrisi, semakin mudah nanti kita untuk “aging gracefully”. Lebih baik daripada menyesal di kemudian hari kan?

 

5 Daily Steps + 1 Extra Step

Buat yang masih ragu-ragu (dan males) buat nyoba 10 Steps Skincare kaya yang aku pernah bikin di Youtube-ku, rangkaian Clinelle CaviarGold ini cuma 5 step aja, sis! Tuh, kurang praktis apa?

 

Step 1: CaviarGold Firming Cleanser

Ini aku pakai sebagai first cleanser di pagi hari, dan second cleanser di malam hari (setelah lebih dulu bersihin sisa makeup). Aku sejak dulu paling kesel sama cleanser yang wanginya tajam dan bikin kulit kering kaya ketarik setelah dibilas. Untungnya, Clinelle ini sama sekali nggak begitu. Menurutku malah sebaliknya, bikin kulit lembut dan pipi kenyal.

 

 

Step 2: CaviarGold Firming Lotion

Dipakai setelah wajah dicuci dan dikeringkan, ini berfungsi sebagai toner yang mengembalikan keseimbangan kulit dan menyiapkan kulit untuk menerima nutrisi selanjutnya. Cepat diserap dan langsung bikin kulit lembab!

 

 

Step 3: CaviarGold Firming Eye Serum

Dipakai di area sekitar mata (yang terkenal gampang kering dan keriput), serum mata ini salah satu produk paling best seller-nya Clinelle CaviarGold. Nggak heran sih, soalnya aku yang biasanya sensitif banget sama puffy eyes dan black circle kalau udah stress atau kecapean, sebulan terakhir ngerasa lagi cinta-cintanya sama bagian mata. Soalnya lembab dan kenceng terus!

 

 

Step 4: CaviarGold Firming Serum

Dipakai di wajah setelah pake eye serum. Serum wajah ini juga salah satu produk favoritku, karena aku ngerasain banget efeknya. Tadinya, aku selalu bermasalah sama pori-pori di sekitar pipi bagian hidung, yang bikin kulit terlihat nggak flawless kalau pakai makeup. Nah setelah 2 minggu pakai ini, aku mulai ngerasa banget perubahannya. Kulit lebih kencang, pori semakin mengecil, dan foundation makin nempel dengan sempurna. Akibatnya, makeup jadi lebih flawless. Awalnya nggak sadar, lama kelamaan banyak temen-temen yang memuji, padahal nggak ganti merek foundation atau bedak. Parah sih, ini bener-bener di luar ekspektasiku. Magic! Haha.

Oh, also, look at this! How beautiful does that gold particles look like? I’m so in love!

 

 

 

Step 5: CaviarGold Firming Cream

Tahap terakhir dalam rangkaian harian Clinelle CaviarGold. Aku seneng banget sama pelembab ini karena walau bentuknya cream, ternyata lumayan mudah diserap kulit, bahkan untuk pemakaian pagi hari sebelum pakai makeup. Nggak greasy sama sekali.

 

Step Tambahan: CaviarGold Firming Facial Mask

Untuk perawatan ekstra, ada juga bentuk sheetmask-nya yang bisa dipakai 1-2 kali seminggu. Aku pribadi suka pakai sheetmask setelah serum sebelum moisturizer, didiamkan 20 menit, diangkat, lalu sisa cairannya ditepuk-tepukkan ke kulit wajah sampai diserap.

 

Final verdict: BEYOND EXPECTATION. Yang awalnya cuma iseng dan penasaran, berakhir jadi cinta. Kalo pacaran, ibaratnya di awal nggak naksir-naksir amat, pas dijalanin eh ternyata idaman banget, jadi kepengen buru-buru dinikahin. HUAHAHAHA (udah Tuel jangan kepancing curhat)

 

Anyway, satu hal yang menurut aku kurang adalah nggak ada produk Sun Protection-nya, jadi habis pakai rangkaian ini, jangan lupa pakai sunscreen lotion atau sunscreen spray ya, supaya perlindungan kulitnya lebih maksimal.

 

Oh iya, buat yang pengen coba, Clinelle CaviarGold tersedia di Guardian jadi cusss langsung meluncur dan cobain sekarang.

 

See you in another reviews!

 

Love,

Twelvi

 

70 Days of Travel – 9 Hal Yang Harus Disiapkan Untuk Perjalanan Panjang

16 Desember 2017 kemarin, saya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di kota yang sudah bikin saya jatuh cinta sejak usia delapan tahun. New York City, yang kata orang the city of dreams. Pertama kali keluar dari pintu kedatangan internasional di Newark Airport New Jersey, saya disambut butiran salju yang turun dari langit seperti butir-butir kapas.  Suhu saat itu -2 derajat celcius. Sekitar 30 derajat lebih dingin dari Jakarta yang waktu saya tinggalkan masih bersuhu 28 celcius.

 

Itu adalah winter pertama saya. Angin dingin berhembus menusuk kulit, tapi saya memekik bahagia. Literally memekik. Saya ingat banget, saat berjalan dari pintu kedatangan airport menuju halte bus yang menuju Manhattan, saya berlari kecil mendorong koper 23kilo sambil senyum-senyum dan ngomong sama diri sendiri “Am I really here?”.

 

Butiran salju yang jatuh dan hinggap di bahu seolah menyambut saya. Hari pertama dari 70 hari perjalanan sayapun resmi dimulai.

 

Saya sudah solo traveling sejak 2012, tapi belum pernah selama ini. Paling lama 2 minggu. Saya menyiapkan perjalanan ini matang-matang selama satu tahun sebelum keberangkatan, dari mulai merencanakan keuangan, Tourist Visa, kota tujuan, hingga pilihan akomodasi. One thing about me is I LOVE PLANNING FOR MY TRIP. Membayang-bayangkan New York sejak setahun sebelum berangkat, membuat satu tahun berlalu begitu cepat dan setiap hari saya berangkat ke kantor dengan semangat. Walaupun banyak kerjaan, stress, dan lembur, nggak masalah karena saya tau saya sedang menabung untuk New York.

 

Dari kecil, kepengen banget Natalan dan tahun baruan di New York. It truly was my ultimate wish list. Makanya saya memilih New York sebagai perhentian pertama. Dari 70 hari traveling, 30 hari saya habiskan di New York supaya puas hahaha dan 40 hari sisanya di Eropa. Jadi dari New York, saya terbang langsung ke Paris, dan keliling Eropa dari sana.

 

26 Februari 2018, saya kembali ke Jakarta. Dengan tabungan yang angkanya menipis, tapi kebahagiaan yang menebal. I have never been this happy and content in life. Setiap kerja keras bekerja dan perjuangan menabung gila-gilaan, semuanya terbayar lunas. It was amazing and life changing. It was worth every penny.

 

Oh ya, dari Jakarta ke New York, saya kemarin membawa 1 koper ukuran 28 inch, 1 ransel untuk di cabin, dan 1 sling bag untuk tempat dompet dan HP. Nanti saya akan tulis blog terpisah mengenai apa saja yang perlu dibawa untuk perjalanan panjang saat winter.

 

Buat kamu yang tertarik mau traveling ke US dan Eropa agak lama, berikut ini adalah beberapa hal yang saya persiapkan untuk trip panjang saya kemarin:

 

  1. Tabungan

Ini sih udah jelas banget ya, kecuali kamu punya sugar daddy di Amerika atau berencana menjual ginjal di pasar illegal (not recommended), tabungan yang memadai akan sangat berpengaruh terhadap kenyamanan saat traveling.

Eits, jangan langsung takut atau buru-buru mikir saya ini memang anak orang kaya. Untuk keperluan traveling 70 hari ini, saya nggak menyiapkan uang ratusan juta kok. Dari Indonesia, saya kemarin bawa uang 100jutaan tunai untuk modal traveling, ini di luar tiket pesawat yang sudah dibeli dan beberapa penginapan yang sudah dibayar jauh-jauh hari.

Saya juga menyiapkan beberapa puluh juta di rekening lain untuk modal hidup setelah pulang traveling. Karena untuk trip ini saya resign dari pekerjaan, maka saya menyiapkan uang yang cukup untuk bertahan hidup setidaknya 3-4 bulan setelah kembali ke Indonesia, sampai saya dapat pekerjaan tetap lagi. Yes, I quit my job to travel, baca tulisannya di sini.

Untuk jumlah total pengeluaran saya selama 70 hari kemarin, akan saya tuliskan di blog terpisah setelah ini.

 

  1. Kartu Kredit

Jujur, sebelum trip 70 hari ini saya tidak pernah tertarik punya kartu kredit.

Yup, saya sudah berpenghasilan sejak 2011 tapi baru punya kartu kredit di akhir 2017 kemarin. Saya bikin kartu kredit juga cuma buat keperluan trip ini aja. Fungsi kartu kredit saat traveling di luar negeri menurut saya lebih karena praktisnya, misalnya perlu beli tiket bus/kereta api online, atau saat ribet dan nggak sempat menukar uang atau susah mencari ATM dengan rate yang manusiawi.

Supaya nggak punya hutang menumpuk sehabis traveling, setiap malam hari saya langsung bayar kartu kredit saya sesuai pemakaian saya hari itu. Dengan cara ini, saya punya kontrol penuh terhadap jumlah uang di dalam tabungan, jadi nggak ngerasa masih punya banyak uang padahal sebenernya ngutang.

Untuk mempermudah proses bayar-membayar kartu kredit, saya juga selalu bawa token internet banking saya kemana-mana

 

  1. VISA

Ini adalah salah satu bagian paling ribet buat orang Indonesia yang mau bepergian ke negara-negara di luar Asia Tenggara. Karena bagian ini yang paling banyak bikin deg-degan dan persiapannya paling panjang.

Tapi bener nggak sih membuat VISA Schengen dan US itu sesulit itu?

Menurut saya, enggak. Asalkan kita sudah punya tabungan yang cukup sejak jauh-jauh hari, dan memenuhi seluruh persyaratan dokumen termasuk itinerary perjalanan, nggak ada alasan bagi kantor kedutaan untuk menolak VISA kita kok.

Yang pasti, yakinkan pihak kedutaan bahwa tujuan kita adalah untuk melancong, bukan untuk jadi imigran gelap apalagi teroris.

Visa yang pertama saya urus kemarin adalah Visa US. Karena berangkat Desember, aku mengurus Visa US sejak Oktober. Sebenarnya sih di dalam persyaratan Visa US nggak diwajibkan menyertakan tiket PP, tapi karena saya sudah beli jauh-jauh hari, akhirnya saya sertakan saja. Dan bener, nggak ditanya sama sekali haha.

Kemudian, yang terpenting adalah kita harus tau betul itinerary kita saat perjalanan nanti. Dan jawab semua pertanyaan interview dengan tenang, jujur, dan lancar. Jangan mengurus Visa tapi nggak tau mau menginap di mana, sama siapa, dan nggak bisa jawab pertanyaan dengan lancar.

 

  1. Asuransi Perjalanan

Terutama buat perjalanan panjang sendirian, ini penting banget. Saya pergi 70 hari, dan saya nggak tau apakah dalam 70 hari itu saya akan sehat terus atau jauh dari kecelakaan. Walau nggak ada yang pengen sakit/kecelakaan, namanya akan ada di negeri orang, lebih baik bersiap-siap untuk segala kemungkinan.

Untuk travel insurance, saya udah berkali-kali selalu beli dari www.futuready.com (ini jujur dari hati paling dalam dan nggak di-endorse, tapi kalo ada bos Futuready yang kebetulan baca blog ini, saya mau banget lho kalo di-endorse. #LAH #MURAH ahahaha)

Di Futuready, saya tinggal pilih mau ke negara apa, lalu berapa lama, lalu nanti mesin pencari Futuready akan merekomendasikan beberapa jenis asuransi dari perusahaan yang berbeda-beda. Saya bisa pilih sendiri berdasarkan jumlah premi yang mau saya bayar dan jumlah total value yang bisa saya dapatkan.

Buat saya yang traveling sendirian dan paling nggak paham apa-apa soal asuransi, Futuready ini membantu banget. Semuanya dilakukan online, lalu kalau kita sudah direview dan disetujui, polis asuransi kita akan dikirim via email.

Kalau kita sakit di negara destinasi, tinggal ke RS aja, lalu pakai dulu uang sendiri, tapi kumpulkan semua dokumen dari RS. Nanti begitu pulang traveling, kita isi polis asuransi, dan laporkan ke Futuready beserta seluruh dokumen pemeriksaan, dan uang akan diganti. Gampang banget kan?

 

  1. SIM Card atau Mobile WiFi

Karena traveling sendirian, internet buat saya wajib hukumnya. Pokoknya begitu mendarat di airport negara manapun, yang pertama dilakukan adalah menyalakan HP. Internet ini penting banget untuk cari info mengenai transportasi dan petunjuk jalan ke penginapan.

Ada 2 hal yang bisa kita siapkan sejak sebelum berangkat, bisa pilih mau International SIM Card atau Mobile WiFi. Semua ada plus minusnya.

SIM Card tentu lebih praktis, tapi karena hanya bisa diaktifkan begitu sampai di negara tujuan dan nggak bisa dikontrol dari jarak jauh, kalau ternyata SIM Cardnya bermasalah, ya kita bakalan gigit jari di airport karena kantornya di Jakarta juga nggak akan bisa ngebantu apa-apa kecuali me-refund uang kita. Selain itu biasanya SIM Card turis model begini juga nggak bisa di-top up. Jadi kalau kuotanya habis, ya kita harus buang kartunya dan cari kartu baru di negara tujuan.

Mobile WiFi akan makan tempat. Harus rajin ngecas, harus bawa powerbank tambahan, dsb. Tapi kalau terjadi apa-apa di negara tujuan, kita bisa dibantu oleh tim IT dari Indonesia untuk mengubah/memperbaiki settingan mobile WiFi kita.

Saya sendiri sudah pernah pakai dua-duanya. Untuk Mobile WiFi, saya biasanya pakai dari Wi2Fly, dan untuk International SIM Card kemarin saya menggunakan jasa Java SIM.

 

  1. Gambaran Singkat Mengenai Penginapan dan Lokasi Tempat Tinggal

Biasanya untuk pengurusan VISA, saya pesan hostel dari booking.com yang bisa dicancel. Begitu VISA disetujui, saya cancel seluruh booking, baru cari penginapan dengan lebih seksama dan hati-hati.

Saya seneng bacain semua review di Tripadvisor mengenai penginapan yang mau saya pilih, supaya lebih dapat gambaran mengenai jenis-jenis tamu yang menginap di sana.

Saya juga punya kebiasaan aneh untuk ngelihat seluruh detail penginapan yang mau saya pilih melalui Google Street View, supaya dapat gambaran mengenai lokasi lingkungan dan ada apa saja di sekelilingnya. Nggak tau ya saya ini ekstrim atau enggak, tapi saya orangnya emang organized dan punya attention to details yang cukup parah hahahah, dan proses nge-stalking penginapan melalui Google Street View ini bikin saya makin deg-degan excited nggak sabaran untuk segera traveling. Rasanya bahagia banget gitu. I’m usually so obsessed with every trip that I’m going to make.

 

  1. Salin Seluruh Dokumen Penting

Mulai dari KTP, KK, Akte Lahir, Paspor, Tiket Pesawat, Booking hotel, sampai Itinerary, semua saya salin dalam bentuk digital (JPG/PDF) lalu saya upload ke personal drive seperti Google atau Dropbox. Karena kalau lagi traveling ke luar negeri, satu hal yang paling saya “takutkan” adalah kehilangan dokumen penting. Bukan karena takut dijual ke raja minyak, tapi karena saya tau untuk mengurusnya akan sangat ribet.

Jadi penting untuk punya seluruh salinan digital dari dokumen penting. Just in case.

 

  1. Beri Kabar Ke Keluarga/Orang Terdekat Mengenai Rencana Perjalanan

Terutama mengenai tanggal keberangkatan, jenis dan nomor pesawat/kereta/bus, dsb. Nggak ada yang tau apa saja yang bisa terjadi di jalan. Tapi kalau terjadi sesuatu dan kita mendadak nggak ada kabar, keluarga/orang terdekat tau kita terakhir kali ada di mana. Biasanya saya paling senang update ini ke dua orang adik saya, selain karena saya memang dekat dengan mereka, mereka juga sekaligus ahli waris asuransi perjalanan saya. Jadi kalau memang terjadi apa-apa, mereka tau harus melapor ke asuransi saya nantinya. Nothing creepy here, really, namanya juga traveling sendirian ya harus siap mikirin segala kemungkinan dan akan lebih baik kalau berpikir logis.

 

  1. BE EXCITED! BE SCARED! BE HAPPY!

Kalau ngerasa takut, nikmatin aja. Itu bukan takut kok, itu nervous, a good kind of nervous. THE BEST kind of nervous.

Dalam hidup, aku selalu punya prinsip: If your dream doesn’t scare you, then it’s not big enough.

 

 

Jadi, mau traveling ke mana tahun ini?

 

Love,

Twelvi

70 Days of Travel – Berhenti Bekerja Demi Traveling

Hello!

Setelah lama menunda, akhirnya hari ini punya kesempatan menulis lagi.

Kalau kamu follow aku di Twitter atau Instagram @LadyZwolf, kamu pasti tau kalau Desember 2017 kemarin aku pergi traveling sendirian ke Amerika Serikat dan Eropa selama 70 hari. Yup, dua setengah bulan. Solo traveling ke tempat-tempat yang belum pernah aku datangi sebelumnya.

Ini bukan pertama kalinya aku bepergian sendiri, tapi memang ini adalah perjalanan terlama yang pernah aku tempuh. Perjalanan selama ini, tentunya, membutuhkan rencana yang matang, waktu yang panjang, tabungan yang cukup, dan tentunya keputusan yang nekad.

Kenapa nekad? Karena aku memutuskan berhenti bekerja demi perjalanan ini.

I quit my job to travel continuously.

Sounds crazy, right?  Well, because it is.

Waktu itu aku bekerja di perusahaan yang aku suka banget, dan udah di situ selama hampir 2 tahun. Di perusahaan itu, aku dipercaya untuk memegang tanggungjawab yang besar, and I made a whole new family during all the ups and downs. It was hard to leave. Kalau biasanya karyawan memberikan 1 month notice untuk pengunduran diri, out of my utmost respect and love for the company, aku menyampaikan rencana perjalanan ini sejak 4 bulan sebelum keberangkatan. I wanted to give the company more time to prepare, karena aku tau ada tanggungjawab besar yang akan aku tinggalkan, dan akan sangat tidak adil buat perusahaan kalau aku resign mendadak, dan nggak mungkin juga meninggalkan perusahaan selama 2,5 bulan dengan metode unpaid leave hanya karena alasan pribadi. I understand that it would not be fair for everyone else. Jadi, satu-satunya pilihan adalah resign.

Traveling continuously adalah impian yang sudah aku simpan sejak lama, kurang lebih sejak beberapa tahun terakhir. Tadinya malah kepengen traveling nonstop 100 hari, tapi saat ini yang memungkinkan adalah 70 hari aja, jadi nggak masalah. Dan dari dulu, kepengen banget ngerasain hidup di New York selama minimal 1 bulan. Semacam test drive-lah, mau ngeliat seberapa cintanya sih aku sebenarnya dengan kota yang sudah aku impikan dari kecil ini.

Sejak lulus kuliah tahun 2011 lalu, bahkan sebelum resmi wisuda, aku sudah bekerja kantoran dan nggak pernah berhenti. Nggak pernah ada jeda di mana aku berbulan-bulan hanya di rumah saja, entah itu freelance working atau memang nggak bekerja atau menganggur. Cuti dari kantor paling lama itu 4-5 hari kerja, dan kalau mau liburan 2 minggu, artinya harus menunggu momen Lebaran, yang artinya tiket mahal. Saat pindah dari satu kantor ke kantor lainnya pun, biasanya “dibajak” jadi kadang di kantor lama terakhir hari Jumat, hari Senin sudah harus mulai di kantor baru. Haha. I’m not complaining by any means. In fact, I am really grateful. Tuhan memberi kesempatan yang luar biasa untuk aku bisa menghidupi diriku sendiri tanpa henti.

But at one point, I felt like I need to hit a RESET button. Bertahun-tahun bekerja dari pagi hingga (seringkali) malam, bahkan di weekend juga. I felt like I need to listen to my heart and just go for it.

BUT, it was not that easy at all. Our biggest enemy is ourselves. And to me, that was also the case.

Am I being a jerk? Ada ketakutan menjadi sombong sama diri sendiri. Tuhan udah kasih rejeki pekerjaan berurutan, nggak pernah menganggur, kok malah mau ninggalin karir dan rejeki yang dibangun bertahun-tahun? Sombong banget apa, ngerasa bakal bisa segampang itu lagi dapat pekerjaan yang diinginkan? Apalagi umurku sekarang 29 tahun, bukan umur yang muda lagi untuk “coba-coba” dalam hal karir.

Fear of missing home. Walau tidak lahir di Jakarta, buatku Jakarta adalah hal yang paling terasa dekat dengan rumah. Hidup sendirian di sini sejak lulus SMA jauh dari keluarga 11 tahun yang lalu, ternyata Jakarta adalah titik nyaman buatku. To leave this place for such a long time, to wander around a strange land by myself, actually sounds scary.

Risking my financial stability. Resign dari pekerjaan, nggak punya penghasilan, malah menghabiskan tabungan. Untuk orang yang terbiasa menggantungkan hidup pada diri sendiri seperti aku, ketakutan bahwa aku nggak akan bisa menghidupi diriku sendiri itu berat banget. I don’t have anyone to rely on when it comes to providing for myself. Beneran. Not even my parents. I have been working hard to provide for myself since 7 years ago, and now all of the sudden, I stopped having monthly incomes. Perpaduan antara ego, rasa malu pada diri sendiri kalau aku gagal, dan tidak mau merepotkan orangtua yang juga sudah punya bebannya sendiri, bercampur jadi satu.

Am I going to be able to pick up where I left off? Pertanyaan ini juga sesekali mampir dan menciutkan nyali. Pergi nggak ya? Yakin nih mau nginggalin karir senyaman ini cuma buat traveling? Gimana kalo nanti setelah balik susah cari kerja? Gimana kalo nganggur lama?

Intinya, perjalanan ini adalah tentang keluar dari zona nyaman, demi mengikuti kata hati.

Aku mencoba mengenali diri sendiri dan semua ketakutan itu. Mencoba mencari solusi, dan menimbang-nimbang. Entah berapa kali menimbang-nimbang, sampai akhirnya memutuskan untuk pergi mengikuti kata hati.

Lebih detail mengenai seluruh persiapan perjalanan ini akan aku tulis di blog terpisah, tapi ini adalah beberapa hal yang aku pelajari dari berhenti bekerja demi traveling:

  1. I get to know myself more. I never thought that my career is such a huge part of my life, but it is. Dan ini nggak selamanya merupakan hal yang negatif. Aku sangat bersyukur dikasih kesempatan bekerja di bidang yang aku cintai selama bertahun-tahun, dan membangun karir di sini. I learned that it is not always a bad thing if your job is a big part of your life. I learned to be more grateful, to not take things for granted
  2. I learned to find balance. Walaupun karirku adalah salah satu bagian terbesar dalam hidupku, aku belajar untuk tidak membiarkan pekerjaanku membentuk hidupku. Aku harus bisa mengambil kendali. Untuk bisa mengatur keseimbangan antara mengikuti kata hati dan mengejar ambisi. Belajar untuk tidak menjadi egois, tapi juga belajar untuk terus bergantung pada diri sendiri. I love my job, but it is not who I fully am. I am what I choose to be. My mental health matters. My happiness matters
  3. I found my RESET button. Sejak bekerja di 2011, nggak pernah seharipun nggak mikirin kerjaan. Walau cuti dari kantor, seringkali tetap harus standby email untuk memonitor pekerjaan. Traveling 2,5 bulan setelah resign memberi aku waktu untuk tenang, diam, dan benar-benar menikmati semua detik

 

Untuk yang punya keinginan traveling lama dan sedang mempertimbangkan resign, ini beberapa hal yang bisa aku sarankan berdasarkan pengalamanku:

Pertama, menabung yang cukup. Cukup versiku kemarin adalah aku harus punya modal hidup minimal 3 bulan tanpa pekerjaan setelah aku selesai traveling. Jadi jumlah uang yang aku tabung kemarin cukup untuk membiayai hidupku selama traveling dan cukup membiayai hidupku kalau-kalau setelah pulang traveling aku belum bisa menemukan pekerjaan baru

Kedua, it is always good to have back ups. Kalau memungkinkan, sebelum resign cari pekerjaan di kantor lain dan atur jadwal interview. But be honest from the beginning (before the interview) that you are going away for quite some time. Nggak fair kalau user udah capek-capek buang waktu untuk ketemu interview dan kamu baru bilang bahwa kamu baru bisa bergabung beberapa bulan kemudian.

Terakhir, enjoy your trip because you deserve it.

 

I quit my job to travel.

And it was worth it.

 

Love,

Twelvi

Saya Meal Prep Untuk Menghemat Uang dan Hidup Lebih Sehat

Halo!

Jadi, setelah kemarin di artikel yang ini saya menulis tentang pengalaman menabung lebih dari 150 juta untuk traveling dengan memasak sendiri, kali ini saya mau bahas lebih lanjut mengenai meal prep.

Buat yang baru dengar, Meal Prep adalah teknik menyiapkan makanan dalam jumlah banyak, untuk beberapa kali makan atau beberapa hari sekaligus. Meal Prep diawali dengan belanja bahan makanan dalam jumlah besar, lalu masak dalam jumlah besar. Tujuan utama Meal Prep adalah menghemat uang, menghemat waktu, dan supaya bisa makan lebih sehat.

Ini bukan hal baru kok, jutaan orang di dunia meal prep untuk alasan kesehatan. Terutama buat para profesional di dunia olahraga atau orang yang ingin menjalankan diet khusus. Tapi memang meal prep sepertinya di Indonesia masih sangat jarang, karena pola pikir yang seringkali salah bahwa “makanan sehat adalah makanan yang baru dimasak hari itu dan dimakan hari itu juga” dan mitos bahwa “makanan beku itu tidak sehat, sudah hilang nutrisinya”.

Sebelum memutuskan untuk meal prep, saya berbulan-bulan membaca referensi dari luar, terutama dari para ahli gizi dan profesional di dunia olahraga. Saya belajar mengenai nutrisi makanan yang dibekukan/dimasukkan kulkas. Asal dilakukan dengan benar, Meal Prep itu sehat banget!

Tujuan utama saya saat memutuskan meal prep di Mei 2015 adalah untuk hidup sehat dan menabung. Sesederhana itu. And yes, meal prep worked out really well for me, health-wise and money-wise.

Meal Prep Seminggu

PENGEN COBA MEALPREP, TAPI MEMULAINYA GIMANA YA?

Yang paling penting, DO NOT OVERDO IT. Namanya juga perubahan gaya hidup, mulailah dengan langkah kecil supaya nggak kewalahan di awal. Misal, terbiasa makan di luar tiap lunch dan dinner. Nah coba pelan-pelan meal prep untuk bekal makan siang aja.

Atau, terbiasa makan tidak sehat. Jangan langsung punya pola pikir akan berubah EKSTRIM dan 100% mau makan sehat dalam 1 hari. Yang ada, kita bisa bosan dan berhenti di awal. Coba lunch-nya aja yang diusahakan sehat.

Untuk membentuk suatu kebiasaan, manusia butuh setidaknya 21 hari melakukan sesuatu berulangkali. Untuk menjadi gaya hidup, manusia butuh setidaknya komitmen 90 hari. So take a baby step, one week at a time.

 

Pilih SATU hari dalam seminggu yang akan didedikasikan untuk meal prep. Meal prep nggak butuh waktu 24 jam kok, tapi memang harus menyisihkan waktu 2-5 jam untuk belanja dan memasak. Biasanya, saya memilih hari Minggu. Paginya belanja ke pasar atau supermarket terdekat (sekitar 1 jam), lalu sorenya memasak (biasanya 1-3 jam tergantung jenis masakan)

 

Rencanakan menu. Bayangin aja, kira-kira makanan apa yang lagi dikangenin. Apa yang kepengen dimakan minggu depan. Ayam? Ikan? Sapi? Udang? Lalu mau dimasak seperti apa? Chinese Food? Mexican? Indonesian food? Serba BBQ?

Putuskan juga, mau meal prep untuk apa. Lunch? dinner? atau dua-duanya?

Biasakan mencatat, untuk mempermudah tahap selanjutnya.

 

Rencanakan daftar belanja. Setelah kebayang mau makan apa, cari resepnya, lalu tentukan kita mau menyiapkan berapa porsi. Lalu catat berapa banyak bahan makanan yang harus dibeli.

 

 

Siapkan Kotak Makanan. Supaya hemat, pilih yang bisa dipakai berkali-kali dan tahan microwave. Nggak mahal kok, saya biasanya beli online dengan harga Rp.2,000 sampai Rp.5,000 per buahnya, dan bisa dipakai berkali-kali

 

tw6

 

GIMANA CARANYA SUPAYA HEMAT WAKTU DAN TENAGA DI DAPUR?

Pertama, fokus pada menu simple. Jangan langsung gatel pengen nyobain menu kompleks yang butuh berjam-jam seperti rendang atau dendeng, apalagi yang butuh teknik ribet kaya Roasted Whole Chicken ala Gordon Ramsey. Yang simple aja dulu, tumis, pan grill, oven roast.

Kedua, belajar multitasking. Biar nggak pusing cuci piring pas udah selesai, saya biasanya mencicil mencuci sambil memasak. Jadi begitu selesai masak, yang perlu dicuci tinggal wajan dan beberapa peralatan.

 

Fish Tortila with Pineapple Salsa and Kale Salad
Fish Tortila with Pineapple Salsa and Kale Salad

 

 

Ini nih contoh rencana menu Meal Prep mingguan saya untuk pola makan sehat Clean Eating (Low Fat, High Protein, Healthy Carb, Fiber)contoh menu meal prep

Nah sesuai menu di atas, jadi daftar belanjaan saya adalah:

menu pic 2

Semua makanan di atas kurang lebih Rp.200.000 per minggu (harga pasar hari ini, 4 November 2017). Karena budget saya adalah Rp.250,000 per-minggu, kadang sisa uangnya akan saya belikan cemilan “mahal” yang sehat, misalnya almond mentah atau walnuts yang seperempat kilonya seharga 30-45rb. Atau saya kumpulkan sisanya, lalu di akhir bulan saya masih bisa beli bahan makanan mahal untuk menghadiahi diri saya, misalnya beli salmon, tuna, atau memanggang cheesecake sehat di rumah.

 

Hainanese Chicken Brown Rice
Hainanese Chicken Brown Rice

 

Pan Grilled Caribbean Chicken, Potatoes, Steamed Veggies
Pan Grilled Caribbean Chicken, Potatoes, Steamed Veggies

 

Sapi Giling Tumis Rendang, Kentang Rosemary Kukus, Wortel
Sapi Giling Tumis Rendang, Kentang Rosemary Kukus, Wortel

 

BAGAIMANA MENYIMPAN MAKANAN KALAU MELAKUKAN MEALPREP?

Kulkas dan Freezer adalah teman terbaik kita. Sayangnya, tanpa kulkas meal prep memang hampir tidak mungkin karena makan akan cepat rusak.

Cara terbaik untuk memastikan setiap makanan tetap segar adalah membagikan lunch dan dinner sesuai porsi sekali makan di kotak makanan terpisah yang tinggal dibawa ke kantor. Semakin sering dibuka-buka, makanan semakin mudah rusak. Jadi lebih baik dikemas, lalu ditutup, dan dibuka hanya untuk dihangatkan lalu dimakan.

tw8

Untuk sarapan, saya biasanya membuatnya segar di pagi hari. Untuk buah potong juga sama, jadi pagi hari saya akan potong buah untuk dibawa hari itu, lalu sisanya saya kembalikan ke kulkas. Ini akan membantu menjaga supaya buah nggak cepat lembek dan rusak.

Untuk makanan yang kering (serba pan-grill atau panggang di oven), makanan bisa bertahan sampai 6 hari di kulkas biasa kok, jadi nggak perlu ditaruh di freezer. Tipsnya adalah, setelah selesai dimasak, biarkan makanan dingin dulu sebelum dimasukkan ke kotak bekal dan ditutup. Makanan yang ditutup saat masih panas akan menghasilkan uap air. Uap air ini akan membuat makanan lembab di kulkas dan jadi cepat rusak.

Nah untuk makanan basah dan berkuah seperti kari, ayam kecap, atau rendang yang pakai santan, saya biasanya menyimpannya di freezer. Makanan yang disimpan di freezer bisa tahan sampai 5 minggu, lho! Akan tetap segar dan enak asalkan kemasannya tidak dibuka-buka atau tidak dikeluarkan dari freezer sampai saat akan dimakan.

Untuk menghangatkannya, saya keluarkan makanan beberapa jam dari kulkas sebelum dimakan, lalu memanfaatkan microwave kantor. Kalau sedang di rumah, saya kukus makanan tersebut atau dipanaskan di wajan seperti biasa.

 

Pan Grilled Chicken. Nasi Merah, Buncis Kukus, Apel
Pan Grilled Chicken, Nasi Merah, Buncis Kukus, Apel

 

MAKANAN DIBEKUKAN, KANDUNGAN NUTRISINYA RUSAK NGGAK? Justru kebalikannya. Membekukan makanan saat dalam kondisi terbaiknya, akan menjaga makanan tersebut tetap segar dan sehat sampai lama. Teknik ini namanya flash freeze, dan tanpa kita sadar sudah dilakukan umat manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Tapi harus diingat bahwa beberapa bahan makanan memang nggak cocok dibekukan karena justru akan merusak, misalnya cream cheese, whipped cream, telur rebus, tahu, yogurt, kentang mentah.

 

Pan Grilled Dory Fish, Sayuran Kukus
Pan Grilled Dory Fish, Sayuran Kukus

 

APA SAJA MAKANAN YANG BISA DISIMPAN DI FREEZER?

– Bumbu dapur segar (bawang, cabe, jahe, lengkuas, daun bawang potong, rempah-rempah)

– Buah dan sayur potong (kecuali pepaya, semangka, mentimun, alpukat)

– Roti, kulit Tortilla, adonan Pizza, dan olahan tepung lainnya

Pernah beli roti tawar satu bungkus tapi yang dimakan cuma beberapa lembar, terus sisanya terpaksa dibuang? Coba deh bekukan sisanya, keluarkan dan diamkan di suhu ruang saat akan dimakan. Roti yang dibekukan bisa bertahan sampai 1 bulan lebih lama dari tanggal kadaluarsanya, lho!

– Protein hewani mentah

Mulai dari daging, ayam, ikan, udang, dll, protein hewani mentah bisa bertahan sampai 6 bulan di freezer. Extra tips: Kalau lagi ke supermarket lalu ada promo daging murah, saya biasanya beli lalu simpan di freezer untuk digunakan di kemudian hari.

– Masakan apa saja

 

 

29 bulan sudah mealprep dan masak sendiri, saya bisa hidup lebih sehat, makan lebih teratur, dan menabung lebih dari 150 juta Rupiah untuk modal traveling selama 1,5 tahun belakangan. Jadi, kapan kamu mau mulai meal prep?

 

Love,

Twelvi

 

 

FAQ About Meal Prep:

  1. Meal Prep itu artinya makan sehat ya? SALAH. Meal Prep itu artinya teknik menyiapkan makanan sekaligus. Bukan jenis diet, bukan pola makan. Jadi apapun makanan yang kamu siapkan saat kamu Meal Prep, ya sah-sah aja disebut Meal Prep
  2. Meal Prep ngejamin bisa makan sehat? Meal Prep bisa bantu buat nurunin berat badan? Meal Prep bisa bikin aku jadi suka sayuran? Ini pertanyaannya aja udah salah kaprah banget. Meal Prep itu bukan jenis diet atau pola makan. Jadi kalo kamu Meal Prep tapi isinya nasi padang, fast food, atau mecin semua, ya sampe capek jungkir balik juga nggak akan bisa sehat/kurusan/suka sayuran. Balik lagi ke masing-masing orang, tergantung makanan apa yang kamu siapkan. Tapi meal prep BISA membantu pola makan sehat asalkan yang disiapkan juga menu sehat

SAYA MENABUNG LEBIH DARI 150 JUTA RUPIAH UNTUK TRAVELING HANYA DENGAN MEMASAK

Pertama kali saya menginjakkan kaki di Jakarta tahun 2006, saya tau ini adalah kota yang mahal.

 

Sebagai mahasiswi, saat itu saya harus bolak-balik Kalimalang – Depok untuk menempuh pendidikan jurusan Psikologi, dengan bekal Rp.1,450,000 per-bulan dari orangtua dengan rincian sebagai berikut:

Kost Petakan di daerah Kalimalang: Rp.450.000

Ongkos, Pulsa, Hiburan: Rp.400.000

Keperluan Kuliah (buku, fotokopi, dsb): Rp.200.000

Uang makan dan minum: Rp.400.000

 

Dengan Rp.400.000 perbulan, saya harus putar otak bagaimana caranya bisa bertahan hidup di kota yang biaya hidupnya 10x lebih mahal dibandingkan kota kecil tempat saya tumbuh. Untungnya, saya bisa dan suka memasak sejak kecil. Ya basic-lah, Goreng Tumis Kuah, nggak paham istilah kuliner dan teknik masak sama sekali.

Challenge-nya adalah, saya pencinta makanan. Saya lebih baik makan dengan porsi kecil tapi enak dan kaya rasa, ketimbang banyak tapi “sepi”. To me, food has to be the most enjoyable thing in your day. If you can’t enjoy every spoonful, then why bother eating it?

 

Sempat mikir, 400 ribu di Jakarta, dapat apa?

Ternyata, lumayan banyak. Dengan modal segitu, tiap bulan saya mampu makan nasi, mie instan, telur, teri, tahu tempe, sayur caisim, sayur buncis, sayur toge, sesekali ayam. Untuk asupan vitamin, saya masih mampu membeli pisang, jeruk, dan pepaya. Belanja di pasar tradisional, tentunya. Paling tidak, kebutuhan nutrisi dasar terpenuhi. Jadi mahasiswi 4 tahun, bisa dihitung pakai jari berapa kali saya belanja di supermarket.

Budget terbatas, tentunya bahan makanan juga terbatas. Yang nggak boleh terbatas adalah kreativitas. Karena “dipaksa” bertahan dengan budget minim, saya dilatih untuk lebih teliti. Nggak cuma soal harga, tapi juga soal menu. Saya dilatih untuk lebih fleksibel memadumadankan bahan makanan.

 

Lulus kuliah 2011, saya dapat first job. Sayapun 100% melepaskan diri dari uang pemberian orangtua walau gaji masih pas-pasan. Dengan 2,7 juta perbulan, saya harus membayar Rusun sewaan seharga 1,1 juta perbulan (kosongan, sudah termasuk listrik). Sisa 1,6 juta harus bisa saya kelola untuk transport, pulsa, makan, hiburan, tabungan emergency 15%, dan cicilan Spring Bed yang sebulannya 178rb x 20 bulan.

 

Saat itu, 600rb per-bulan saya sisihkan untuk grocery shopping. Lumayan, meningkat sedikit. Paling nggak, mampu makan ayam beberapa kali seminggu. Udah mampu juga beli tambahan anggur dan semangka beberapa kali sebulan. Sekali lagi, yang penting nutrisi terpenuhi, makanan enak dan tetap sehat.

 

Lalu pekerjaan membaik, gaji membaik. Dari 2,7 jadi 3,2 lalu jadi 3,5. Saya ingat di pertengan 2013 itu gaji saya sekitar 4 juta Rupiah. Dengan pola manajemen keuangan yang sama, 1 tahun menabung sayapun mampu traveling dengan modal 6juta. Bener-bener nggak nyangka.

 

Destinasi solo traveling pertama saya adalah Bangkok, Thailand. Saya masih ingat banget, harga tiket PP naik Tiger Air waktu itu 1,8juta. Untuk hotel 4 malam 2 juta. Sisanya benar-benar untuk makan dan belanja. Tapi saat itu saya belum sadar, bahwa MASAK SENDIRI adalah rahasia saya. Saya pikir ya karena faktor luck aja.

 

Kemudian, karir terus membaik, keuangan terus membaik. Sayapun terlena dan lupa diri. Sejak akhir 2013 sampai awal 2015, saya benar-benar khilaf. Bisa dihitung berapa kali saya memasak dalam satu bulan. Dikit-dikit, beli makan di luar. Dikit-dikit jajan. Dikit-dikit nongkrong di mall sama temen. Di Jakarta, menghabiskan 100-250rb dalam sehari hanya untuk makan minum itu ternyata gampang banget. Saya bisa mengabiskan 4-8 juta sebulan hanya untuk biaya makan minum!

 

Suatu hari saya tertampar, kok udah hampir 2 tahun saya nggak traveling lagi? Kok gaji makin besar tapi nggak punya tabungan? Dulu hidup jauh lebih berat masih bisa traveling. Apa yang salah?

 

Ternyata yang salah adalah perspektif saya. Saya lupa bahwa makanan memegang peranan penting, nggak cuma buat kesehatan tubuh, tapi juga ketenangan batin dan keuangan kita.

 

Lalu, saya merasa ada yang salah dengan batin saya. Saya pikir, dengan mampu makan enak dan nyaman di restoran dimanjakan oleh pelayan, saya sudah bahagia, sudah sukses. Ya gimana dong, sendirian merantau dari kota kecil dan orangtua PNS sederhana, ada kebanggaan semu karena saya MAMPU makan di restoran bagus. Dari kecil hidup sederhana tau-tau bisa makan enak, ada rasa lega di dalam. Mungkin karena bisa sok-sokan buktiin ke diri sendiri bahwa saya bisa hidup di Jakarta. Tapi ternyata saya kok nggak sebahagia itu?

 

Saya juga mulai merasa badan saya nggak terlalu sehat. Terlalu banyak jajan dan makan di luar, saya juga kehilangan kendali atas apa yang saya masukkan ke tubuh saya. Saya nggak tau sumbernya dari mana, cara bikinnya gimana, prosesnya seperti apa.

 

And then I asked myself. What is the ONE thing that I’ve been always dreaming of since I was a little girl?

The answer was: I want to travel the world. I want to see London, Paris, and most of all, New York City.

Rasa cinta saya pada mimpi masa kecil saya kemudian mengalahkan rasa bangga saya akan hidup foya-foya. My childhood dream beats everything else.

 

Awal 2015, saya memutuskan untuk berkomitmen. Mengubah gaya hidup, mengubah pola makan agar lebih sehat, dan mengubah manajemen keuangan demi mewujudkan impian masa kecil. At least, I owe myself to make it come true.

 

Sayapun kembali masak sendiri. Dan saya memilih untuk meal prep.

 

(Bagi yang baru dengar, Meal Prep adalah teknik menyiapkan makanan untuk beberapa hari sekaligus. Diawali dengan belanja bahan makanan dalam jumlah besar, lalu masak dalam jumlah besar. Tujuan utama Meal Prep adalah menghemat uang, menghemat waktu, dan supaya bisa makan lebih sehat. Nanti saya akan membuat tulisan terpisah mengenai Meal Prep dan bagaimana saya melakukannya)

 

Setelah melakukan hitung-hitungan dan cek harga bahan makanan di pasar tradisional dan supermarket, saya membatasi budget belanja saya menjadi 1 juta Rupiah perbulan. Dengan budget itu, saya mampu memberi makan diri saya sendiri, dan menyesuaikannya dengan pola makan sehat yang saya jalani.
Dengan 1 juta perbulan, saya sangat mampu beli makanan sehat dan “mewah”. Nggak percaya? Ini nih kira-kira bahan makanan yang saya konsumsi tiap hari:

Protein: Ayam, telur, sapi, babi, salmon, dory, kakap, udang

Sayuran: Brokoli, Buncis, Paprika, Wortel, Salad mix

Buah: Strawberry, Mangga, Kiwi, Alpukat, Anggur, bahkan seringkali buah impor seperti Cherry dan Blueberry

Lain-lain: Butter (bukan margarin yang lebih murah dan tidak sehat), Olive Oil (saya bahkan sudah berhenti pakai minyak goreng sawit karena alasan kesehatan)

Snacks: Keju, Almond, Macadamia Nuts

 

ALL THOSE WITH ONLY Rp.1,000,000 A MONTH

 

Apakah saya masih makan di luar? Tentu. Kehidupan sosial juga perlu dijaga. Tapi saya bisa membatasi, 500rb saja perbulannya. Untuk bulan-bulan spesial seperti momen Natal dan Ulangtahun, saya beri budget spesial sampai 750rb untuk menghadiahi diri saya sendiri.

 

Dengan memasak sendiri, saya mampu menghemat 4-8 juta Rupiah perbulannya dan sejauh ini sudah menabung biaya traveling hingga total lebih dari 150 juta Rupiah

 

Komitmen saya dimulai di Mei 2015.

November 2015, traktir dua adik saya jalan-jalan ke Singapore

Mei 2016, saya mampu traveling ke Korea

Desember 2016, Filipina

Januari 2017, liburan impulsif ke Singapore

Maret 2017, traktir orangtua liburan ke Kuala Lumpur

April 2017, Korea lagi

Mei 2017, Jepang

Juni 2017, United Kingdom (London dan Edinburgh, Scotland)

September 2017, Taiwan

Desember 2017 ini sayapun akhirnya akan ke New York City

Januari 2018 nanti, Paris

 

Dan sekarang dengan sangat bangga saya bisa bilang, bahwa semua itu saya beli dengan TUNAI, tanpa hutang.

 

Nggak cuma bisa menabung, menyiapkan makanan sendiri sudah membantu saya makan jauh lebih  sehat selama menjalaninya 29 bulan terakhir. Bonusnya banyak banget, kan?

 

“Saya nggak punya waktu” adalah kebohongan terbesar yang kita katakan pada diri kita sendiri. Saya bekerja setiap hari mulai jam 9 sampai 6, kadang 8 bahkan 10 malam. Saya bekerja nyaris setiap hari Sabtu, bahkan Minggu juga, karena ada event kantor yang harus di-handle. I don’t have time, I make time.

 

Gimana mengatasi rasa malas? Menurut saya, your goal has to be BIGGER than everything else. Kalau ada mimpi besar di depan, yang lain akan menjadi tidak penting.

 

Pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta, saya memasak sendiri karena HARUS bertahan hidup, karena tidak ada pilihan. Sekarang, saya memasak sendiri karena pilihan. Saya memilih mewujudkan mimpi saya.

 

Love,

Twelvi

 

 

10 MAKANAN YANG HARUS KAMU COBA DI TOKYO, JEPANG

Aku selalu percaya bahwa cara tercepat dan terbaik dalam belajar mengenai suatu kebudayaan adalah melalui apa yang masyarakatnya makan. Makanya kalau traveling kemanapun, aku selalu memilih makanan lokal ketimbang makan di chain restaurant yang menunya internasional. Ini nih 10 makanan yang harus kamu coba di Tokyo, Jepang, supaya liburan kamu makin penuh pengalaman.

 

#1: Shoyu Ramen

Dari segala jenis olahan ramen, Shoyu Ramen buatku adalah bentuk yang paling sederhana. Nggak muluk-muluk, cuma mi ramen yang disiram kuah berbumbu kecap asin, disajikan dengan irisan tipis daging, rebung, dan seaweed kering (nori). Ada kerendahan hati yang indah banget di semangkuk Shoyu Ramen. Kuahnya yang ringan tapi hangat dan asin ibarat pelukan ibu, tidak terlihat spesial, sering dilupakan, tapi sebenarnya mampu menghangatkan bahkan jiwa yang paling dingin sekalipun. Ahzeg.

Nggak cuma rasanya, harganya juga sederhana. Semangkuk Shoyu Ramen yang aku coba di salah satu restoran kecil di gang di Shinjuku ini (sayang aku nggak bisa baca namanya karena dalam huruf kanji dan bukan merupakan restoran populer) ini jauh melebihi ekspektasiku. Cuma 450 Yen atau sekitar Rp.45.000 aja tapi memorinya membekas di hati dan kepala sampai sekarang.

IMG_6611

 

#2: Tonkotsu Ramen, Ichiran Ramen Shop

Masih dalam golongan ramen-ramenan, satu lagi ramen yang wajib coba adalah Tonkotsu Ramen, atau ramen yang kuahnya terbuat dari tulang babi atau sapi yang direbus berjam-jam (bahkan berhari-hari) lamanya. Proses memasak yang ribet dan lama ini membuat kuah ramen terasa begitu pekat dan kaya, tapi tetap lembut menyusup ke tiap sela-sela indera pengecap kita. Nikmat banget, pokoknya. BANGET.

Nah salah satu ramen shop yang paling populer di Jepang adalah Ichiran Ramen. Cabangnya ada di berbagai tempat, jadi nggak perlu mengunjungi satu titik tertentu aja demi mencobanya. Ichiran ini disebut-sebut sebagai ramen paling enak di dunia, dan setelah nyobain langsung, aku dengan pasrah (dan perut kenyang) mengangguk setuju. I’ve tried so many tonkotsu ramen shops in Indonesia, Singapore, Taiwan, Korea, and Japan, and ICHIRAN is the best of them all.

IMG_6518

 

#3: Kibi Dango

Kibi Dango mungkin adalah jajanan Jepang paling tradisional yang bisa kalian temukan di Nakamise Shopping Street di area Asakusa Temple. Terbuat dari tepung millet dan tepung beras ketan, kibi dango teksturnya mirip mochi, tapi jauh lebih empuk dan kenyal. Biasanya ditusuk sate dan dibaluri tepung kacang kedelai panggang (kinako). Rasanya unik, nggak terlalu manis, nggak asin juga, malah menurutku ada sedikit bitter aftertaste. Tapi rasa nutty dari kinako membuat kibi dango terasa lembut dan nyaman banget di lidah. Lumayan adiktif!

Location: Asakusa Temple

IMG_6453

IMG_6451

IMG_6459

 

#4: Age Manju

Perpaduan antara mochi raksasa, bakpao, dan gorengan. Kira-kira kesan pertama age manju kayagitu. Bakpao kenyal berisi macam-macam (mulai daging sampai sayuran) yang dicelup adonan tepung cair lalu di-deep fry. Renyah di luar, kenyal menantang di tengah, dan juicy asin di tengah. Duh pokoknya party in your mouth!

Ada macam-macam varian dan rasa age manju, tapi yang paling spesial (dan seasonal) adalah yang rasa daun Sakura. Yup, daun bunga sakura yang diasinkan lalu dicampur dengan daging giling dibuat jadi isian age manju sebelum dicelup adonan tepung lalu digoreng hingga cokelat keemasan.

Location: Asakusa Temple

IMG_6468

 

 

#5: Menchi Katsu

Menchi Katsu mungkin nggak sepopuler makanan Jepang lain seperti ramen atau sushi, tapi ini wajib coba banget kalo kamu ke Jepang. Menchi Katsu adalah daging babi/sapi giling yang dicampur dengan bumbu-bumbu dan bawang bombay lalu dilapisi tepung panko (tepung tempura) kemudian digoreng hingga keemasan. Bagian luarnya yang renyah terasa kontras dengan bagian dalam yang juicy dan gurih banget. What a true delicacy!

Location: Asakusa Menchi, Asakusa Temple

IMG_6500

IMG_6504

 

#6: Senbei

Kraker beras yang dipanggang di atas bara api kecil dan diberi berbagai macam rasa ini benar-benar cemilan Jepang banget. Yang paling klasik adalah yang rasa kecap asin Jepang atau Shoyu. Sederhana banget, tapi adiktif. Ada juga rasa lain yang nggak kalah enak. Mulai dari Nori, BBQ, sampai Wasabi.

IMG_6465-min

IMG_6495

 

 

#7: Japanese Crepes

I LOVE LOVE LOVE Japanese dessert. You know why? Because they look so freaking cute! And they’re not overly sweet like american-style dessert. Pokoknya rasa manisnya pas banget. Nah salah satu yang wajib coba kalo lagi di Tokyo adalah sweet crepes kayagini. Rasa dan variannya juga beragam banget, mulai dari ice cream, whipped cream, buah, selai, sampai sepotong utuh cake! How crazy is that? Haha!

Where to eat: Santa Monica Crepes atau Marion Crepes, Harajuku

IMG_6659

IMG_6654

 

#8: Japanese Curry

Nasi kari ala Jepang memang mungkin bukan hal baru, terutama buat kamu yang tinggal di Jakarta, mungkin udah pernah nyobain Coco Curry. But trust me when I say, Coco Curry di Tokyo beda banget sama yang di Jakarta. Nggak cuma soal pilihan menunya yang lebih bervariasi, tapi rasa kuah kari dan kualitas daging yang dipakai juga beda banget. Degan harga Rp.85.000 per porsi, kamu bisa dapat 1 porsi curry rice yang berisi nasi + katsu + kuah kari. Pilihan dagingnya macam-macam, mulai dari babi, sapi, ayam, sampai udang. Kuah karinya juga bisa dipilih, ada yang terbuat dari babi, sapi, dan ada juga vegetarian.

IMG_6619-min

20170527_095722 (1)

 

#9: Gyudon

Salah satu rice dish paling simple (dan paling aman, karena selalu enak) di Jepang adalah Gyudon atau beef rice bowl. Biasanya beef yakiniku disajikan di atas nasi putih hangat dan ditemani semangkuk sup sapi dengan bumbu miso yang ringan. Enak banget. Dan biasanya murah, sekitar 400 Yen atau Rp.40.000 untuk 1 set Gyudon.

How to eat Gyudon like a local: Pesan telur mentah sebagai side dish, pecahkan, aduk, dan siram di atas Gyudon sebelum dimakan. YUM!

Where to eat: Sukiya, Yoshinoya

IMG_6551

 

#10: Kushi Katsu

Kushikatsu ini makanan goreng-gorengan yang isinya bisa macam-macam, mulai dari asparagus, jamur, akar teratai, sosis, keju, ayam, beef, atau pork. Harganya juga murah, mulai 100 Yen pertusuk. Karena made by order, jadinya makanan datang ke meja kita masih segar dan crunchy. Kita bisa pilih apa yang kita mau. Setelah matang, bakal disajikan di ‘nampan’ khusus dengan saringan untuk menampung minyak. Makan Kushikatsu ada cara dan etiketnya sendiri, lho. Lihat mangkuk besar berisi semacam saus hitam itu? Kushikatsu dicelup di saus itu sebelum dimakan.

Tapi, NO DOUBLE DIPPING. Jadi Kushikatsu yang udah digigit nggak boleh dicelupin lagi ke saus. Kalau rasanya kurang, kita bisa ambil lembaran kol yang disediakan, celup ke saus, lalu balurkan sausnya di Kushikatsu yang udah kita makan. Kolnya juga dimakan, jadi kaya lalapan. .
ENAK. BANGET. Sausnya gurih dan agak asam, jadi rasanya menetralisir gorengan. Rasanya nggak bosen-bosen.

IMG_6722-min

IMG_6718

IMG_6717

 

So that’s my version of 10 Things To Eat in Japan. Gimana, udah siap untuk makan-makan di Jepang?

 

 

 

JAPAN TRIP 2017 PART 2 – TSUKIJI FISH MARKET, AKIHABARA, HARAJUKU, SHIBUYA, GINZA

 

Untuk kunjungan pertama, ternyata seminggu di Tokyo rasanya nggak cukup. Ini di luar ekspektasi, karena awalnya aku malah berencana hanya 3 hari di Tokyo dan 3 hari di Osaka. Yup, Tokyo ternyata semenyenangkan itu.

Selain Asakusa dan Ichiran Ramen yang udah sempat aku bahas di post yang iniberikut ini adalah tempat-tempat lain yang aku kunjungi selagi di Tokyo, Jepang.

 

 

Tsukiji Fish Market

Pasar ikan yang merupakan salah satu yang terbesar di dunia ini adalah salah satu tempat wajib kunjung kalau kamu ke Tokyo. Nggak perlu bergidik jijik dulu ngebayangin pasar ikan yang bau amis dan jorok, karena Tsukiji ini bersih, rapi, dan sangat dirawat.

Di Tsukiji, ada banyak kegiatan yang bisa kamu lakukan selain cuma sightseeing dan people watching. Salah satunya yang paling populer adalah makan. Jajan street food Jepang sepuas-puasnya, terutama yang berbahan dasar seafood. Mulai dari sashimi, sushi, oyster, sampai scallop bakar tersegar yang baru dibawa nelayan di pagi hari, semua dijual dengan harga terjangkau dengan kualitas paling tinggi.

Tips untuk kamu yang mau berkunjung ke Tsukiji, datanglah sebelum jam 11 siang. Karena pagi hari adalah waktu terbaik untuk mendapatkan ikan dan seafood paling segar. Buat kamu penggila sushi dan sashimi, di Tsukiji ada restoran sushi yang terkenal banget bernama Sushidai. Dari luar, nggak ada yang spesial dari restoran ini. Tempatnya kecil dan sederhana, tempat duduk untuk tamu juga hanya tersedia beberapa. Tapi setiap hari mulai dari jam 2 pagi, puluhan pembeli akan antri di depan Sushidai hanya untuk menikmati sushi dan sashimi terbaik di Tokyo. Sushidai sangat terkenal baik di antara turis maupun lokal karena mereka hanya menjual hasil tangkapan terbaik dan tersegar setiap hari, jadi nggak heran kalau menunya tiap hari berubah-ubah.

Buat kamu yang nggak niat antri panjang atau nggak terlalu suka sushi dan sashimi, nggak usah takut akan kelaparan. Mulai dari ramen, grilled seafood, sampai tamagoyaki (telur gulung ala Jepang) bisa dengan mudah kamu temui di Tsukiji. Harga street foodnya dimulai hanya dari 100 Yen atau Rp.10,000 aja, lho! 20170526_105227

IMG_6579

IMG_6583

IMG_6592

 

 

Akihabara

Sensory overload. Itu kesan kuat yang aku dapat dari Akihabara. Daerah yang warna-warni dan penuh dengan berbagai macam sensasi. Buat kalian yang suka anime, games Jepang, dan girl band asal Jepang seperti AKB48, kalian pasti akan suka banget Akihabara. Dipenuhi tempat video games, maid cafe, dan toko-toko yang menjual kostum/merchandise anime, Akihabara seolah tempat yang nggak pernah istirahat. Selalu ramai, selalu dinamis. Aku nggak begitu suka anime dan nggak begitu paham games Jepang, tapi ternyata Akihabara sangat enjoyable.

IMG_6755-min

IMG_6766-min

IMG_6768-min

IMG_6780-min

 

Harajuku

The shopping mecca of Tokyo. Juga pusatnya fashion dan trend cosplay di Jepang. Harajuku udah jadi tempat nongkrong anak muda Jepang sejak dulu, dan sampai sekarang tempat ini masih belum kehilangan pesonanya. Barisan toko pakaian (mulai dari pakaian reguler sampai kostum super heboh), semua ada di Harajuku. Jangan heran kalo kamu akan berpapasan dengan anak-anak muda Jepang dengan dandanan dan kostum keren dan warna-warni, seolah baru keluar dari anime atau komik fantasi. Nggak cuma cosplay, Harajuku juga terkenal akan street food-nya, terutama Crepes jepang yang lucu-lucu dan enak-enak. Wajib kunjung banget, pokoknya!

IMG_6626-min

IMG_6637

IMG_6666

IMG_6640

IMG_6647

IMG_6651

 

Shibuya

The world’s busiest crossing. Nggak kenal pagi ataupun malam, penyebrangan di Shibuya ini selalu dipadati manusia. Segitu rame dan padatnya sampai terkenal ke seluruh dunia dan jadi atraksi wisata sendiri. Nggak heran sih, karena begitu lampu hijau berganti lampu merah, ratusan bahkan ribuan manusia saling menyebrangi jalan hingga hampir ke 8 arah sekaligus. It was fascinating to witness it myself!

Selain penyebrangannya, Shibuya juga terkenal akan patung Hachiko, anjing paling setia di dunia yang ceritanya udah menyebar dan jadi legenda Jepang sejak puluhan tahun yang lalu. Kalau mampir kesini, kalian akan melihat sendiri ramenya orang yang ingin foto bareng patung Hachiko. As a dog lover myself, visiting Hachiko statue was obviously in my list. Dogs are the only thing in the world that loves you more than they love themselves. And Hachiko statue is there to tell us the story of love and loyalty.

IMG_6683-min

IMG_6686-min

IMG_6685-min

IMG_6690-min

IMG_6693-min

IMG_6681-min

 

Ginza

High-end shopping and luxury dining. Tempat yang jadi pusatnya toko, restoran, dan butik mahal yang terkesan menakutkan untuk bugdet-savvy traveler ini sebenarnya cukup ramah untuk semua orang, kok. Khususnya kalau kita berkunjung di hari Minggu pagi. Biasanya, jalan-jalan utama di Ginza akan ditutup untuk kendaraan dan dibuka untuk pejalan kaki saja. Jadi semacam mini car free day gitu. Menyenangkan banget, walau cuma duduk-duduk dan peopole watching sambil ngemil makanan yang dibeli dari seven eleven terdekat. Di tengah jalanan yang ditutup bahkan disediakan bangku-bangku dan payung raksasa supaya kita bisa piknik singkat di tengah kemegahan Ginza. It was so lovely!

IMG_6736-min

IMG_6735-min

 

Shinjuku

Street food, shopping, shopping, and more shopping. Itu kegiatan favoritku kalau traveling. Jadi nggak heran kalau Shinjuku juga jadi tempat favoritku di Tokyo. Favorit banget sampai aku datangin dua kali dalam kunjungan 6 hari di Tokyo haha. Restoran, ramen shop, dan cafe dengan makanan terenak di Tokyo biasanya terpusat di Shinjuku. Soal shopping, nggak usah kuatir. Mulai dari 100 Yen Store (toko serba diskon yang harganya serba 100 Yen) sampai butik-butik branded, semua ada di Shinjuku. There’s a little bit of everything for everyone. What’s not to love about Shinjuku! Ramen Ichiran, ramen paling enak di dunia (menurutku) juga ada cabangnya di Shinjuku. Ini cabang Ichiran paling rame sih, so expect to wait in line up to 1 hour at lunch or dinner time.

Buat foodie, jangan lupa mampir juga di food courtnya Isetan Department Store. Semua makanannya enak-enak!

20170526_141313-min

20170526_141346-min

20170526_155205-min

20170526_144839-min

 

Do Secretly Wish, But Don’t Expect

 


bunga

 

You arrived in this new strange land, with no expectation for the time you’re going to spend there, except that knowing you would love it. Because you love to travel. You travel with your heart and mind open for any possibilities, and that was it.

 

2017-07-14-21-05-25-577

 

And then you met this stranger. You talked, and talked, and stared into each other’s eyes. And before you know it, time has passed. And it scared you how much you two have in common. Your love for the animals, the ocean, the sand. Your dislikes for corrupt government, people who kill each other in the name of religion, people who threw cans at the beach and killed the whales. Your love for weird beautiful things. Your passion for life itself. And that both of you have huge crazy dreams.

 

All it took was two dates and you knew almost everything about his life. His sister’s name, his cat’s name and it’s weird habits, his cousin’s cars, his buddy’s name and stories, his family tree. And suddenly, it felt real. Before you know it, you scored yourself a possibly once in a lifetime romance that is amazing. You wondered, then you asked each other, “Where were you my whole life? Where did you come from?” because this may sound stupid, but you don’t get to feel that way for a stranger everyday. And you know both of you felt the same way, because you could see it in each other’s eyes.

 

You love how his eyes sparkled every time you two talked about your crazy stupid dreams. About making the world a better place, one step at a time. About weird things that you believe in, that most people will find stupid but you love it anyway.

 

And most importantly, you loved the way he looked at you. The way he smiled and leaned whenever he wanted to kiss you. The way he smelled. The way your fingers intertwined as if they were made for each other. The way he put his arms around you and called you beautiful in front of other people, as if he was the luckiest person on earth and he would never let go. The way he made you feel like you’re the luckiest person on earth.

 

Then you made a lifetime’s worth of memories in two weeks. Because the first time you saw the way he looked at you, you knew that somehow, this amazing feeling in your chest, whatever it was, possibly would end. One of you (if not both of you) would have to pull the break and snap both of you out of reality, sooner or later.  You would be back home, and you would be halfway across the world from each other. You have made so many plans laid out in front of you, and he made plans for his life too. And meeting each other was never in any of those well made plans.

20170625170416_IMG_7945

That’s why you didn’t have any expectation. You did secretly wish, but you didn’t expect.

 

Because even if you know that the best thing happens when you least expect it, you also know that some people were made to come into your life for brief moments just to leave you a lifetime’s worth of memories. Because you believe that when two people are destined to meet each other, they will touch each other’s life in a way that no one else will, and it doesn’t matter if it only lasted a week or the rest of your life.

 

Because when he looked into your eyes, he made you believe that you are beautiful. When he held you in his arms, he made you feel safe and you felt that your crazy dreams are not so crazy after all. You always believed in yourself, but he made you feel like he believes in you too. And that is a beautiful thing.

 

He was one of the best things that happen in your life.  And it was painfully beautiful. It still is, even after you’re finally home and weeks have passed. Even if your heart aches, time to time from excruciatingly missing him, you restrain yourself from reaching out to your phone and text him. Because deep down you know that you should move on. And if it’s meant to be, you will find each other again.

 

The saddest part of this kind of story, is that most of the times, the ones that we happened to have the strongest feelings towards, is the ones that we know we will not spend the rest of our lives with.

 

To M,

With utmost respect and love.

Let Them Stare

Minggu, 9 Juli 2017.

Hari ini pertama kali pake baju seperti ini pas jalan ke mall di Jakarta.

 

20170709130937_IMG_8240

 

Baju-baju yang agak “showing” biasanya memang aku cuma pake di luar negeri. Cold shoulder, sabrina, criss cross detail, laces, rok di atas lutut, dsb. Karena nggak pede pakai di sini.

Tau  kenapa nggak pede? Karena di sini orang nggak terbiasa melihat cewek plus size yang dandan cantik, pake baju lucu-lucu. So they stare. A LOT.

Di luar negeri, berdasarkan pengalamanku traveling selama ini, people will NOT stare. And even if they do, it’s a complimentary kind of stare. Kadang malah bukan cuma disenyumin aja. I’ve had strangers came to me and told me nice things like “You look lovely”, or “I love your skirt”, or “Your skin is amazing”, or “You look beautiful, love your dress!”. 

Di sini, selama ini, yang didapat justru kebalikannya. It’s the “ih yaudah sih udah gendut pakenya kaos oblong ama celana panjang aja” kind of stare. And I’m not saying that ALL Indonesians are like that, but trust me, sebagai perempuan yang udah plus size sejak kecil, aku udah terbiasa membedakan tatapan pujian vs tatapan mencela.

When I was in college, that kind of stare affected me real bad. 

Aku dari kecil memang cenderung girly. I love colorful patterns, makeup, shoes, sparkly things. Tapi tumbuh sebagai perempuan plus size di negara yang kebanyakan perempuannya bertubuh mungil, aku selalu sulit mengekspresikan diriku melalui penampilan. Well, pertama karena keterbatasan pakaian/sepatu yang berukuran besar, kedua karena bahkan kalau ada pakaian/sepatu lucu yang muat, orang ngeliatin terheran-heran.

Akhirnya, waktu kuliah aku selalu pake baju yang “aman”. Kemeja atau kaos hitam atau putih, celana jeans, sneakers. Kalau perlu keluar rumah nggak usah dandan. I tried so hard not to draw unnecessary attention to myself.

Sering banget kan denger orang kita kalo becanda bilang, “Ya kalo betisnya kecil sih gapapa pake rok selutut. Lah ini betis kaya talas Bogor”

Atau, becanda ngeledek orang yang pake baju lengan buntung, “Buset itu lengan atau pukulan kasti?”

Bahkan beberapa teman mainku sempat mencela orang lain seperti itu.

Aku nggak pernah menerima celaan seperti itu secara langsung, tapi aku cukup sadar bahwa ada kemungkinan besar orang pernah bilang begitu, behind my back. Jadi aku selalu takut.

But then, I took some time to look at the ones that are being mocked. And I didn’t find anything wrong with them. In fact, they looked beautiful. I realized one thing, people are being mocked, and judged, and stared at, no matter what size or body shape they have.

People can be mean sometimes.

Yang kurus, diliatin karena terlalu kurus. Yang dadanya besar, diliatin dan dibecandain, apapun baju yang dipakai. Yang bokongnya besar, pake celana atau rok model apapun tetap dijadiin bahan ketawa. Yang gendut, pake baju apapun tetap akan diliatin.

And then it hits me. Bukan bentuk badan atau pakaian kita yang salah. Mentalnya orang-orang yang ngeliatin/becandain itu yang salah.

Iya, aku perempuan plus size. And it is possible that as long as I live, people will stare at me anyway. Terus kenapa aku harus berkorban untuk nggak dandan cantik, pake baju warna-warni, dan rok di atas lutut? Akhirnya pas kuliah semester akhir mulai berani berekspresi. Pake rok selutut dan di atas lutut yang mengekspos betis yang nggak seramping betis model, pakai sepatu lucu-lucu walaupun nomernya bukan 37 atau 38, pakai makeup, merawat diri,  pakai baju bermotif. Bahkan motif garis-garis sekalipun.

 

Tapi memang sampai kemarin ini aku belum terlalu berani pake baju yang flirty, yang “showing” atau agak ketat. Atau motif yang terlalu berwarna. Progressnya pelan, tapi pasti.

If you’re not a plus size person, you probably wont understand when I say this, but honestly, I’m sad that I only have low self-esteem when I’m here. Setiap kali aku traveling ke luar negeri, I feel beautiful. Aku ngerasa lebih pede, lebih bebas berekspresi. Tapi begitu balik ke sini, rasa pedenya itu seringkali menurun drastis.

Kemarin di London aku beli baju yang lucu-lucu. Tapi pas unpacking, sempet sedih dan terlintas “omg I’m never gonna wear these here”.  And that is heartbreaking.

Biasanya aku begitu. Traveling – beli baju lucu – nggak pernah dipake di sini – numpuk di lemari – pakai lagi kalau lagi traveling. Just because I was afraid people here will stare.

But then I’ve decided, this has to stop. Starting today, I will wear whatever clothes that brings me joy. I will feel beautiful. 

Because you know what?  People will stare anyway. So why not give them your best appearance. The one that makes you happy. 

People will stare anyway. So why would I give up my love of colorful patterns and swaying skirt dresses and only wear sad black oversized T-shirt instead?

No. I refuse to look sad and miserable just because I’m afraid of what people might say. If they want to stare, let them stare. I choose to feel beautiful.

 

Kalau kalian sedang mengalami hal yang sama, let’s do this together.

One day at a time, guys. Starting today we will feel beautiful every day.

 

with love,

Twelvi

Hostel Bertema Cabin Pesawat di Jepang

Sebagai orang yang suka traveling dan nggak mau menderita banget saat melancong (tapi juga nggak mampu kalau harus tiap hari menginap di hotel bintang lima), I always consider myself as a flashpacker. Kalau kalian tau istilah backpacker sebagai orang yang melakukan perjalanan dengan budget seminimal mungkin, flashpacker memadukan antara hemat dengan nyaman.

Itu juga yang membuat Hostel selalu jadi pilihan terbaik buatku saat traveling. Selain murah, Hostel juga memberikan kesempatan untuk jadi lebih berani bersosialisasi dengan strangers, berkenalan dengan teman-teman baru yang (tentunya) punya kesamaan dengan kita, yaitu traveling.

Awalnya mulai solo traveling sekitar 2012, I wasn’t a big fan of hostel. Karena dulu itu aku tipe orang yang kalau kenalan dengan orang baru, cenderung pemalu dan tertutup. Akhirnya selalu milih tinggal di hotel. Tapi lama kelamaan, penasaran juga dengan Hostel, dan sekarang malah ketagihan.

Hostel juga macem-macem konsepnya lho, dan nggak se-“ghetto” yang dipikirin orang-orang kok.

Di Jepang kemarin, aku coba Hostel dengan tema yang unik; First class cabin di pesawat. Namanya “First Cabin Hostel”. First Cabin ini cabangnya banyak di Tokyo dan Osaka, jadi nggak bakalan susah nemunya. Salah satu cabangnya ada di dalam Haneda Airport, pas banget buat yang nyampe di Haneda sekitar midnight.

Karena tiba di Jepang jam 11 malam, aku memutuskan menginap 1 malam di First Cabin Haneda. Untuk menuju hostel, cukup naik shuttle bus gratis dari terminal kedatangan, menuju Haneda Domestic Terminal. Naik eskalator 1 lantai, dan langsung ketemu deh hostelnya. Saking senangnya sama hostel ini, 3 malam terakhir di Tokyo, aku juga menginap di First Cabin, tapi yang di Akasaka.

Seperti namanya, First Cabin Hostel ini temanya adalah First Class Cabin di pesawat. Bahkan resepsionisnya juga seragamnya mirip pramugari dan pramugara pesawat! Capsule bed dengan atap yang tinggi membuat kita leluasa, nggak ngerasa sesak seperti di capsule hotel ala Jepang pada umumnya. Ada tirai penutup di tiap bed untuk privacy, TV 21 inch di dalam tiap cabin, headphone, colokan, ear plugs, dan laci yang dilengkapi kunci untuk menaruh barang berharga.

firstcab

Capsule bed

Snapshot_5

Hallway menuju capsule beds

Snapshot_6

Amenities: Piyama, headphone, handuk 1 set, sikat gigi, charger adaptor, ear plug

Snapshot_7

Kunci laci capsule bed

 

Snapshot_8

Laci capsule bed untuk menyimpan barang berharga

 

Harga per-kapsul per-malam adalah 500-550rb Rupiah. Ini sudah termasuk 1 set piyama untuk baju ganti, sikat gigi, pasta gigi, handuk besar, handuk kecil, handuk mandi untuk scrub badan, dan dipinjamkan juga adaptor charger serta kunci sepeda (rantai sepeda) untuk mengunci koper kita di kamarSaat check-in, kita akan diberikan kartu akses dan kunci untuk laci di tempat tidur kita. Di tiap dorm room disediakan beberapa bilik toilet, tapi untuk kegiatan seperti mandi dan laundry, letaknya di lantai yang berbeda.

20170526_175652

20170526_175659

Fasilitas pendukung lain:

  • Common Room yang luas dan dilengkapi beberapa buah vending machine untuk minuman, snack, es krim, bahkan minuman panas
  • SPA AIR PANAS. Yup. Di dalam shower room, ada ruangan yang namanya Sento, atau public bath house ala Jepang. Isinya adalah kolam air panas untuk berendam. Cocok banget buat yang badannya pegel-pegel habis jalan jauh. Tapi inget ya, untuk mandi di Sento, kamu harus terlebih dahulu mandi di shower menggunakan sabun, membilas diri, baru masuk ke kolam. Dan harus telanjang bulat. Nggak boleh pakai sehelai benangpun. Tenang, shower room perempuan dan laki-laki dipisah kok.

20170526_175709 (1)

20170526_175720 (2)

Okay, enough with the facilities, now on to my personal reviews.

First Cabin Hostel is the best hostel I’ve ever been to, so far. Pertama, atap capsule bed yang tinggi bikin tempat tidurnya lega banget, bisa duduk, berdiri, loncat-loncat, jungkir balik, salto, pokoknya lega. Kedua, shower room-nya paling keren sepanjang sejarah kehidupan perhostelan yang pernah aku alami. Tersedia toilettries lengkap mulai hand wash, soap, shampoo, conditioner, sampai cleansing oil, face moisturizer, dan body lotion, yang semuanya SHISEIDO. Sumpah. Shiseido. Hahahah.

20170526_175633

20170526_175646

20170526_175639

Tersedia juga cotton bud, kapas makeup, sisir dalam sachet (yup. Jadi tiap orang boleh ambil sepuasnya kaya permen), hair dryer, hair straightener (catokan), dan curling iron segala! Udah gitu, air kerannya bisa diminum loh, lumayan banget kan buat hemat uang jajan.

Kalau kamu tertarik, bisa booking online melalui websitenya http://www.first-cabin.jp dan bayar langsung saat check in. Jadi nggak perlu kartu kredit.

Highly recommended!