(repost) SAYA MENABUNG LEBIH DARI 150 JUTA RUPIAH UNTUK TRAVELING HANYA DENGAN MEMASAK

(Tulisan saya mengenai ini yang saya publish 1 November kemarin, entah kenapa hilang dari dashboard wordpress saya. Sudah dicoba kembalikan tapi tidak bisa juga, so here’s a repost)

 

Pertama kali saya menginjakkan kaki di Jakarta tahun 2006, saya tau ini adalah kota yang mahal.

 

Sebagai mahasiswi, saat itu saya harus bolak-balik Kalimalang – Depok untuk menempuh pendidikan jurusan Psikologi, dengan bekal Rp.1,450,000 per-bulan dari orangtua dengan rincian sebagai berikut:

Kost Petakan di daerah Kalimalang: Rp.450.000

Ongkos, Pulsa, Hiburan: Rp.400.000

Keperluan Kuliah (buku, fotokopi, dsb): Rp.200.000

Uang makan dan minum: Rp.400.000

 

Dengan Rp.400.000 perbulan, saya harus putar otak bagaimana caranya bisa bertahan hidup di kota yang biaya hidupnya 10x lebih mahal dibandingkan kota kecil tempat saya tumbuh. Untungnya, saya bisa dan suka memasak sejak kecil. Ya basic-lah, Goreng Tumis Kuah, nggak paham istilah kuliner dan teknik masak sama sekali.

Challenge-nya adalah, saya pencinta makanan. Saya lebih baik makan dengan porsi kecil tapi enak dan kaya rasa, ketimbang banyak tapi “sepi”. To me, food has to be the most enjoyable thing in your day. If you can’t enjoy every spoonful, then why bother eating it?

 

Sempat mikir, 400 ribu di Jakarta, dapat apa?

Ternyata, lumayan banyak. Dengan modal segitu, tiap bulan saya mampu makan nasi, mie instan, telur, teri, tahu tempe, sayur caisim, sayur buncis, sayur toge, sesekali ayam. Untuk asupan vitamin, saya masih mampu membeli pisang, jeruk, dan pepaya. Belanja di pasar tradisional, tentunya. Paling tidak, kebutuhan nutrisi dasar terpenuhi. Jadi mahasiswi 4 tahun, bisa dihitung pakai jari berapa kali saya belanja di supermarket.

Budget terbatas, tentunya bahan makanan juga terbatas. Yang nggak boleh terbatas adalah kreativitas. Karena “dipaksa” bertahan dengan budget minim, saya dilatih untuk lebih teliti. Nggak cuma soal harga, tapi juga soal menu. Saya dilatih untuk lebih fleksibel memadumadankan bahan makanan.

 

Lulus kuliah 2011, saya dapat first job. Sayapun 100% melepaskan diri dari uang pemberian orangtua walau gaji masih pas-pasan. Dengan 2,7 juta perbulan, saya harus membayar Rusun sewaan seharga 1,1 juta perbulan (kosongan, sudah termasuk listrik). Sisa 1,6 juta harus bisa saya kelola untuk transport, pulsa, makan, hiburan, tabungan emergency 15%, dan cicilan Spring Bed yang sebulannya 178rb x 20 bulan.

 

Saat itu, 600rb per-bulan saya sisihkan untuk grocery shopping. Lumayan, meningkat sedikit. Paling nggak, mampu makan ayam beberapa kali seminggu. Udah mampu juga beli tambahan anggur dan semangka beberapa kali sebulan. Sekali lagi, yang penting nutrisi terpenuhi, makanan enak dan tetap sehat.

 

Lalu pekerjaan membaik, gaji membaik. Dari 2,7 jadi 3,2 lalu jadi 3,5. Saya ingat di pertengan 2013 itu gaji saya sekitar 4 juta Rupiah. Dengan pola manajemen keuangan yang sama, 1 tahun menabung sayapun mampu traveling dengan modal 6juta. Bener-bener nggak nyangka.

 

Destinasi solo traveling pertama saya adalah Bangkok, Thailand. Saya masih ingat banget, harga tiket PP naik Tiger Air waktu itu 1,8juta. Untuk hotel 4 malam 2 juta. Sisanya benar-benar untuk makan dan belanja. Tapi saat itu saya belum sadar, bahwa MASAK SENDIRI adalah rahasia saya. Saya pikir ya karena faktor luck aja.

 

Kemudian, karir terus membaik, keuangan terus membaik. Sayapun terlena dan lupa diri. Sejak akhir 2013 sampai awal 2015, saya benar-benar khilaf. Bisa dihitung berapa kali saya memasak dalam satu bulan. Dikit-dikit, beli makan di luar. Dikit-dikit jajan. Dikit-dikit nongkrong di mall sama temen. Di Jakarta, menghabiskan 100-250rb dalam sehari hanya untuk makan minum itu ternyata gampang banget. Saya bisa mengabiskan 4-8 juta sebulan hanya untuk biaya makan minum!

 

Suatu hari saya tertampar, kok udah hampir 2 tahun saya nggak traveling lagi? Kok gaji makin besar tapi nggak punya tabungan? Dulu hidup jauh lebih berat masih bisa traveling. Apa yang salah?

 

Ternyata yang salah adalah perspektif saya. Saya lupa bahwa makanan memegang peranan penting, nggak cuma buat kesehatan tubuh, tapi juga ketenangan batin dan keuangan kita.

 

Lalu, saya merasa ada yang salah dengan batin saya. Saya pikir, dengan mampu makan enak dan nyaman di restoran dimanjakan oleh pelayan, saya sudah bahagia, sudah sukses. Ya gimana dong, sendirian merantau dari kota kecil dan orangtua PNS sederhana, ada kebanggaan semu karena saya MAMPU makan di restoran bagus. Dari kecil hidup sederhana tau-tau bisa makan enak, ada rasa lega di dalam. Mungkin karena bisa sok-sokan buktiin ke diri sendiri bahwa saya bisa hidup di Jakarta. Tapi ternyata saya kok nggak sebahagia itu?

 

Saya juga mulai merasa badan saya nggak terlalu sehat. Terlalu banyak jajan dan makan di luar, saya juga kehilangan kendali atas apa yang saya masukkan ke tubuh saya. Saya nggak tau sumbernya dari mana, cara bikinnya gimana, prosesnya seperti apa.

 

And then I asked myself. What is the ONE thing that I’ve been always dreaming of since I was a little girl?

The answer was: I want to travel the world. I want to see London, Paris, and most of all, New York City.

Rasa cinta saya pada mimpi masa kecil saya kemudian mengalahkan rasa bangga saya akan hidup foya-foya. My childhood dream beats everything else.

 

Awal 2015, saya memutuskan untuk berkomitmen. Mengubah gaya hidup, mengubah pola makan agar lebih sehat, dan mengubah manajemen keuangan demi mewujudkan impian masa kecil. At least, I owe myself to make it come true.

 

Sayapun kembali masak sendiri. Dan saya memilih untuk meal prep.

 

(Bagi yang baru dengar, Meal Prep adalah teknik menyiapkan makanan untuk beberapa hari sekaligus. Diawali dengan belanja bahan makanan dalam jumlah besar, lalu masak dalam jumlah besar. Tujuan utama Meal Prep adalah menghemat uang, menghemat waktu, dan supaya bisa makan lebih sehat. Nanti saya akan membuat tulisan terpisah mengenai Meal Prep dan bagaimana saya melakukannya)

 

Setelah melakukan hitung-hitungan dan cek harga bahan makanan di pasar tradisional dan supermarket, saya membatasi budget belanja saya menjadi 1 juta Rupiah perbulan. Dengan budget itu, saya mampu memberi makan diri saya sendiri, dan menyesuaikannya dengan pola makan sehat yang saya jalani.
Dengan 1 juta perbulan, saya sangat mampu beli makanan sehat dan “mewah”. Nggak percaya? Ini nih kira-kira bahan makanan yang saya konsumsi tiap hari:

Protein: Ayam, telur, sapi, babi, salmon, dory, kakap, udang

Sayuran: Brokoli, Buncis, Paprika, Wortel, Salad mix

Buah: Strawberry, Mangga, Kiwi, Alpukat, Anggur, bahkan seringkali buah impor seperti Cherry dan Blueberry

Lain-lain: Butter (bukan margarin yang lebih murah dan tidak sehat), Olive Oil (saya bahkan sudah berhenti pakai minyak goreng sawit karena alasan kesehatan)

Snacks: Keju, Almond, Macadamia Nuts

 

ALL THOSE WITH ONLY Rp.1,000,000 A MONTH

 

Apakah saya masih makan di luar? Tentu. Kehidupan sosial juga perlu dijaga. Tapi saya bisa membatasi, 500rb saja perbulannya. Untuk bulan-bulan spesial seperti momen Natal dan Ulangtahun, saya beri budget spesial sampai 750rb untuk menghadiahi diri saya sendiri.

 

Dengan memasak sendiri, saya mampu menghemat 4-8 juta Rupiah perbulannya dan sejauh ini sudah menabung biaya traveling hingga total lebih dari 150 juta Rupiah

 

Komitmen saya dimulai di Mei 2015.

November 2015, traktir dua adik saya jalan-jalan ke Singapore

Mei 2016, saya mampu traveling ke Korea

Desember 2016, Filipina

Januari 2017, liburan impulsif ke Singapore

Maret 2017, traktir orangtua liburan ke Kuala Lumpur

April 2017, Korea lagi

Mei 2017, Jepang

Juni 2017, United Kingdom (London dan Edinburgh, Scotland)

September 2017, Taiwan

Desember 2017 ini sayapun akhirnya akan ke New York City

Januari 2018 nanti, Paris

 

Dan sekarang dengan sangat bangga saya bisa bilang, bahwa semua itu saya beli dengan TUNAI, tanpa hutang.

 

Nggak cuma bisa menabung, menyiapkan makanan sendiri sudah membantu saya makan jauh lebih  sehat selama menjalaninya 29 bulan terakhir. Bonusnya banyak banget, kan?

 

“Saya nggak punya waktu” adalah kebohongan terbesar yang kita katakan pada diri kita sendiri. Saya bekerja setiap hari mulai jam 9 sampai 6, kadang 8 bahkan 10 malam. Saya bekerja nyaris setiap hari Sabtu, bahkan Minggu juga, karena ada event kantor yang harus di-handle. I don’t have time, I make time.

 

Gimana mengatasi rasa malas? Menurut saya, your goal has to be BIGGER than everything else. Kalau ada mimpi besar di depan, yang lain akan menjadi tidak penting.

 

Pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta, saya memasak sendiri karena HARUS bertahan hidup, karena tidak ada pilihan. Sekarang, saya memasak sendiri karena pilihan. Saya memilih mewujudkan mimpi saya.

 

Love,

Twelvi

 

 

16 Comments

  1. Lina Rahmadanti
    Reply
    2 November 2017 at 1:05 am

    Inspiratif banget kak. Tidak bisa ngomong apa apa, pokoknya saya terinspirasi dan termotivasi. Banget! 🙂

  2. 2 November 2017 at 1:24 am

    Thank you for sharing this inspiring post, kak. Can’t wait for the mealprep hacks. I always drooling over mealprep posts at Tasty & Goodful but still hesitate to do that.

  3. 5 November 2017 at 8:46 am

    This is so inspiring.. I never really had to “survive” with my own job karena walaupun keluarga sederhana, we SPLURGE on food, sekeluarga doyan makan dan pengeluaran untuk makan itu nyaris tanpa rem ? Habit yang terbawa sampe saya tinggal sendiri. Your 2013 – 2015 phase is mine now, pemasukan membaik tapi 2 tahun ga big travel padahal 2013 bs solo eurotrip for 3 weeks. Dari tahun lalu pengen NYC trip tp selalu kalah sama pgn makan di sini di situ.. even udah mulai niat hemat dengan masak pun masih goyah.. emang musuh terbesar ya diri sendiri itu. But this is very motivating, 1jt buat makan 1 bulan itu luarrrr biasaaa. Semoga saya bisa mengikuti jejak kak twelv. Thank you for sharing and cant hardly wait for the NYC trip and the meal prep hacks..

  4. Ulpahsm
    Reply
    5 November 2017 at 10:27 am

    Thank you for sharing this kak!?

  5. @nartie14
    Reply
    5 November 2017 at 11:28 am

    Ditunggu tips meal prepnya kakkk??

  6. 6 November 2017 at 11:26 am

    Keren banget Twelviiii! Aku juga sekarang belajar hemat di makan. Kalau dipikir-pikir tiap hari sering banget jajan-jajan gak penting gara-gara ada fitur antar makanan onlen. Mempermudah hidup sih, tapi duit cepet menipis dan badan jadi melebaaaaar.

    Sekarang sedang berusaha diet dengan gak jajan macem-macem. Baca ini jadi makin terpacu. Mari sama-sama menabung untuk traveling! #eh

    • twelvifebrina
      Reply
      9 November 2017 at 3:03 am

      SEMANGAT KAK CHIKA! <3

  7. Hanum
    Reply
    7 November 2017 at 9:17 am

    Kak.. mungkin aku gabisa masak. Tapi baca tulisan kakak aku bertekad ingin mengatur uang belanja kaya kakak juga. Biar lebih hemat dan hidup sehat. Terimakasih telah menginspirasi 🙂

    • twelvifebrina
      Reply
      9 November 2017 at 3:02 am

      Hello! Tiap orang punya cara beda-beda untuk mengatur keuangan. Kalau aku dengan memasak karena menurutku ini yang paling berpengaruh dalam flow keuangan. Tapi aku juga mengatur pos-pos lain kok, seperti belanja dan hiburan. Semangat ya! <3

  8. Bangun
    Reply
    9 November 2017 at 4:50 am

    ini kena bgt ke gw”
    “Lalu, saya merasa ada yang salah dengan batin saya. Saya pikir, dengan mampu makan enak dan nyaman di restoran dimanjakan oleh pelayan, saya sudah bahagia, sudah sukses. Ya gimana dong, sendirian merantau dari kota kecil dan orangtua PNS sederhana, ada kebanggaan semu karena saya MAMPU makan di restoran bagus. Dari kecil hidup sederhana tau-tau bisa makan enak, ada rasa lega di dalam. Mungkin karena bisa sok-sokan buktiin ke diri sendiri bahwa saya bisa hidup di Jakarta. Tapi ternyata saya kok nggak sebahagia itu?”

    klo dilihat gw sama dengan Mbak Febrina, perantau dari kampung dan sendirian di Jkt, gaji cukup lah yaa…org tua PNS. Bedanya adalah Mbak Febri udah liburan keliling dunia, dengan cash, menikmati hidup dengan makanan enak, masih bisa nabung dan ga punya hutang. Trus gw? punya banyak utang kartu kredit, ga punya tabungan dan ga pernah liburan dengan biaya sendiri ke luar negeri.

    Terima kasih buat sharingnya…gw bakal mengubah hidup gw dimulai dr sekarang dengan pola hidup seperti dari Mbak Febri.. Tuhan berkati

  9. 13 November 2017 at 4:10 am

    Hello! Salam kenaaal. Ini post paling berfaedah yang saya temuin hari ini, dan bersyukur bisa tetiba nemuin ini, bikin aku semangat untuk memasak, untukku dan keluargaku, untuk menghemat dan sehat adalah bonusnya. hiihi thank you for such an inspirational post Twelvi 🙂

  10. Putri Mira
    Reply
    15 November 2017 at 3:03 am

    Keren dan sangat inspiratif kak ☺

    • twelvifebrina
      Reply
      7 December 2017 at 11:26 am

      Thank you Putri! <3

  11. Tyo
    Reply
    19 November 2017 at 8:26 am

    Kak aku pengen bisa mealprep juga. Cuma yang belum aku paham adalah

    1. Belanja besar lalu masak besar untuk 1 minggu?

    Berarti di weekend itu langsung masak buat seminggu? Pertanyaannya gimana cara nyimpennya biar awet?

    2. Aku baca kyknya banyak yg panggang2an, sebagai anak kosan, kira2 alat masak apa yg harus dipunya?

    Terima kasih

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *