“Strangers, Again”

Lucu betapa hidup memiliki selera humor yang kejam.
Kita seringkali tidak mengerti bagaimana ia bekerja.

Mengapa ia harus menarik benang-benang merah yang mengikat kaki kita berdua mendekat, hanya untuk direnggangkan kembali.
Mengapa ia harus mempertemukan dua anak manusia dan membuat salah satu dari mereka jatuh cinta sedangkan yang lainnya tidak.
Mengapa ia harus mempersatukan mereka berdua pada tempat dan waktu yang paling tidak tepat.
Tidak ada yang tahu jawabannya.
Tidak aku.
Tidak juga kamu.

Namun begitu aku bersyukur hidup mempertemukan kita, memberikan kita kesempatan saling peduli lebih dari tiga ratus hari lamanya.

Aku bersyukur kamu mengambil keputusan untuk menghubungiku lagi hari itu. Di suatu sore di tengah-tengah rutinitas kerja kita, setelah nyaris dua tahun tidak bertegur sapa. Seperti itu saja, kisah kita dimulai dari satu ajakan makan sore yang sederhana.

Tidak ada yang mengerti cara kerja waktu. Tidak juga kita waktu itu. Dengan alami kita bergerak dari pertemuan pertama ke pertemuan kedua, terus bergulir hingga ratusan pertemuan berikutnya. Hingga aku lupa kapan tepatnya aku mulai jatuh cinta.

Lalu kenyataan mulai menampakkan wujudnya yang paling tidak kita suka. Kita masih tidak mengerti kenapa hidup mengijinkan aku jatuh cinta sedang kamu tidak.

Aku tidak ingat kapan tepatnya, tapi saat kita sadar, kita menemukan salah satu dari kita sudah lama berhenti mencoba.

Aku bersyukur Tuhan pernah menempatkanmu dalam hidupku. Mengijinkan aku merasakan bahagia untuk sementara waktu.

Aku bersyukur untuk kita. Untuk semua obrolan tentang cita-cita. Untuk semua curahan hati tentang kisah-kisah cinta lama. Untuk percakapan tentang kebiasaan ayah-ayah dan ibu-ibu kita. Untuk seluruh diskusi hal-hal tidak penting hingga yang paling genting.

Tapi lihat kita sekarang. Benang merah yang mengikat kakimu dan kakiku akhirnya kembali merenggang. Kita tidak lebih dari dua orang anak manusia yang akan segera jadi orang asing bagi satu dan lainnya.

Lucu rasanya betapa seseorang yang pernah sangat berarti dalam hidup kita selama beberapa ratus hari lamanya, akan segera menjadi orang asing yang baginya kita tidak berarti apa-apa.

Sampai sekarang aku masih belum mengerti cara cinta bekerja di dunia.
Sampai sekarang aku masih berjuang melawan diriku sendiri. Melawan keinginan untuk merangkak kembali ke pelukan karena kamu telah membuatku merasa amat sangat nyaman.

Kita harus melepas. Kita harus ikhlas. Kita harus paham bahwa beginilah cara hidup mengajari kita tentang kasih sayang. Mungkin kita tidak perlu mengerti tentang cinta untuk bisa mencintai.

Dan tentang kita, semoga suatu hari hidup mengijinkan kita mencoba lagi. Mengujicoba kembali keberuntungan kita dalam urusan hati. Dengan mereka, yang baginya benang merah di kaki kita masing-masing berujung. Mereka, yang padanya kita masing-masing menemukan rumah.

To K.

5 years of knowing each other. 3 years of always being there for each other.

I loved it all.

Have a great life ahead!

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *