Makhluk Langka Dalam Kopaja

Entry ini saya tulis dari kantor. Diketik mulai pukul lima sore lewat sepuluh menit. Entah pukul berapa nanti entry ini selesai ditulis, ya semua tergantung keadaan. Maksudnya, apakah saya akan ke toilet atau tidak, apakah mendadak ada tugas dari bos atau tidak. Begitulah. 

Saya mengetik dalam keadaan masih separuh ngos-ngosan. Bukan, saya tidak bekerja sebagai kuli sampai harus keringatan. Saya juga tidak mengetik sambil menggowes becak. Atau mendorong gerobak. Atau habis bergelut dengan pacar. Eh, yang terakhir, anak kecil dilarang nanya artinya ke teman sebaya, apalagi sampai beli DVD praktiknya.

Lah, makin jauh.

Oke. Kembali ke topik. Kenapa saya ngos-ngosan?

Jadi begini, saya baru saja tiba di kantor, setelah pukul satu siang tadi ijin sebentar untuk ke kampus. Beginilah resiko orang yang baru lulus kuliah. Walaupun sudah dua bulan wisuda (ciyeeee akhirnya gue udah sarjana), masih ada yang harus diurus di kampus.

Jarak kantor – kampus yang cukup jauh (Kebayoran – Depok) memaksa saya duduk selama satu hingga satu setengah jam di dalam Kopaja 63 jurusan Depok – Blok M. Panas, macet, dan ugal-ugalan. Tapi bukan, bukan itu alasan saya ngos-ngosan.

Waktu saya di dalam perjalanan mau kembali ke kantor, saya melihat cowok ganteng.

Tunggu, berhubung makhluk begini jarang sekali ditemui di dalam Kopaja, saya mau menebalkan kalimat ini. Cowok ganteng!

Iya, cowok ganteng yang –yaampundemiapalo– tipe cowok favorit saya banget. Perawakan yang tinggi, umur diperkirakan berkisar 30an, lengan yang besar, proper facial hair. Si makhluk langka ini memakai kaus abu-abu dan celana jeans, berdiri menyandarkan pinggangnya di bangku di depan saya.

DAN DEMI APA LO, GUE NGELIATIN DIA UDAH KAYA ANAK KECIL NGELIATIN PERMEN!

MAUUUU~

Gosh. Tanpa saya sadari ada sesuatu yang bergetar di atas paha. Astaga, iya emang ini hari pertama dapet, dan tau sendiri cewek lagi dapet itu gabungan antara galak, galau, dan haus belaian, tapi nggak mungkin dong gue segini excited-nya  sampe orga…

“Kak, nanti tolong isiin pulsa modemku dong 50ribu aja.”

Ternyata getaran itu berasal dari HP di dalam tas yang saya pangku di atas paha. SMS dari adek saya.

…………………. *lega*

Iya, si cowok ini emang enak banget dilihat. Dengan cepat saya lemparkan pandangan saya ke jari-jarinya. YES! Nggak ada cincin. Hati makin berdebar. Beberapa kali tanpa sengaja pandangan kami saling bertabrakan, bertahan beberapa detik lalu selesai.

Dia malu, saya mau.

Beberapa menit kemudian, dua orang yang duduk di di sebelah kanan saya turun dari Kopaja.

Saya pikir, “Asyik, si ganteng bakal duduk di sebelah gue. Pindah nggak ya..”

Oke, itu bohong, emang nggak sampe segitu niatnya, tapi paling enggak, saya bisa memandangi dia lebih dekat.

Saya udah membayangkan skenario asik di mana ketika dia sudah duduk di sebelah saya, saya bisa memanfaatkan Kopaja yang ugal-ugalan untuk pura-pura menjatuhkan diri ke arahnya.

Oke, itu juga bohong. Tapi intinya saya seneng. Jangan banyak protes deh!

Tapi, begitu dia berjalan ke arah saya, dia mengajak seorang perempuan yang tadi duduk di bangku tempatnya bersandar. Saya lihat wanita itu. Perkiraan saya, usianya sekitar 45an, bahkan sepertinya hampir 50an. Senada dengan bajunya, wanita itu memakai wajah yang ibu-ibu banget. Eh, kebalik.

Saya pikir, ah mungkin ibunya. Awww, udah ganteng, sayang ibu pula. Saya makin bergetar. Hatinya, bukan yang lain.

Tapi ada yang aneh. DIA MENGGENGGAM TANGAN PEREMPUAN ITU!

Bok, gue emang romantis, tapi nggak bego-bego amat. Caranya menggenggam tangan perempuan itu nggak seperti anak menggenggam tangan ibu. Dan caranya mengusap rambut perempuan itu… lebih seperti…….. pacar.

JRENG.

Saya jelajahi perlahan-lahan wajah dan penampilan perempuan itu.

Gini, badan saya mungkin emang nggak setipis Paris Hilton, dan dada saya mungkin emang nggak se-Farah Quinn, tapi kayanya soal penampilan dan muka, saya masih lebih juara deh dari si ibu itu.

“Nggak boleh gitu…” saya tampar pikiran saya berulang kali.  “Mungkin dia emang cinta…”

Oke. Di atas Kopaja yang enjot-enjotan *bahasa apa ini?* saya mencoba duduk bersila, menutup mata dan bertapa seraya memperagakan ilmu meringankan tubuh.

Tapi gagal.

Boro-boro melipat kaki, Kopaja penuh gitu, gerak aja susah.

Lagian saya juga nggak bisa ilmu meringankan tubuh. Lah kalo bisa sih saya nggak perlu musuhan sama timbangan. *nangis*

Saya mencoba berpikir positif. Melihat lurus ke depan tanpa harus melirik ke arah mereka yang sedang berpengangan dan mengusap tangan. Tiap kali nggak sengaja melihat mereka, saya menyanyi dalam hati.

“Hanya cinta… yang bisa…”

Berulangkali. Di bagian yang itu-itu saja.

Sampai bapak yang duduk di sebelah saya melihat saya dengan muka heran.

Mungkin memang cinta. Berulangkali saya meyakinkan diri saya sendiri.

Beberapa menit kemudian, Kopaja memasuki wilayah Kemang yang macetnya ampun-ampunan. Antara nggak tahan sumpek atau nggak tahan menerima kenyataan si ganteng lebih memilih ibu tua itu, sayapun turun dari Kopaja. Padahal masih separuh perjalanan.

Saya berjalan cepat mendahului barisan kendaraan yang terjebak macet. Bak bintang video klip yang berjalan diiringi tiupan angin dan musik mellow, saya menapaki sepanjang jalan Ampera dengan hati hancur.

Sampai akhirnya saya menghentikan bajaj yang lewat, lalu melanjutkan menerima kenyataan pahit ini di dalamnya. Abangnya cuma ngeliatin saya sambil ngupil. Saya depresi.

Mulut saya perlahan menyanyikan lagunya ST12 yang secara ajaib terlintas di kepala. Terimakasih kepada mas-mas pengamen ibukota.

“Putuskanlah saja pacarmu… lalu bilang I LOVE U… padaku…”


Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *