70 Days of Travel – 9 Hal Yang Harus Disiapkan Untuk Perjalanan Panjang

16 Desember 2017 kemarin, saya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di kota yang sudah bikin saya jatuh cinta sejak usia delapan tahun. New York City, yang kata orang the city of dreams. Pertama kali keluar dari pintu kedatangan internasional di Newark Airport New Jersey, saya disambut butiran salju yang turun dari langit seperti butir-butir kapas.  Suhu saat itu -2 derajat celcius. Sekitar 30 derajat lebih dingin dari Jakarta yang waktu saya tinggalkan masih bersuhu 28 celcius.

 

Itu adalah winter pertama saya. Angin dingin berhembus menusuk kulit, tapi saya memekik bahagia. Literally memekik. Saya ingat banget, saat berjalan dari pintu kedatangan airport menuju halte bus yang menuju Manhattan, saya berlari kecil mendorong koper 23kilo sambil senyum-senyum dan ngomong sama diri sendiri “Am I really here?”.

 

Butiran salju yang jatuh dan hinggap di bahu seolah menyambut saya. Hari pertama dari 70 hari perjalanan sayapun resmi dimulai.

 

Saya sudah solo traveling sejak 2012, tapi belum pernah selama ini. Paling lama 2 minggu. Saya menyiapkan perjalanan ini matang-matang selama satu tahun sebelum keberangkatan, dari mulai merencanakan keuangan, Tourist Visa, kota tujuan, hingga pilihan akomodasi. One thing about me is I LOVE PLANNING FOR MY TRIP. Membayang-bayangkan New York sejak setahun sebelum berangkat, membuat satu tahun berlalu begitu cepat dan setiap hari saya berangkat ke kantor dengan semangat. Walaupun banyak kerjaan, stress, dan lembur, nggak masalah karena saya tau saya sedang menabung untuk New York.

 

Dari kecil, kepengen banget Natalan dan tahun baruan di New York. It truly was my ultimate wish list. Makanya saya memilih New York sebagai perhentian pertama. Dari 70 hari traveling, 30 hari saya habiskan di New York supaya puas hahaha dan 40 hari sisanya di Eropa. Jadi dari New York, saya terbang langsung ke Paris, dan keliling Eropa dari sana.

 

26 Februari 2018, saya kembali ke Jakarta. Dengan tabungan yang angkanya menipis, tapi kebahagiaan yang menebal. I have never been this happy and content in life. Setiap kerja keras bekerja dan perjuangan menabung gila-gilaan, semuanya terbayar lunas. It was amazing and life changing. It was worth every penny.

 

Oh ya, dari Jakarta ke New York, saya kemarin membawa 1 koper ukuran 28 inch, 1 ransel untuk di cabin, dan 1 sling bag untuk tempat dompet dan HP. Nanti saya akan tulis blog terpisah mengenai apa saja yang perlu dibawa untuk perjalanan panjang saat winter.

 

Buat kamu yang tertarik mau traveling ke US dan Eropa agak lama, berikut ini adalah beberapa hal yang saya persiapkan untuk trip panjang saya kemarin:

 

  1. Tabungan

Ini sih udah jelas banget ya, kecuali kamu punya sugar daddy di Amerika atau berencana menjual ginjal di pasar illegal (not recommended), tabungan yang memadai akan sangat berpengaruh terhadap kenyamanan saat traveling.

Eits, jangan langsung takut atau buru-buru mikir saya ini memang anak orang kaya. Untuk keperluan traveling 70 hari ini, saya nggak menyiapkan uang ratusan juta kok. Dari Indonesia, saya kemarin bawa uang 100jutaan tunai untuk modal traveling, ini di luar tiket pesawat yang sudah dibeli dan beberapa penginapan yang sudah dibayar jauh-jauh hari.

Saya juga menyiapkan beberapa puluh juta di rekening lain untuk modal hidup setelah pulang traveling. Karena untuk trip ini saya resign dari pekerjaan, maka saya menyiapkan uang yang cukup untuk bertahan hidup setidaknya 3-4 bulan setelah kembali ke Indonesia, sampai saya dapat pekerjaan tetap lagi. Yes, I quit my job to travel, baca tulisannya di sini.

Untuk jumlah total pengeluaran saya selama 70 hari kemarin, akan saya tuliskan di blog terpisah setelah ini.

 

  1. Kartu Kredit

Jujur, sebelum trip 70 hari ini saya tidak pernah tertarik punya kartu kredit.

Yup, saya sudah berpenghasilan sejak 2011 tapi baru punya kartu kredit di akhir 2017 kemarin. Saya bikin kartu kredit juga cuma buat keperluan trip ini aja. Fungsi kartu kredit saat traveling di luar negeri menurut saya lebih karena praktisnya, misalnya perlu beli tiket bus/kereta api online, atau saat ribet dan nggak sempat menukar uang atau susah mencari ATM dengan rate yang manusiawi.

Supaya nggak punya hutang menumpuk sehabis traveling, setiap malam hari saya langsung bayar kartu kredit saya sesuai pemakaian saya hari itu. Dengan cara ini, saya punya kontrol penuh terhadap jumlah uang di dalam tabungan, jadi nggak ngerasa masih punya banyak uang padahal sebenernya ngutang.

Untuk mempermudah proses bayar-membayar kartu kredit, saya juga selalu bawa token internet banking saya kemana-mana

 

  1. VISA

Ini adalah salah satu bagian paling ribet buat orang Indonesia yang mau bepergian ke negara-negara di luar Asia Tenggara. Karena bagian ini yang paling banyak bikin deg-degan dan persiapannya paling panjang.

Tapi bener nggak sih membuat VISA Schengen dan US itu sesulit itu?

Menurut saya, enggak. Asalkan kita sudah punya tabungan yang cukup sejak jauh-jauh hari, dan memenuhi seluruh persyaratan dokumen termasuk itinerary perjalanan, nggak ada alasan bagi kantor kedutaan untuk menolak VISA kita kok.

Yang pasti, yakinkan pihak kedutaan bahwa tujuan kita adalah untuk melancong, bukan untuk jadi imigran gelap apalagi teroris.

Visa yang pertama saya urus kemarin adalah Visa US. Karena berangkat Desember, aku mengurus Visa US sejak Oktober. Sebenarnya sih di dalam persyaratan Visa US nggak diwajibkan menyertakan tiket PP, tapi karena saya sudah beli jauh-jauh hari, akhirnya saya sertakan saja. Dan bener, nggak ditanya sama sekali haha.

Kemudian, yang terpenting adalah kita harus tau betul itinerary kita saat perjalanan nanti. Dan jawab semua pertanyaan interview dengan tenang, jujur, dan lancar. Jangan mengurus Visa tapi nggak tau mau menginap di mana, sama siapa, dan nggak bisa jawab pertanyaan dengan lancar.

 

  1. Asuransi Perjalanan

Terutama buat perjalanan panjang sendirian, ini penting banget. Saya pergi 70 hari, dan saya nggak tau apakah dalam 70 hari itu saya akan sehat terus atau jauh dari kecelakaan. Walau nggak ada yang pengen sakit/kecelakaan, namanya akan ada di negeri orang, lebih baik bersiap-siap untuk segala kemungkinan.

Untuk travel insurance, saya udah berkali-kali selalu beli dari www.futuready.com (ini jujur dari hati paling dalam dan nggak di-endorse, tapi kalo ada bos Futuready yang kebetulan baca blog ini, saya mau banget lho kalo di-endorse. #LAH #MURAH ahahaha)

Di Futuready, saya tinggal pilih mau ke negara apa, lalu berapa lama, lalu nanti mesin pencari Futuready akan merekomendasikan beberapa jenis asuransi dari perusahaan yang berbeda-beda. Saya bisa pilih sendiri berdasarkan jumlah premi yang mau saya bayar dan jumlah total value yang bisa saya dapatkan.

Buat saya yang traveling sendirian dan paling nggak paham apa-apa soal asuransi, Futuready ini membantu banget. Semuanya dilakukan online, lalu kalau kita sudah direview dan disetujui, polis asuransi kita akan dikirim via email.

Kalau kita sakit di negara destinasi, tinggal ke RS aja, lalu pakai dulu uang sendiri, tapi kumpulkan semua dokumen dari RS. Nanti begitu pulang traveling, kita isi polis asuransi, dan laporkan ke Futuready beserta seluruh dokumen pemeriksaan, dan uang akan diganti. Gampang banget kan?

 

  1. SIM Card atau Mobile WiFi

Karena traveling sendirian, internet buat saya wajib hukumnya. Pokoknya begitu mendarat di airport negara manapun, yang pertama dilakukan adalah menyalakan HP. Internet ini penting banget untuk cari info mengenai transportasi dan petunjuk jalan ke penginapan.

Ada 2 hal yang bisa kita siapkan sejak sebelum berangkat, bisa pilih mau International SIM Card atau Mobile WiFi. Semua ada plus minusnya.

SIM Card tentu lebih praktis, tapi karena hanya bisa diaktifkan begitu sampai di negara tujuan dan nggak bisa dikontrol dari jarak jauh, kalau ternyata SIM Cardnya bermasalah, ya kita bakalan gigit jari di airport karena kantornya di Jakarta juga nggak akan bisa ngebantu apa-apa kecuali me-refund uang kita. Selain itu biasanya SIM Card turis model begini juga nggak bisa di-top up. Jadi kalau kuotanya habis, ya kita harus buang kartunya dan cari kartu baru di negara tujuan.

Mobile WiFi akan makan tempat. Harus rajin ngecas, harus bawa powerbank tambahan, dsb. Tapi kalau terjadi apa-apa di negara tujuan, kita bisa dibantu oleh tim IT dari Indonesia untuk mengubah/memperbaiki settingan mobile WiFi kita.

Saya sendiri sudah pernah pakai dua-duanya. Untuk Mobile WiFi, saya biasanya pakai dari Wi2Fly, dan untuk International SIM Card kemarin saya menggunakan jasa Java SIM.

 

  1. Gambaran Singkat Mengenai Penginapan dan Lokasi Tempat Tinggal

Biasanya untuk pengurusan VISA, saya pesan hostel dari booking.com yang bisa dicancel. Begitu VISA disetujui, saya cancel seluruh booking, baru cari penginapan dengan lebih seksama dan hati-hati.

Saya seneng bacain semua review di Tripadvisor mengenai penginapan yang mau saya pilih, supaya lebih dapat gambaran mengenai jenis-jenis tamu yang menginap di sana.

Saya juga punya kebiasaan aneh untuk ngelihat seluruh detail penginapan yang mau saya pilih melalui Google Street View, supaya dapat gambaran mengenai lokasi lingkungan dan ada apa saja di sekelilingnya. Nggak tau ya saya ini ekstrim atau enggak, tapi saya orangnya emang organized dan punya attention to details yang cukup parah hahahah, dan proses nge-stalking penginapan melalui Google Street View ini bikin saya makin deg-degan excited nggak sabaran untuk segera traveling. Rasanya bahagia banget gitu. I’m usually so obsessed with every trip that I’m going to make.

 

  1. Salin Seluruh Dokumen Penting

Mulai dari KTP, KK, Akte Lahir, Paspor, Tiket Pesawat, Booking hotel, sampai Itinerary, semua saya salin dalam bentuk digital (JPG/PDF) lalu saya upload ke personal drive seperti Google atau Dropbox. Karena kalau lagi traveling ke luar negeri, satu hal yang paling saya “takutkan” adalah kehilangan dokumen penting. Bukan karena takut dijual ke raja minyak, tapi karena saya tau untuk mengurusnya akan sangat ribet.

Jadi penting untuk punya seluruh salinan digital dari dokumen penting. Just in case.

 

  1. Beri Kabar Ke Keluarga/Orang Terdekat Mengenai Rencana Perjalanan

Terutama mengenai tanggal keberangkatan, jenis dan nomor pesawat/kereta/bus, dsb. Nggak ada yang tau apa saja yang bisa terjadi di jalan. Tapi kalau terjadi sesuatu dan kita mendadak nggak ada kabar, keluarga/orang terdekat tau kita terakhir kali ada di mana. Biasanya saya paling senang update ini ke dua orang adik saya, selain karena saya memang dekat dengan mereka, mereka juga sekaligus ahli waris asuransi perjalanan saya. Jadi kalau memang terjadi apa-apa, mereka tau harus melapor ke asuransi saya nantinya. Nothing creepy here, really, namanya juga traveling sendirian ya harus siap mikirin segala kemungkinan dan akan lebih baik kalau berpikir logis.

 

  1. BE EXCITED! BE SCARED! BE HAPPY!

Kalau ngerasa takut, nikmatin aja. Itu bukan takut kok, itu nervous, a good kind of nervous. THE BEST kind of nervous.

Dalam hidup, aku selalu punya prinsip: If your dream doesn’t scare you, then it’s not big enough.

 

 

Jadi, mau traveling ke mana tahun ini?

 

Love,

Twelvi

7 Comments

  1. 22 April 2018 at 3:42 pm

    Traveling memang bikin hepi and good on you for being courageous enough to do it by quitting your job to travel. Not many people would dare to do that.

    Ngobrolin tentang duit, aku kapan hari sempat kecurian tas di sini di Copenhagen (tas ku ngga ada duitnya) tapi tetep ngganti kartu2 itu menyebalkan. Pas ke kantor polisi buat bikin surat laporan, ada pasangan Jepang elderly yg jg lagi bikin laporan dan mrk upset banget, krn bawa beribu2 dolar dalam tas mrk yg dijambret/copet

    My point is hati hati bawa duit tunai. Rata2 di Eropa (krn taunya itu) para maling ini nargetin turis Asia krn mrk yg bawa duit tunai banyak. Mungkin itu jg kenapa alesan aku dicopet (sebelumnya 12 tahun tinggal disini ga pernah kena copet) mungkin krn aku dikira turis, tapi ternyata dompetku ga ada isinya, kesel dong ya.

    Di Eropa Utara setidaknya semua2 transaksi pake kartu jadi ga perlu bawa tunai samsek. Mungkin di amerika budayanya memang masih kontan, but aku cm mau share aja pengalaman disini

    • twelvifebrina
      Reply
      23 April 2018 at 10:58 am

      SETUJU! Terima kasih banyak, Eva <3

  2. 6 May 2018 at 12:56 pm

    Waa super excited! Ini pertama kalinya aku menuliskan komentar setelah bertahun-tahun menjadi silent reader. Membaca pengalaman kak Twelvi membuatku nggak sabar untuk tinggal beberapa tahun di New York. Indeed, preparation is an important point. Terima kasih banyak sudah berbagi pengalamannya selama ini. Anyway, berkat postingan mengenai http://twelvifebrina.com/2017/11/02/saya-menabung-lebih-dari-150-juta-rupiah-untuk-traveling/ saya jadi menemukan semangat kembali untuk menabung deposito selepas lulus kuliah 🙂

    • twelvifebrina
      Reply
      20 May 2018 at 11:09 am

      Semangat! <3

  3. 10 May 2018 at 5:15 am

    akhirnyaaa nemuin blog yang kayak beginiiiiaaan. dan langsung folow igmu aku kak! hihi
    aku enjoy baca2 tulisanmuu, dan menginspiraasi banget. pengen bacain tulisan ini sampe belakang2 rasanya 😀
    Anyway kenalin aku yusi, sama kayak kakak aku suka make up, travelling, juga KULINER! hihi
    Salam kenal kaak

    • twelvifebrina
      Reply
      20 May 2018 at 11:08 am

      Salam kenal! Thank you sudah mampir ya <3

  4. 5 June 2018 at 11:53 am

    Salam kenal kak Twelvi! Awal nyasar di blog ini waktu nyari2 info tentang mealprep truuus aku keterusan stalking blognya, gilaaaak kerenn banget! I adore youuu. Two thumbs up deh berani resign dari kerjaan demi mengejar impian. Sangat menginspirasi, habis ni semakin getol nabung buat traveling😘😘

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *