Attached. Detached.

It’s horrible seeing what attachment can do to you, to your life.

Attachment. Keterikatan.

Keterikatan tumbuh dari perkawinan antara kasih sayang dan waktu, dari cinta dan kebiasaan. Keterikatan hadir dalam wujud kebutuhan yang waktu demi waktu harus dipuaskan.

Saya –dulunya- terbiasa melakukan apa-apa sendirian. Sebagai perempuan yang hidup merantau sendirian di kota orang, saya dipaksa untuk terbiasa mengatasi semua hal seorang diri. Cari kontrakan baru, sendirian. Cari lowongan pekerjaan baru, sendirian.  Belanja bulanan, sendirian. Masalah pekerjaan, pikirin sendirian. Sakit tengah malam, sendirian.

Tentu saya punya teman dan keluarga. Tapi keluarga saya jauh di luar pulau, dan teman-teman saya juga punya kehidupan sendiri. Ringkasnya, saya –mau tidak mau- harus terbiasa tidak bergantung pada siapapun. Saya tidak mungkin curhat manja atau berkeluh kesah pada teman-teman setiap malam sepulang kerja.

Saya ingat betul waktu kecil saya beberapa kali merengek manja ke ibu saya. Minta ditemani ini-itu kesini-kesitu. Minta ditemani begini-begitu. Tapi berulangkali pula ibu menolak dan berkata, “Jadi anak perempuan harus mandiri. Kamu lahir ke dunia aja sendiri!”. Nasehat ini pasti tidak akan relevan kalau saya lahir sebagai anak kembar, tapi secara tidak sadar, hingga dewasapun pesan itu selalu teringat.

Semua dihadapi, dipikirkan, ditelan bulat-bulat, sendirian. Bahkan kabar menyenangkan sekalipun.

Beberapa tahun di Jakarta, saya akhirnya jatuh cinta. Hubungan jarak jauh, waktu itu. Selama pacaran, hal-hal yang biasanya saya rayakan sendiri, mulai belajar saya bagikan dengan orang ini. Walau hanya lewat telepon atau pesan singkat, saya mulai terbiasa berbagi. Mulai hal-hal remeh hingga hal-hal besar, seperti tumpangan gratis dari teman, pujian dari bos atau approval dari klien, hingga baju yang baru dibeli, promosi kenaikan jabatan, atau pengunduran diri. Walaupun secara fisik semua hal seperti menonton, makan malam di luar, jalan di mall, mengganti lampu dan belanja lemari masih saya lakukan sendiri. Waktu itu, keadaan “merasakan attachment yang setengah-setengah” sudah cukup baik.  Kemudian hubungan itu kandas.

Saya kemudian kembali harus beradaptasi, dari keadaan “attachment” menjadi “detachment” lagi. Menyebalkan, pasti. Saya tidak suka adaptasi. Saya kembali ke kebiasaan sebelumnya. Pulang kantor, mandi, makan, nonton TV, ngetweet, lalu tidur. Tidak ada yang spesial.

“I am the island of myself”, saya ingat mengucapkan ini pada diri sendiri waktu itu. Setelah masa-masa berkabung selesai, saya kembali ke kehidupan lama. Cerita pujian dari bos atau tas yang baru tiba dari eBay tidak saya bagikan kepada siapa-siapa, dan ketidakterikatan tidak lagi terasa asing.

Waktu itu saya merasa yakin saya tidak suka keterikatan. Saya merasa yakin bahwa saya tidak suka apabila saya merasa suka terhadap seseorang. Keterikatan membuat saya lemah, dan saya tidak suka merasa lemah.

“Jadi perempuan harus mandiri..”, kalimat ibu terngiang-ngiang lagi dan lagi.

Kemudian akhir-akhir ini, setelah nyaris delapan tahun merantau, saya jatuh cinta lagi. Kali ini, saya jatuh cinta di Jakarta. Semesta mempertemukan saya dengan orang ini dengan cara yang tidak biasa. Seolah ada benang merah yang saling menghubungkan titik-titik hidup kami, yang pernah saling menyentuh, lalu merenggang, lalu kusut, lalu tidak kasat mata, lalu tiba-tiba saling menyentuh lagi.

I am the island of myself… until love happened. And apparently this island was made for two.

Waktu pelan-pelan menampakkan wujud utuh dari rasa sayang itu sendiri. Keterikatan kemudian menjadi hal yang tidak bisa dihindari. Saya kembali terbiasa berbagi hidup saya lagi. Tapi kali ini bahkan jauh lebih menyenangkan dibandingkan yang dulu pernah saya alami.

Saya punya dia. Saya tidak perlu lagi menghadapi dunia sendiri. Saya punya dia untuk diajak diskusi mengenai pekerjaan, bisnis, musik, film, apa saja. Ya, apa saja. Dari hal paling tidak penting sampai masalah-masalah genting. Dari cerita pujian klien hingga rencana pengunduran diri. Dari cerita mengenai kebiasaan ayah-ayah kami hingga meminta saran mengenai setiap cerita yang saya tulis sebelum dikirim ke penerbit untuk dijadikan novel. It’s safe to say that we got each other.

Keterikatan terasa menyenangkan, tapi ketakutan bahwa “attachment” akan berubah menjadi “detachment” dan saya harus kembali ke titik nol lagi pasti ada. Kita semua manusia biasa. Saya tidak tau benang merah yang mengikat kaki saya dan kakinya akan berujung sampai mana. Yang pasti, jika saya harus mengalami “detachment” lagi, saya akan merasa sangat tidak nyaman. Untuk urusan hati, saya tidak suka perubahan.

Keterikatan membuat saya lemah. Tapi juga membuat saya kuat.

Mencintai seseorang itu seperti terus berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik setiap hari demi mempertahankan hubungan, sambil berpasrah diri karena kita tau bahwa jika ini gagal kita akan hancur berkeping-keping dan memulai kembali dari awal.

Keterikatan bisa membahagiakan kita, tapi juga bisa menghancurkan kita, Dan kita tidak akan pernah tau kita akan mendapatkan yang mana. Dan mungkin, jauh di lubuk hati, kita semua memang diam-diam menyukai keterikatan dalam hidup kita, karena mungkin kita memang membutuhkannya.

Bukan hidup namanya jika tidak merasakan apa-apa. Dan menghindari keterikatan tumbuh dalam hati hanya karena alasan tidak ingin berjudi, hanya akan menjauhkan kita dari kemungkinan-kemungkinan akan cinta sejati.

Keterikatan yang terasa sangat nyaman ini, juga menyadarkan saya bahwa suatu hari nanti saya ingin menikah. Ingin memiliki seseorang untuk terus berbagi hidup bersama. Seseorang untuk pulang.

It’s horrible seeing what attachment can do to us, to our life. But maybe, what makes it seems horrible is the fact that it might be what we always needed.

 

Teruntuk K.,
Semoga Semesta mengijinkan aku membuatmu bahagia.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *