JAPAN TRIP 2017 Part 1 – Cabin Hotel, Asakusa, Ichiran Ramen

I traveled alone to Tokyo, Japan for the first time in May, and this is my #TravelReport

 

Trip ke Jepang ini bisa dibilang lumayan impulsif dan nggak terencana. I wanted to visit Japan, of course, but it wasn’t going to happen this year. Semua gara-gara promo tiket AirAsia awal Januari kemarin. Aku beli tiket PP seharga 5juta nett sudah termasuk bagasi 20kilo, Hot Seat, 2x makan di pesawat, dan in-flight TV/iPad Entertainment. Lumayan banget, kan? Gimana nggak khilaf coba :'(

5 juta mah ANA/Asiana juga bisa dapet Tuel, kalo lagi promo.

Iya bener, tapi tempat duduknya standar economy, sedangkan ini Hot Seat dengan leg room yang leluasa dan bisa pilih sendiri. Buat penerbangan panjang, menurutku Hot Seat itu ‘ngaruh’ banget sama kenyamanan kita.

Walaupun memang harus transit di KL, demi tiket murah adek ikhlas bang.

tiket

 

Bulan Mei ini musim transisi, karena spring sudah selesai tapi summer masih malu-malu. Biasanya Jepang paling diincar turis di musim spring dan autumn, mungkin karena itu juga makanya ada tiket promo. Karena ini pertama kali ke Jepang, jadi aku nggak terlalu masalah walaupun nggak kebagian spring. Toh, buat orang Jakarta yang udah terbiasa sama udara panas dan lembab, cuaca bulan Mei di Jepang masih sangat menyenangkan kok.

Matahari bersinar cerah, tapi udaranya sejuk sekitar 15-17 derajat Celcius, jadi nyaman banget walau jalan kaki kemana-mana.

 

Pocket WiFi

Sebagai orang yang selalu traveling solo alias sendirian, buatku koneksi internet jadi hal yang crucial  banget. Nggak bisa ditawar-tawar, deh. Apalagi di negara yang nggak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama, sedangkan aku sama sekali nggak bisa bahasa Jepang.

Untuk modal bertualang, aku menyewa Pocket WiFi yang dibawa dari Indonesia, di website Tripvisto. Harganya murah, hanya sekitar 70rb per hari. Jadi untuk perjalanan kurang lebih seminggu, aku mengeluarkan biaya 490rb. Murah, dibandingkan harus beli tourist SIM Card di Tokyo. Kuotanya juga unlimited, dengan batas pemakaian wajar 1GB/hari (lewat dari itu maka kecepatan akan turun). Koneksi Pocket WiFi dari Tripvisto ini memuaskan banget, sinyal 4Gnya lancar tanpa gangguan, bahkan saat sedang di dalam subway sekalipun.

IMG_6763

 

Suica Card untuk Subway

Udah bukan rahasia deh kalo transportasi umum di Jepang agak membingungkan, karena satu moda transportasi bisa dimiliki oleh beberapa perusahaan sekaligus. Tapi yang paling sering jadi pilihan tentunya adalah Subway. Ada 2 subway system utama di Tokyo, yakni Tokyo Metro (lambang M biru) dan Toei (lambang daun hijau). Senengnya, nggak kaya di Korea Selatan, di Tokyo ini Google Map sangat akurat, termasuk petunjuk mengenai rute subway-nya.

Suica vs Pasmo, pilih mana?

Sebenernya kalau kalian fokusnya hanya di pusat kota dan naiknya Subway, sama aja kok. Mau Suica atau Pasmo, bebasin aja shay~

Suica bisa dibeli di Ticket Machine di stasiun-stasiun subway. Tapi karena aku sampai di Tokyo tengah malam, dan malas ribet, akhirnya aku beli Suica di Indonesia.

HAH? KOK BISA?

Bisa dong. Aku beli kartunya di Tripvisto juga, dan dikirim langsung melalui kurir. Jadi sampai di Tokyo tinggal top up seperlunya.

IMG_6762

 

Tiba di Tokyo Tengah Malam, Where To Go?

Kalo kamu mau ke Tokyo naik AirAsia, kemungkinan besar akan tiba di Tokyo tengah malam juga, kaya aku. Di Tokyo, ongkos taksi setelah jam 8 malam bisa mencapai 2x lipat, dan untuk sampai di pusat kota menggunakan taksi bisa mencapai 2juta rupiah! Subway terakhir jam 10 malam, dan bus terakhir ke pusat kota hanya di jam 11:30 malam. Sebagai budget-savvy traveler wannabe, aku menolak mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk taksi. Akhirnya pilihan jatuh pada hostel di area bandara Haneda, namanya First Cabin Hostel Haneda. First Cabin Hostel ini terletak di Terminal Domestik, dan untuk sampai di Terminal Domestik, kita bisa naik shuttle bus GRATIS yang ada di area arrival-nya Terminal Internasional. Cukup istirahat di sini satu malam aja sampai pagi, lalu langsung naik subway ke pusat kota.  Harganya? 500rb/cabin/malam. Murah banget dong dibanding harus naik taksi ke pusat kota tengah malam.

IMG_6431

 

Akomodasi di Pusat Kota

Karena terlanjur jatuh cinta berat sama Sensoji Temple di Asakusa, aku memilih ENAKA Hostel Asakusa sebagai penginapan selama 2 malam, supaya bisa puas mengeksplor wilayah Asakusa. Cukup 5 menit jalan kaki dari stasiun subway, 2 menit dari Sensoji Temple, dan dikelilingi banyak convenience store. Pokonya strategis banget!

enaka 1ni

(sumber: hotel4travel.jp)enaka 1

Here Is My 5 Days Itinerary in Tokyo, Japan:

1.Asakusa

Sensoji Temple di Asakusa jadi tujuan pertamaku di Jepang. Udah jatuh hati sama Sensoji sejak nyusun itinerary dan lihat foto-fotonya di internet. Ini salah satu kuil paling terkenal di Jepang, yang sudah ada sejak tahun 645. Memasuki wilayah kuil, kita akan disambut Kaminarimon (artinya: gerbang halilintar) raksasa yang berdiri megah. Sepanjang jalan mulai dari gerbang hingga ke kuil, banyak toko merchandise dan penjual street food. Area shopping street ini dikenal dengan nama Shin Nakamise Dori.

IMG_6438

IMG_6446

Di Shin Nakamise Dori, jangan lupa nyobain street food khasnya. Mulai dari Kibi Dango, Age Manju, Macha Tea, sampai Senbei.

IMG_6449 IMG_6453

IMG_6467

IMG_6478

Setelah puas icip-icip di Shin Nakamise Dori, di depan kuil kita bisa mencoba membaca peruntungan melalui ramalan yang disediakan. Caranya, masukkan donasi 100 yen ke kotak yang disediakan, lalu ambil wadah berisi kayu dan kocok hingga satu kayunya keluar. Di ujung kayu, akan ada huruf Kanji yang menunjukkan ramalan kita. Cocokkan dengan huruf yang tertera di laci, buka lacinya, lalu ambil kertas ramalan.

IMG_6486

IMG_6483

Aku senang banget karena kemarin dapat ramalan yang The Best Fortune. Semoga menjadi kenyataan. Kalau kamu dapat good luck, lipat dan simpan kertasnya dan bawa kemana-mana supaya jadi kenyataan.

Kalau kamu kebetulan dapetnya bad luck, kamu bisa melipat kertas ramalan, dan mengikatnya di tali yang disediakan. Konon, supaya bad luck nggak jadi kenyataan. Boleh percaya atau enggak.

Selain membaca ramalan, di Sensoji Temple kita juga bisa membakar dupa lalu mengucapkan permohonan. Dupa dijual seharga 100 yen di loket yang disediakan. Kita bisa membakar dupanya lalu menancapkannya di pasir/abu bekas dupa-dupa, mengucapkan permohononan, lalu mengarahkan asapnya ke tubuh dan kepala agar permohonannya terwujud.

IMG_6490 asaku2

 

Kalau ngeliat ‘air mancur’ di area kuil, namanya Chozuya atau Temizuya. Fungsinya untuk membersihkan diri sebelum masuk kuil dan berdoa. Hampir sama dengan wudhu buat umat Islam.
Karena itu, kita harus ikuti etiket dan peraturan sebelum ikut-ikutan coba cuci tangan di sini ya.

asaku1

Jadi, cara yang benar cuci tangan di Temizuya adalah:
– Ambil air pakai gayung dengan tangan kiri, basuh tangan kanan
– Ambil air pakai gayung dengan tangan kanan, basuh tangan kiri
– Ambil air pakai gayung dengan tangan kanan, taruh air di tangan kiri, basuh mulut
– Luruskan gayung ke atas agar sisa air membersihkan tangkai gayung
– Letakkan gayung dengan posisi terbalik

 

Asakusa nggak cuma tentang kuil, ramalan, dan street food. Di sekitar area Asakusa banyak juga toko-toko penjual pakaian, tas, sepatu, payung khas Jepang, jas, hingga tempat penyewaan kimono.

Pengen nyobain Ichiran Ramen yang terkenal itu? Nggak perlu buru-buru ke Shinjuku lalu ngantri 2 jam. Di Asakusa juga ada cabangnya, dan antriannya lebih manusiawi. Waktu ke sana, aku cuma mengantri 15 menit aja, dan itu lagi jam makan siang. Oh and, it was THE BEST ramen that I’ve ever had.

IMG_6513

IMG_6517

… bersambung ke post selanjutnya

 

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *