70 Days of Travel – Berhenti Bekerja Demi Traveling

Hello!

Setelah lama menunda, akhirnya hari ini punya kesempatan menulis lagi.

Kalau kamu follow aku di Twitter atau Instagram @LadyZwolf, kamu pasti tau kalau Desember 2017 kemarin aku pergi traveling sendirian ke Amerika Serikat dan Eropa selama 70 hari. Yup, dua setengah bulan. Solo traveling ke tempat-tempat yang belum pernah aku datangi sebelumnya.

Ini bukan pertama kalinya aku bepergian sendiri, tapi memang ini adalah perjalanan terlama yang pernah aku tempuh. Perjalanan selama ini, tentunya, membutuhkan rencana yang matang, waktu yang panjang, tabungan yang cukup, dan tentunya keputusan yang nekad.

Kenapa nekad? Karena aku memutuskan berhenti bekerja demi perjalanan ini.

I quit my job to travel continuously.

Sounds crazy, right?Β  Well, because it is.

Waktu itu aku bekerja di perusahaan yang aku suka banget, dan udah di situ selama hampir 2 tahun. Di perusahaan itu, aku dipercaya untuk memegang tanggungjawab yang besar, and I made a whole new family during all the ups and downs. It was hard to leave. Kalau biasanya karyawan memberikan 1 month notice untuk pengunduran diri, out of my utmost respect and love for the company, aku menyampaikan rencana perjalanan ini sejak 4 bulan sebelum keberangkatan. I wanted to give the company more time to prepare, karena aku tau ada tanggungjawab besar yang akan aku tinggalkan, dan akan sangat tidak adil buat perusahaan kalau aku resign mendadak, dan nggak mungkin juga meninggalkan perusahaan selama 2,5 bulan dengan metode unpaid leave hanya karena alasan pribadi. I understand that it would not be fair for everyone else. Jadi, satu-satunya pilihan adalah resign.

Traveling continuously adalah impian yang sudah aku simpan sejak lama, kurang lebih sejak beberapa tahun terakhir. Tadinya malah kepengen traveling nonstop 100 hari, tapi saat ini yang memungkinkan adalah 70 hari aja, jadi nggak masalah. Dan dari dulu, kepengen banget ngerasain hidup di New York selama minimal 1 bulan. Semacam test drive-lah, mau ngeliat seberapa cintanya sih aku sebenarnya dengan kota yang sudah aku impikan dari kecil ini.

Sejak lulus kuliah tahun 2011 lalu, bahkan sebelum resmi wisuda, aku sudah bekerja kantoran dan nggak pernah berhenti. Nggak pernah ada jeda di mana aku berbulan-bulan hanya di rumah saja, entah itu freelance working atau memang nggak bekerja atau menganggur. Cuti dari kantor paling lama itu 4-5 hari kerja, dan kalau mau liburan 2 minggu, artinya harus menunggu momen Lebaran, yang artinya tiket mahal. Saat pindah dari satu kantor ke kantor lainnya pun, biasanya “dibajak” jadi kadang di kantor lama terakhir hari Jumat, hari Senin sudah harus mulai di kantor baru. Haha. I’m not complaining by any means. In fact, I am really grateful. Tuhan memberi kesempatan yang luar biasa untuk aku bisa menghidupi diriku sendiri tanpa henti.

But at one point, I felt like I need to hit a RESET button. Bertahun-tahun bekerja dari pagi hingga (seringkali) malam, bahkan di weekend juga. I felt like I need to listen to my heart and just go for it.

BUT, it was not that easy at all. Our biggest enemy is ourselves. And to me, that was also the case.

Am I being a jerk? Ada ketakutan menjadi sombong sama diri sendiri. Tuhan udah kasih rejeki pekerjaan berurutan, nggak pernah menganggur, kok malah mau ninggalin karir dan rejeki yang dibangun bertahun-tahun? Sombong banget apa, ngerasa bakal bisa segampang itu lagi dapat pekerjaan yang diinginkan? Apalagi umurku sekarang 29 tahun, bukan umur yang muda lagi untuk “coba-coba” dalam hal karir.

Fear of missing home. Walau tidak lahir di Jakarta, buatku Jakarta adalah hal yang paling terasa dekat dengan rumah. Hidup sendirian di sini sejak lulus SMA jauh dari keluarga 11 tahun yang lalu, ternyata Jakarta adalah titik nyaman buatku. To leave this place for such a long time, to wander around a strange land by myself, actually sounds scary.

Risking my financial stability. Resign dari pekerjaan, nggak punya penghasilan, malah menghabiskan tabungan. Untuk orang yang terbiasa menggantungkan hidup pada diri sendiri seperti aku, ketakutan bahwa aku nggak akan bisa menghidupi diriku sendiri itu berat banget. I don’t have anyone to rely on when it comes to providing for myself. Beneran. Not even my parents. I have been working hard to provide for myself since 7 years ago, and now all of the sudden, I stopped having monthly incomes. Perpaduan antara ego, rasa malu pada diri sendiri kalau aku gagal, dan tidak mau merepotkan orangtua yang juga sudah punya bebannya sendiri, bercampur jadi satu.

Am I going to be able to pick up where I left off? Pertanyaan ini juga sesekali mampir dan menciutkan nyali. Pergi nggak ya? Yakin nih mau nginggalin karir senyaman ini cuma buat traveling? Gimana kalo nanti setelah balik susah cari kerja? Gimana kalo nganggur lama?

Intinya, perjalanan ini adalah tentang keluar dari zona nyaman, demi mengikuti kata hati.

Aku mencoba mengenali diri sendiri dan semua ketakutan itu. Mencoba mencari solusi, dan menimbang-nimbang. Entah berapa kali menimbang-nimbang, sampai akhirnya memutuskan untuk pergi mengikuti kata hati.

Lebih detail mengenai seluruh persiapan perjalanan ini akan aku tulis di blog terpisah, tapi ini adalah beberapa hal yang aku pelajari dari berhenti bekerja demi traveling:

  1. I get to know myself more. I never thought that my career is such a huge part of my life, but it is. Dan ini nggak selamanya merupakan hal yang negatif. Aku sangat bersyukur dikasih kesempatan bekerja di bidang yang aku cintai selama bertahun-tahun, dan membangun karir di sini. I learned that it is not always a bad thing if your job is a big part of your life. I learned to be more grateful, to not take things for granted
  2. I learned to find balance. Walaupun karirku adalah salah satu bagian terbesar dalam hidupku, aku belajar untuk tidak membiarkan pekerjaanku membentuk hidupku. Aku harus bisa mengambil kendali. Untuk bisa mengatur keseimbangan antara mengikuti kata hati dan mengejar ambisi. Belajar untuk tidak menjadi egois, tapi juga belajar untuk terus bergantung pada diri sendiri. I love my job, but it is not who I fully am. I am what I choose to be. My mental health matters. My happiness matters
  3. I found my RESET button. Sejak bekerja di 2011, nggak pernah seharipun nggak mikirin kerjaan. Walau cuti dari kantor, seringkali tetap harus standby email untuk memonitor pekerjaan. Traveling 2,5 bulan setelah resign memberi aku waktu untuk tenang, diam, dan benar-benar menikmati semua detik

 

Untuk yang punya keinginan traveling lama dan sedang mempertimbangkan resign, ini beberapa hal yang bisa aku sarankan berdasarkan pengalamanku:

Pertama, menabung yang cukup. Cukup versiku kemarin adalah aku harus punya modal hidup minimal 3 bulan tanpa pekerjaan setelah aku selesai traveling. Jadi jumlah uang yang aku tabung kemarin cukup untuk membiayai hidupku selama traveling dan cukup membiayai hidupku kalau-kalau setelah pulang traveling aku belum bisa menemukan pekerjaan baru

Kedua, it is always good to have back ups. Kalau memungkinkan, sebelum resign cari pekerjaan di kantor lain dan atur jadwal interview. But be honest from the beginning (before the interview) that you are going away for quite some time. Nggak fair kalau user udah capek-capek buang waktu untuk ketemu interview dan kamu baru bilang bahwa kamu baru bisa bergabung beberapa bulan kemudian.

Terakhir, enjoy your trip because you deserve it.

 

I quit my job to travel.

And it was worth it.

 

Love,

Twelvi

14 Comments

  1. Chacha
    Reply
    8 March 2018 at 2:25 pm

    Kak Twelvi, terima kasih banyak udah share pengalaman Kakak. Benar-benar menginspirasi.
    Berkat tulisan Kakak, aku jadi lebih yakin untuk mendengarkan kata hatiku. Our own happiness matters.
    Sukses selalu buat kakak ya 😊

  2. 9 March 2018 at 10:25 am

    Kak Twelvi hebat banget, ini benar-benar keluar dari zona nyaman yg luar biasa amazing. Maksudku traveling sendiri aja sudah merupakan tantangan, di tambah 2.5 bulan di negri org. omg aku 7 hari di negri orng aja kewalahan udh kangen pulang. Di tambah resign dari kerjaan, you really inspired me kak. Aku bahkan share post kamu tentang menabung dari makan dan bisa keliling Eropa semoga kakak sukses selalu yah.

    • twelvifebrina
      Reply
      15 March 2018 at 10:00 am

      Terima kasih ya <3

  3. 9 March 2018 at 10:34 am

    Ada beberapa orang yang mendapatkan limpahan rejeki dari pekerjaannya. Ada juga yang bisa melakukan keinginanya tanpa menjadikannya mimpi terus. Saya jadi bercermin, dan saya melihat hitam putih. Setelah membaca artikel ini saya seperti sudah dibangunkan dari masa terlelap selama ini.

    • twelvifebrina
      Reply
      15 March 2018 at 10:00 am

      Menurutku sebagai orang dewasa yang bertanggungjawab atas hidupnya, kita harus bisa menemukan balance antara standar yang kita bikin untuk diri kita sendiri dengan mimpi-mimpi/kata hati kita. Aku bersyukur banget bisa bekerja di bidang yang aku cintai, tapi juga ada satu impian yang dari kecil udah ada dan minta diwujudkan. Makanya aku mencari keseimbangan. Kata orang, kalau kita tua nanti, lebih menyesal tidak melakukan sesuatu, daripada melakukan sesuatu. Terima kasih sudah mampir ya πŸ™‚

  4. Nurhayati, S
    Reply
    18 March 2018 at 6:15 am

    Great !!! Dan suatu saat nanti aku ingin mengikuti kata hatiku. Dan keluar dari zona nyaman. Terimakasih sudah menginspirasi kak πŸ™‚

  5. 18 March 2018 at 11:14 am

    Found your blog when I see the link at my Twitter feed. I have briefly met you twice, during your Iris and FemaleDaily day.

    I have been living in SF and NY for study and that’s always some of the best time in my life. So keep it up!

    You have a strong independent spirit. You will do well in life!

    Reachout to me when you get back. Who knows we might find some synergy.

    • twelvifebrina
      Reply
      19 March 2018 at 11:36 am

      Hi pak Andi! Of course I remember you.
      Thank you so much you took your time to read my blog and even dropped a comment.
      I hope someday I can follow your footsteps and be better in everything I do, pak.

  6. 25 March 2018 at 11:51 am

    What a big and brave decision ya mbak! Aku masih maju mundur nih, memang butuh pemikiran dan persiapan yang matang terutama dalam finansial. Thanks for this inspiring post ya mba😘 salam kenal

    • twelvifebrina
      Reply
      21 April 2018 at 12:22 pm

      Thank you Intan! Gapapa kok, setiap orang punya perjalanannya masing-masing. You shouldn’t feel any pressure at all. Lakukan hanya saat siap mental, emosional, dan finansial. It will come to you when it’s time. Hugs!

  7. 17 April 2018 at 2:09 am

    Ceritanya sama persis kaya temen aku. Dia berani resign buat travelling 2,5 bulan di Eropa. And I support her! Because you only life once and you MUST life to the fullest! Aku pun sempet solo travelling 2 minggu ke Inggris dan Eropa Barat tapi saat itu belum sampe nekat sampai resign dan aku selalu kagum kalo dengar cerita orang yang berani traveling sampai resign. Aku doakan kamu makin sukses!

    “Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn’t do, than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails.”

    • twelvifebrina
      Reply
      21 April 2018 at 12:17 pm

      Terima kasih Rifka. Salam buat temanmu! <3

  8. @lagi_traveling
    Reply
    22 April 2018 at 4:18 am

    Salut! Ga gampang buat keluar dari zona nyaman loh. Mumpung masih single puas2in traveling karena nanti kalau sudah double or triple biaya travelingnya makin besar hahaha. Nambahin dikit ya, uang bisa dicari tapi waktu belum tentu bisa balik lagi. Ditunggu postingan berikutnya ya! Sukses terus ladyzwolf! Godspeed πŸ™‚

    • twelvifebrina
      Reply
      23 April 2018 at 10:58 am

      Thank you! <3

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *