Bromo, Minus Lima, dan Tuhan

Saya akhirnya dapat kesempatan untuk mengunjungi Gunung Bromo, yang sejak kecil cuma bisa saya lihat dari televisi. Gunung Bromo, gunung berapi aktif yang terkenal dengan kemegahannya yang luar biasa.

Dari Malang, saya dan teman-teman seperjalanan menuju kaki Gunung Bromo dengan mobil sewaan.  Kamipun beristirahat di salah satu villa di kawasan kaki gunung sebelum subuh tiba. Cuaca di kaki gunung sangat dingin, drastis sekali perbedaannya ketimbang di Jakarta. Berbekal celana panjang dan jaket seadanya, saya menguatkan diri menahan dinginnya cuaca.

Pukul 3 pagi, deru mesin mobil JEEP di halaman villa membangunkan saya dan teman-teman yang masih sangat mengantuk dan kedinginan. Kami lalu bergegas membawa peralatan yang diperlukan dan menumpang mobil gagah itu untuk naik ke puncak Bromo.

Semakin tinggi kami meninggalkan daerah pemukiman penduduk, semakin ngilu rasanya kulit di badan  kami. Udara semakin dingin, oksigen semakin tipis. Jalanan menanjak yang kurang mulus juga menambah semua pengalaman kurang menyenangkan.

Sesampainya di puncak Gunung Bromo pukul 4 pagi, saya sulit bernafas. Udara di termometer portable yang kami bawa menunjukkan angka -5 derajat Celcius. Saya sempat tak percaya mata saya sendiri. Minus lima derajat! Turun dari mobil, tanah di sekitar saya rasanya berputar-putar, ujung hidung saya seperti beku, perut saya mual akibat diguncang-guncang selama perjalanan. Tak lama, saya akhirnya menyerah, lalu muntah. Badan saya yang cuma dibalut jaket tipis seadanya ternyata tak kuasa menahan dinginnya hembusan angin di puncak Gunung Bromo. Saya akhirnya terpaksa menyewa satu lagi jaket bulu super tebal dan berat dari tempat penyewaan setempat. Jaket bulu yang gimbal dan lusuh itu entah sudah berapa ratus kali menyentuh tubuh pendaki-pendaki lain, tapi saya tak peduli. Kekejaman puncak Bromo membuat saya merasa kalah, merasa tidak berdaya. Saat saya melihat sekeliling, ternyata saya bukan yang satu-satunya. Saya menyaksikan beberapa manusia yang lebih tinggi dan tegap daripada saya, juga luluh lantak dihempas dinginnya angin.

04:30 Pagi. Setelah membaluri tubuh dengan setengah botol minyak kayu putih yang saya bawa, saya akhirnya siap menanti detik-detik bangunnya sang matahari. Bersama ratusan pendaki lain, saya menunggu di tepi puncak. Suara-suara manusia yang saling bicara dan berbisik mendadak lenyap saat segaris cahaya jingga muncul di depan mata dan semakin menyala. Semua diam, semua terpaku. Bola api raksasa di depan mata semakin tinggi, semakin kontras pula ia dengan kegelapan di sekelilingnya. Angin beku yang tadinya menusuk hingga ke relung-relung jiwa, perlahan semakin menghangat. Sebagian dari kami bergumam kagum, sebagian tertawa bahagia, dan ada juga yang berdoa.

Subuh yang ajaib itu, di depan matahari dari puncak Gunung Bromo, saya merasa sangat kecil. Saya tidak pernah merasa sekecil itu dalam hidup. Alam Semesta yang luar biasa ini memang jauh lebih besar dan perkasa ketimbang kelihatannya. Saat angin pagi dibawa matahari menyentuh wajah saya, dibawanya pula seluruh kesombongan manusiawi saya. Pergi beserta seluruh ragu yang ada dalam diri saya. Ada rasa berserah yang luar biasa, muncul bersamaan dengan naiknya cahaya kekuningan megah itu ke atas kepala. Kemudian tanpa sadar saya menitikkan air mata dan mengucap nama Tuhan.

Subuh itu, saya dibuat Tuhan untuk bukan hanya mengamatiNya, tapi juga mengamati manusia-manusia di sekeliling saya. Dari ratusan pendaki yang ada, nyaris seluruhnya membawa serta kamera. Mengabadikan momen yang bisa jadi merupakan pengalaman pertama dan terakhir kalinya. Beberapa bahkan membawa peralatan kamera profesional yang lengkap. Saya tersenyum, mengingat bahwa foto-foto yang mereka hasilkan pastilah sangat luar biasa, terutama dengan seluruh perjuangan untuk sampai di titik itu di Gunung Bromo.

Sejak itu, setiap kali melihat foto-foto bagus, saya selalu teringat pengalaman di Bromo. Teringat mengenai perjuangan fotografer-fotografer yang menghasilkannya. Tentang momentum saat foto itu diambil. Tentang perjalanan hidup yang mereka alami saat mengabadikannya.

Ini adalah beberapa foto yang sempat saya ambil subuh itu dari Bromo.

image

image

image

image

Dan ini ada satu video persembahan Canon yang saya suka sekali, yang bercerita tentang momentum di balik karya-karya foto menarik yang dihasilkan orang di sekeliling kita.

Salam sayang,

Twelvi

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *