Sebuah Catatan untuk Kesembuhan

Saya masih takjub betapa sebagai manusia, beberapa orang mampu melihat orang lain sebagai benda, sebagai objek. Dan begitu mereka melihat kita sebagai objek, mereka   akan  berpikir bahwa mereka bisa melakukan apa saja pada kita. Apa saja.

Kita pikir kita dapat memahami hal ini saat mendengarnya, tapi sebenarnya tidak. Kita tidak bisa memahami hal ini sampai kita benar-benar merasakannya sendiri. Bagaimana harga diri kita dibawa ke tempat paling rendah. Bagaimana rasanya mengetahui kita tidak bisa berbuat apa-apa selain berharap hal itu cepat selesai. Bagaimana rasanya mengetahui hal itu akan menghantui sepanjang hidup kita. Tapi saya, sekarang saya paham rasanya. Benar-benar paham.

Menyedihkan betapa hanya dibutuhkan waktu yang sangat singkat bagi kita untuk mengambil keputusan yang ternyata jadi pilihan paling salah dalam hidup kita. Dan waktu kita sadar bahwa itu adalah sebuah kesalahan, kita sudah tidak punya pilihan.

Harusnya berkata tidak. Harusnya memilih pilihan yang lain. Hanya butuh satu keputusan paling bodoh untuk mengorbankan seluruh sisa hidup. Satu keputusan bodoh. Pelajaran yang sangat berharga, seharga hidup itu sendiri.

Yang tersulit dari semuanya adalah menerima. Menerima bahwa apa yang telah terjadi, sudah terlanjur terjadi. Menerima bahwa kita benar-benar mengalaminya. Menerima bahwa mungkin, sedikit banyaknya, kita turut andil dalam menghancurkan hidup kita sendiri.

Itu baru satu. Kedua paling sulit adalah memaafkan. Pertama, memaafkan orang yang menghancurkan harga diri kita. Mengetahui bahwa dia bisa berjalan dengan tenang, makan dengan senang, tertawa, bahagia, tanpa tahu sesulit apa kita melanjukan hidup setelahnya. Bahkan nanti setelah proses panjang dan menyakitkan, setelah kita mampu memaafkannya, akan datang yang paling sulit dari antara yang tersulit. Yang mungkin butuh waktu seumur hidup adalah memaafkan diri kita sendiri.

Ada banyak pilihan yang bisa diambil seseorang setelahnya. Kita bisa berbagi pada dunia yang jelas akan menghakimi, dan seumur hidup dikenal sebagai yang menderita. Atau kita bisa memilih untuk membalikkan keadaan. Pelan-pelan menata sendiri diri kita dan terus menjalani kehidupan yang masih terbentang panjang di hadapan kita. Bukan bersembunyi, tapi memilih untuk terus berjalan.

Lima atau sepuluh tahun dari sekarang, mungkin kita akan membukanya pada dunia. Atau pada beberapa orang paling spesial dalam hidup kita. Pasangan hidup, sahabat, atau anak perempuan dan anak laki-laki kita. Saat itu terjadi, kita akan memastikan bahwa dalam hidup kita tak akan pernah kehabisan pilihan, atau kehabisan kebijaksanaan untuk mengambil keputusan. Tidak lagi.

Pelajaran yang paling berharga adalah tentang kepercayaan. Tentang mampu membedakan orang-orang yang tulus, atau orang-orang dengan maksud tertentu, atau orang-orang yang terlihat tulus padahal punya maksud tertentu. Selanjutnya adalah tentang kebijaksanaan. Untuk belajar untuk tidak mengambil pilihan yang salah, bahan ketika kita sedang kehilangan arah. Selanjutnya adalah tentang tinggal diam. Untuk tidak memaksakan diri terus berlari saat kita tahu kaki kita bahkan kesusahan untuk berdiri.

Terus berjalan tanpa melihat ke belakang bukan berarti kita menyerah dan membiarkan orang-orang berperilaku buruk tetap hidup di dunia, itu artinya kita cukup mencintai diri kita untuk menghadapi ketakutan kita sendiri. Untuk berfokus pada penyembuhan kita, bukan pada menghancurkan penyebabnya.  Ini akan terdengar lemah, tapi orang yang menghancurkan hidup kita juga memiliki orang-orang yang mengasihi mereka. Mereka bisa saja punya orangtua, atau bahkan anak perempuan. Saya percaya tidak ada hidup yang cukup layak untuk dikorbankan hanya karena perilaku buruk satu orang. Saya percaya kehidupan seorang anak perempuan tidak layak dikorbankan hanya karena dosa-dosa ayahnya. Kita memang lemah, tapi Tuhan itu sangat kuat.

Sekarang yang tersisa adalah proses demi proses penyembuhan. Membiarkan diri kita berdamai dengan kehancuran, supaya mampu terus melakukan perbaikan. Menyerah pada kehidupan dan membiarkan diri kita diperkuat sehingga seperti batu karang.

Kita akan semakin kuat. Kita akan semakin bijak. Kita akan mengasihi diri kita sendiri dan akan menjadi jauh lebih baik lagi. Kita akan saling menguatkan. Kita akan mengikhlaskan. Kita akan mengampuni. Kita tidak akan berhenti mencintai. 

Dan kita akan percaya bahwa mereka, yang menghancurkan hidup kita hingga ke bagian-bagian paling tak kasat mata, pasti akan mendapatkan hukuman yang sesuai baginya. Di kehidupan ini atau selanjutnya.

Untuk perempuan. Untuk kesembuhan.

Dipersembahkan untuk mereka yang meminjamkan tangannya untuk saya genggam saat saya jatuh dan nyaris terpuruk. Tuhan mengasihi kalian.

Twelvi

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *