Dari Jakarta untuk Kamu dan Aku

Seperti kataku dua musim lalu, aku ingin jatuh cinta di Jakarta.
Cinta yang sederhana di kota yang megah jumawa.

Seperti kataku dua musim lalu, Jakarta ini sepi.
Di balik gemerlap lampu dan gedung-gedung tinggi, ia hanya jiwa penyendiri yang ingin jatuh hati.

Tak lebih dari jiwa tua yang mulai letih dipoles lipstik merah dan parfum mahal.
Tak lebih dari relung hampa yang mulai mual dijejalkan alkohol-alkohol ilegal taraf internasional.

Seperti yang kubilang dua musim lalu, Jakarta ini sepi.
Bahagia punya seseorang untuk berbaring bersama, atau sekedar duduk berdua.
Membual tentang hidup dan omong kosongnya.
Mengkhayal tentang mimpi ingin jadi orang kaya.
Berkelakar tentang definisi kebahagiaan dan luka.

Aku akhirnya jatuh cinta di Jakarta.
Jatuh cinta yang sederhana di kota yang megah jumawa.

Aku akhirnya jatuh cinta di Jakarta.
Yang membuat jantungku berirama gaduh, tapi secara bersamaan pula jiwaku teduh.

Aku akhirnya jatuh cinta di Jakarta.
Cinta yang malu-malu di tengah sombongnya kota raksasa.

Aku jatuh cinta.
Dan sekarang Jakarta tidak terlalu sepi lagi.

Teruntuk kamu, yang diijinkan Semesta bertemu.
Kamu, yang dari seluruh kota di Indonesia, dipertemukan denganku di Jakarta.
Terima kasih.

Teruntuk K.,
Yang membuat aku jatuh cinta di Jakarta.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *