Seharusnya Cinta

Kata orang, cinta itu bukan perkara menemukan sosok yang sempurna, melainkan tentang menemukan seseorang yang tetap kita cintai dalam ketidaksempurnaannya.

Seharusnya.

Seharusnya cinta itu jatuh pada orang yang di depannya kita tidak takut untuk tidak sempurna.
Seharusnya cinta itu jatuh pada orang yang di hadapannya kita tidak takut untuk berbuat kesalahan.

Orang yang di hadapannya kita tidak perlu mati-matian menjadi sempurna setiap waktu, karena kita memang tidak terlahir untuk itu.

Tapi apa yang terjadi, bila seorang perempuan tak sempurna mencintai pria tak sempurna yang menginginkan kesempurnaan?

Pria yang dalam ketidaksempurnaannya, perempuan ini mampu merasa cukup. Mampu menemukan keinginannya akan cinta. Keinginan untuk mencintai dan dicintai. Keinginan untuk dimiliki dan kebutuhan untuk memiliki.

Setiap saat, sekuat tenaga ia mencoba menjadi sedikit lebih sempurna dari dirinya kemarin. Hanya untuk merasakan diinginkan.

Setiap saat, ia takut menjadi salah. Takut kesalahan-kesalahannya membuat sang pria lebih tak mencintainya.

Jauh di lubuk hati, yang ia inginkan sederhana saja.
Seseorang yang tetap mencintainya walaupun ia jauh dari kata sempurna.
Seseorang yang tetap akan bangga menggenggam tangannya di depan dunia, tak peduli berapa banyak kesalahan-kesalahan yang ia buat dalam hidupnya.

Jika ia bisa mencintai orang tak sempurna dengan demikian sempurna, kenapa dia tak pantas dicintai dalam ketidaksempurnaannya?
Bukankah seharusnya cinta itu tentang merasa cukup?

Semoga suatu hari, masih ada kesempatan untuk cinta jatuh lagi. Pada saat yang tepat. Pada orang yang tepat. Pada orang tak sempurna yang mampu mencintai ketidaksempurnaannya. Menjalani cinta yang mungkin tidak akan sempurna, sampai tua, berdua saja.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *