Let Them Stare

Minggu, 9 Juli 2017.

Hari ini pertama kali pake baju seperti ini pas jalan ke mall di Jakarta.

 

20170709130937_IMG_8240

 

Baju-baju yang agak “showing” biasanya memang aku cuma pake di luar negeri. Cold shoulder, sabrina, criss cross detail, laces, rok di atas lutut, dsb. Karena nggak pede pakai di sini.

Tau  kenapa nggak pede? Karena di sini orang nggak terbiasa melihat cewek plus size yang dandan cantik, pake baju lucu-lucu. So they stare. A LOT.

Di luar negeri, berdasarkan pengalamanku traveling selama ini, people will NOT stare. And even if they do, it’s a complimentary kind of stare. Kadang malah bukan cuma disenyumin aja. I’ve had strangers came to me and told me nice things like “You look lovely”, or “I love your skirt”, or “Your skin is amazing”, or “You look beautiful, love your dress!”. 

Di sini, selama ini, yang didapat justru kebalikannya. It’s the “ih yaudah sih udah gendut pakenya kaos oblong ama celana panjang aja” kind of stare. And I’m not saying that ALL Indonesians are like that, but trust me, sebagai perempuan yang udah plus size sejak kecil, aku udah terbiasa membedakan tatapan pujian vs tatapan mencela.

When I was in college, that kind of stare affected me real bad. 

Aku dari kecil memang cenderung girly. I love colorful patterns, makeup, shoes, sparkly things. Tapi tumbuh sebagai perempuan plus size di negara yang kebanyakan perempuannya bertubuh mungil, aku selalu sulit mengekspresikan diriku melalui penampilan. Well, pertama karena keterbatasan pakaian/sepatu yang berukuran besar, kedua karena bahkan kalau ada pakaian/sepatu lucu yang muat, orang ngeliatin terheran-heran.

Akhirnya, waktu kuliah aku selalu pake baju yang “aman”. Kemeja atau kaos hitam atau putih, celana jeans, sneakers. Kalau perlu keluar rumah nggak usah dandan. I tried so hard not to draw unnecessary attention to myself.

Sering banget kan denger orang kita kalo becanda bilang, “Ya kalo betisnya kecil sih gapapa pake rok selutut. Lah ini betis kaya talas Bogor”

Atau, becanda ngeledek orang yang pake baju lengan buntung, “Buset itu lengan atau pukulan kasti?”

Bahkan beberapa teman mainku sempat mencela orang lain seperti itu.

Aku nggak pernah menerima celaan seperti itu secara langsung, tapi aku cukup sadar bahwa ada kemungkinan besar orang pernah bilang begitu, behind my back. Jadi aku selalu takut.

But then, I took some time to look at the ones that are being mocked. And I didn’t find anything wrong with them. In fact, they looked beautiful. I realized one thing, people are being mocked, and judged, and stared at, no matter what size or body shape they have.

People can be mean sometimes.

Yang kurus, diliatin karena terlalu kurus. Yang dadanya besar, diliatin dan dibecandain, apapun baju yang dipakai. Yang bokongnya besar, pake celana atau rok model apapun tetap dijadiin bahan ketawa. Yang gendut, pake baju apapun tetap akan diliatin.

And then it hits me. Bukan bentuk badan atau pakaian kita yang salah. Mentalnya orang-orang yang ngeliatin/becandain itu yang salah.

Iya, aku perempuan plus size. And it is possible that as long as I live, people will stare at me anyway. Terus kenapa aku harus berkorban untuk nggak dandan cantik, pake baju warna-warni, dan rok di atas lutut? Akhirnya pas kuliah semester akhir mulai berani berekspresi. Pake rok selutut dan di atas lutut yang mengekspos betis yang nggak seramping betis model, pakai sepatu lucu-lucu walaupun nomernya bukan 37 atau 38, pakai makeup, merawat diri,  pakai baju bermotif. Bahkan motif garis-garis sekalipun.

 

Tapi memang sampai kemarin ini aku belum terlalu berani pake baju yang flirty, yang “showing” atau agak ketat. Atau motif yang terlalu berwarna. Progressnya pelan, tapi pasti.

If you’re not a plus size person, you probably wont understand when I say this, but honestly, I’m sad that I only have low self-esteem when I’m here. Setiap kali aku traveling ke luar negeri, I feel beautiful. Aku ngerasa lebih pede, lebih bebas berekspresi. Tapi begitu balik ke sini, rasa pedenya itu seringkali menurun drastis.

Kemarin di London aku beli baju yang lucu-lucu. Tapi pas unpacking, sempet sedih dan terlintas “omg I’m never gonna wear these here”.  And that is heartbreaking.

Biasanya aku begitu. Traveling – beli baju lucu – nggak pernah dipake di sini – numpuk di lemari – pakai lagi kalau lagi traveling. Just because I was afraid people here will stare.

But then I’ve decided, this has to stop. Starting today, I will wear whatever clothes that brings me joy. I will feel beautiful. 

Because you know what?  People will stare anyway. So why not give them your best appearance. The one that makes you happy. 

People will stare anyway. So why would I give up my love of colorful patterns and swaying skirt dresses and only wear sad black oversized T-shirt instead?

No. I refuse to look sad and miserable just because I’m afraid of what people might say. If they want to stare, let them stare. I choose to feel beautiful.

 

Kalau kalian sedang mengalami hal yang sama, let’s do this together.

One day at a time, guys. Starting today we will feel beautiful every day.

 

with love,

Twelvi

3 Comments

  1. Rere
    Reply
    10 July 2017 at 8:41 am

    Tapi aku dulu kurus pun ga berani pake baju yg agak revealing atau terlalu rame warna atau motifnya, bahkan pake celana atau rok diatas lutut aja ga pede. Takut dilecehkan/catcall soalnya aku ga naik kendaraan pribadi. Seperti kebanyakan orang, aku cuma berani pake baju yg aku suka pas di Bali aja. Orang2nya cuek2. Sekarang aku tinggal di Taiwan, orang2nya juga cuek2, aku bisa lebih bebas berpakaian seperti yg aku mau. Klo di Jakarta pun cuma beberapa mall yg bisa bebas, ga semuanya. ?

  2. Riamda
    Reply
    11 July 2017 at 2:08 am

    Hi Twelvi, terima kasih udah nulis ini di saat aku lagi breakdown karena masalah ini. Karena ga cuma orang ga kenal / temen aja yang anggep kita bad looking karena our size, bahkan keluarga dekat punya nyakitin tanpa mereka tau kalo mereka nyakitin. Mereka selalu beranggapan mereka membantu memotivasi kita untuk “kurusan” dengan melecehkan. Kalau bukan kita sendiri yang menyangi dan percaya akan cantiknya personality dan body kita siapa lagi kan? Terima kasih sekali lagi sharingnya 🙂

    • twelvifebrina
      Reply
      14 July 2017 at 6:57 am

      Hai Riamda,
      Terima kasih sudah mampir dan membaca ya. Terus terang aku nggak bermaksud sengaja untuk membagikan inspirasi, cuma ingin menulis yang aku rasakan aja.
      Tapi kalau ada 1-2 orang yang juga terbantu, aku akan senang sekali.
      I hope you can find it in your heart that you are beautiful. We are what we believe in.

      Love,
      Twelvi

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *