Sepucuk Surat Untuk Kuburan Dalam Hati

Aku masih ingat betul apa yang kutulis di buku harianku, di satu sore ketika logika memerintahkanku untuk membencimu.
Seandainya, jika setahun yang lalu aku masuk mesin waktu dan muncul di hari ini, pasti aku akan bingung sekali. Keadaan begitu cepat berbalik arah. Kemarin begitu. Sekarang begini

Semua terlalu cepat. Terlalu cepat. Terasa seperti mimpi. Aku sendiri tidak pasti dengan semua sensasi yang aku alami. Sungguh, terlalu cepat. Perjalanan hidup yang tidak terduga. Denganmu, bumi berputar lebih cepat, waktu berlalu begitu singkat. Otakku tak mampu mengikuti ritmemu yang luar biasa dinamis itu. Apalagi hatiku. Ah, organ terlemah dalam tubuhku itu…

Denganmu hidup(ku) seolah meja roulette yang berputar-putar. Terus berputar. Tanpa seorangpun tahu ketika berhenti ia akan menunjuk kemana.

Semua tentang aku tampaknya sia-sia. Tentang berbagai rencana yang tak sempat terealisasi. Tentang rancangan masa depan dengan berbagai macam prediksi. Hidupku diacak seperti dadu diatas meja judi. Seperti sedang berada diatas roller-coaster kehidupan. Seperti diatas komidi putar.

Maka ketika dadu dilemparkan dan meja roulette berhenti berputar, aku ketakutan setengah mati. Saat kau “mati”, aku pusing. Tujuh keliling. Aku tak tahu kemana harus berpegangan. Mabuk.

Bingung. Linglung. Aku tak bisa menangis. Malah tertawa.

Pelacur-pelacur jalanan dan hantu-hantu stasiun serempak memandangiku. Mereka pikir aku gila. Aku tersadar ternyata Tuhan punya selera humor yang tinggi. Begitu mudah Ia memberi dan dalam sekejap mengambil kembali. Jadi apa yang lebih tepat untuk dilakukan selain tertawa? Aku cuma marionette yang tak berdaya melawan gerakan jari-Nya. Karena itu aku tertawa. Aku yakin, Ia ingin aku menikmati lelucon-Nya. Aku tak berani marah. Aku takut Ia murka. Bagaimana kalau Ia murka lalu menyundutkan rokok menyala ke selangkanganku?

Sejak itu aku hanya mengikuti alur permainan-Nya. Ia tak henti memamerkan lelucon-Nya. Dia sutradara, aku pemeran utama, kau jalan ceritanya. Sempurna! Ketika aku tertawa, binatang-binatang itu berpikir aku mabuk. Ketika aku menangis, bangsat-bangsat itu berpikir aku terlalu berlebihan menyikapi cobaan hidup. Lalu aku harus bagaimana?

Banyak…

Banyak sekali yang terjadi sebelum dan sesudahnya. Tapi aku bisa menyaksikan setiap detik, betapa disaat yang sama Ia memberi karunia. Ia memberi aku kekuatan luar biasa untuk terus bertahan dalam arena permainan-Nya. Untuk terus berlakon dalam panggung-Nya. Karena apalah artinya pertunjukan tanpa pemeran utama, bukan?

Dan saat Ia memberi kekuatan, aku belajar bahwa inipun akan sementara. Kapan saja Ia bisa mengubah jalan cerita, menggerak-gerakkan benang yang melilit tubuhku. Kapan saja Ia bisa menarik semua kembali dan tertawa gembira ketika aku tertatih-tatih mencoba bangkit berdiri. Aku tak mau tertatih lagi. Aku harus menutup hati yang lemah nan keparat ini, dan tak begitu saja gembira dengan segala hadiah yang diiming-imingi hidup padaku.

Aku tahu dibalik tawa akan ada luka. Setiap pertemuan akan ada perpisahan. Aku tak mau menerima yang pertama. Aku harus siap dengan kemungkinan kedua. Aku membuka hati hanya untuk terluka saja.

Happy anniversary, false hope.


Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *