“Strangers, Again”

Lucu betapa hidup memiliki selera humor yang kejam.
Kita seringkali tidak mengerti bagaimana ia bekerja.

Mengapa ia harus menarik benang-benang merah yang mengikat kaki kita berdua mendekat, hanya untuk direnggangkan kembali.
Mengapa ia harus mempertemukan dua anak manusia dan membuat salah satu dari mereka jatuh cinta sedangkan yang lainnya tidak.
Mengapa ia harus mempersatukan mereka berdua pada tempat dan waktu yang paling tidak tepat.
Tidak ada yang tahu jawabannya.
Tidak aku.
Tidak juga kamu.

Namun begitu aku bersyukur hidup mempertemukan kita, memberikan kita kesempatan saling peduli lebih dari tiga ratus hari lamanya.

Aku bersyukur kamu mengambil keputusan untuk menghubungiku lagi hari itu. Di suatu sore di tengah-tengah rutinitas kerja kita, setelah nyaris dua tahun tidak bertegur sapa. Seperti itu saja, kisah kita dimulai dari satu ajakan makan sore yang sederhana.

Tidak ada yang mengerti cara kerja waktu. Tidak juga kita waktu itu. Dengan alami kita bergerak dari pertemuan pertama ke pertemuan kedua, terus bergulir hingga ratusan pertemuan berikutnya. Hingga aku lupa kapan tepatnya aku mulai jatuh cinta.

Lalu kenyataan mulai menampakkan wujudnya yang paling tidak kita suka. Kita masih tidak mengerti kenapa hidup mengijinkan aku jatuh cinta sedang kamu tidak.

Aku tidak ingat kapan tepatnya, tapi saat kita sadar, kita menemukan salah satu dari kita sudah lama berhenti mencoba.

Aku bersyukur Tuhan pernah menempatkanmu dalam hidupku. Mengijinkan aku merasakan bahagia untuk sementara waktu.

Aku bersyukur untuk kita. Untuk semua obrolan tentang cita-cita. Untuk semua curahan hati tentang kisah-kisah cinta lama. Untuk percakapan tentang kebiasaan ayah-ayah dan ibu-ibu kita. Untuk seluruh diskusi hal-hal tidak penting hingga yang paling genting.

Tapi lihat kita sekarang. Benang merah yang mengikat kakimu dan kakiku akhirnya kembali merenggang. Kita tidak lebih dari dua orang anak manusia yang akan segera jadi orang asing bagi satu dan lainnya.

Lucu rasanya betapa seseorang yang pernah sangat berarti dalam hidup kita selama beberapa ratus hari lamanya, akan segera menjadi orang asing yang baginya kita tidak berarti apa-apa.

Sampai sekarang aku masih belum mengerti cara cinta bekerja di dunia.
Sampai sekarang aku masih berjuang melawan diriku sendiri. Melawan keinginan untuk merangkak kembali ke pelukan karena kamu telah membuatku merasa amat sangat nyaman.

Kita harus melepas. Kita harus ikhlas. Kita harus paham bahwa beginilah cara hidup mengajari kita tentang kasih sayang. Mungkin kita tidak perlu mengerti tentang cinta untuk bisa mencintai.

Dan tentang kita, semoga suatu hari hidup mengijinkan kita mencoba lagi. Mengujicoba kembali keberuntungan kita dalam urusan hati. Dengan mereka, yang baginya benang merah di kaki kita masing-masing berujung. Mereka, yang padanya kita masing-masing menemukan rumah.

To K.

5 years of knowing each other. 3 years of always being there for each other.

I loved it all.

Have a great life ahead!

Daripada diam aku memilih bertengkar. 

Bertengkar sampai kita lupa alasannya kenapa. 

Lalu berpelukan dan berbaikan.

Karena bahkan saat membencimu, aku masih mencintaimu.

They say everyone come into our life to teach us something. When someone is in your life for a reason, It is usually to meet a need you have expressed. They have come to assist you to grow, to learn, to provide you with meaningful experiences that you have never experienced before. To aid you physically, emotionally, or spiritually. They are there for the reason you need them to be.

Then, at an inconvenient time, this person will say or do something to bring the relationship to an end. Sometimes they walk away. Sometimes they hurt you and force you to take a stand. Sometimes they die. What we must realize is that our need has been met, our desire fulfilled, their work is done. Your need has been answered, and now it is time to move on.

Tuhan Kok Galak?

Dari kecil sampe ABG, orangtua nyuruh tiap minggu ke Gereja. Katanya
“Nanti Tuhan marah!”. Nyuruh kerjaan rumah ini-itu, kalo enggak,
nyokap/tante/paman bakal bilang “Nanti Tuhan marah!”. Tuhan itu kesannya
pemarah sekali.

Waktu sesekali malas ke Gereja atau malas
ngerjain kerjaan rumah, ngeliat bokap berubah jadi semacam sosok galak
menakutkan. Lalu jadi mikir, ini sebenernya yang marah Tuhan apa Ayah?

Akhirnya ke Gereja karena takut orangtua, bukan karena Tuhan.

Makin dewasa, makin mencari sendiri Tuhan itu seperti apa, dan ngerasa kok waktu kecil semacam diboongin. Tuhan itu penuh kasih, ternyata. Kok ditakut-takutin bakal dimarahin Tuhan?

Entah cuma perasaanku aja, tapi manusia senang mengontrol sesama
manusia dengan bawa-bawa nama Tuhan. Nakut-nakutin bawa nama Tuhan.
“Lakukan ini! Karena kalau enggak nanti Tuhan marah!”.

“Kamu harus benci
sama itu, karena kalau enggak nanti Tuhan marah!”.

“Jangan temenan sama kaum itu, nanti Tuhan marah!”

Nah lho, Tuhan dibikin jadi sosok yang penuh kebencian.

Karena rasa takut itu lebih cepat
efeknya. Karena kita malas bercerita yang indah-indah.

Tuhan itu setauku adalah sosok penuh
kasih sayang. Sekarang ke Gereja atau berdoa karena rindu, bukan takut. Semoga nanti kalo udah jadi orangtua,
bisa menceritakan tentang Tuhan ke anak-anak dari sisi yang berbeda.

And so she wished away.

One more time.

Upon the stars and skies above.

And she waits.

Still holding on to the hopes that keeps her alive.

And waits.
And waits.

For God to finally give the answer.
To the crossword puzzle.
The four letter word you supposed to show her.

So she waits.

And she becomes really good at waiting.

And that is a sad thing to be good at.

Bromo, Minus Lima, dan Tuhan

Saya akhirnya dapat kesempatan untuk mengunjungi Gunung Bromo, yang sejak kecil cuma bisa saya lihat dari televisi. Gunung Bromo, gunung berapi aktif yang terkenal dengan kemegahannya yang luar biasa.

Dari Malang, saya dan teman-teman seperjalanan menuju kaki Gunung Bromo dengan mobil sewaan.  Kamipun beristirahat di salah satu villa di kawasan kaki gunung sebelum subuh tiba. Cuaca di kaki gunung sangat dingin, drastis sekali perbedaannya ketimbang di Jakarta. Berbekal celana panjang dan jaket seadanya, saya menguatkan diri menahan dinginnya cuaca.

Pukul 3 pagi, deru mesin mobil JEEP di halaman villa membangunkan saya dan teman-teman yang masih sangat mengantuk dan kedinginan. Kami lalu bergegas membawa peralatan yang diperlukan dan menumpang mobil gagah itu untuk naik ke puncak Bromo.

Semakin tinggi kami meninggalkan daerah pemukiman penduduk, semakin ngilu rasanya kulit di badan  kami. Udara semakin dingin, oksigen semakin tipis. Jalanan menanjak yang kurang mulus juga menambah semua pengalaman kurang menyenangkan.

Sesampainya di puncak Gunung Bromo pukul 4 pagi, saya sulit bernafas. Udara di termometer portable yang kami bawa menunjukkan angka -5 derajat Celcius. Saya sempat tak percaya mata saya sendiri. Minus lima derajat! Turun dari mobil, tanah di sekitar saya rasanya berputar-putar, ujung hidung saya seperti beku, perut saya mual akibat diguncang-guncang selama perjalanan. Tak lama, saya akhirnya menyerah, lalu muntah. Badan saya yang cuma dibalut jaket tipis seadanya ternyata tak kuasa menahan dinginnya hembusan angin di puncak Gunung Bromo. Saya akhirnya terpaksa menyewa satu lagi jaket bulu super tebal dan berat dari tempat penyewaan setempat. Jaket bulu yang gimbal dan lusuh itu entah sudah berapa ratus kali menyentuh tubuh pendaki-pendaki lain, tapi saya tak peduli. Kekejaman puncak Bromo membuat saya merasa kalah, merasa tidak berdaya. Saat saya melihat sekeliling, ternyata saya bukan yang satu-satunya. Saya menyaksikan beberapa manusia yang lebih tinggi dan tegap daripada saya, juga luluh lantak dihempas dinginnya angin.

04:30 Pagi. Setelah membaluri tubuh dengan setengah botol minyak kayu putih yang saya bawa, saya akhirnya siap menanti detik-detik bangunnya sang matahari. Bersama ratusan pendaki lain, saya menunggu di tepi puncak. Suara-suara manusia yang saling bicara dan berbisik mendadak lenyap saat segaris cahaya jingga muncul di depan mata dan semakin menyala. Semua diam, semua terpaku. Bola api raksasa di depan mata semakin tinggi, semakin kontras pula ia dengan kegelapan di sekelilingnya. Angin beku yang tadinya menusuk hingga ke relung-relung jiwa, perlahan semakin menghangat. Sebagian dari kami bergumam kagum, sebagian tertawa bahagia, dan ada juga yang berdoa.

Subuh yang ajaib itu, di depan matahari dari puncak Gunung Bromo, saya merasa sangat kecil. Saya tidak pernah merasa sekecil itu dalam hidup. Alam Semesta yang luar biasa ini memang jauh lebih besar dan perkasa ketimbang kelihatannya. Saat angin pagi dibawa matahari menyentuh wajah saya, dibawanya pula seluruh kesombongan manusiawi saya. Pergi beserta seluruh ragu yang ada dalam diri saya. Ada rasa berserah yang luar biasa, muncul bersamaan dengan naiknya cahaya kekuningan megah itu ke atas kepala. Kemudian tanpa sadar saya menitikkan air mata dan mengucap nama Tuhan.

Subuh itu, saya dibuat Tuhan untuk bukan hanya mengamatiNya, tapi juga mengamati manusia-manusia di sekeliling saya. Dari ratusan pendaki yang ada, nyaris seluruhnya membawa serta kamera. Mengabadikan momen yang bisa jadi merupakan pengalaman pertama dan terakhir kalinya. Beberapa bahkan membawa peralatan kamera profesional yang lengkap. Saya tersenyum, mengingat bahwa foto-foto yang mereka hasilkan pastilah sangat luar biasa, terutama dengan seluruh perjuangan untuk sampai di titik itu di Gunung Bromo.

Sejak itu, setiap kali melihat foto-foto bagus, saya selalu teringat pengalaman di Bromo. Teringat mengenai perjuangan fotografer-fotografer yang menghasilkannya. Tentang momentum saat foto itu diambil. Tentang perjalanan hidup yang mereka alami saat mengabadikannya.

Ini adalah beberapa foto yang sempat saya ambil subuh itu dari Bromo.

image

image

image

image

Dan ini ada satu video persembahan Canon yang saya suka sekali, yang bercerita tentang momentum di balik karya-karya foto menarik yang dihasilkan orang di sekeliling kita.

Salam sayang,

Twelvi

Demi Cantik: Dari Kejut-Kejut Listrik Sampai Jepret Karet

Perawatan kecantikan di klinik eksklusif seharian bernilai jutaan rupiah, dan dibayarin? Perempuan mana yang nggak mau!

Itu juga yang ada di pikiran saya waktu pertama kali dihubungi oleh tim @WeYapID kurang lebih sebulan yang lalu. Katanya, saya akan ditraktir perawatan Facial, Slimming, dan Laser di klinik Medikpro Gunawarman. Alasannya, karena saya termasuk salah satu dari 5 orang Celebrity Yapper sepanjang tahun 2014 lalu. Senangnya bukan main!

Celebrity Yapper adalah sebutan yang diberikan @WeyapID untuk orang yang aktif menggunakan, mengakses, dan menulis review di www.weyap.com. Jadi, Weyap punya sistem pengumpulan poin yang memungkinkan setiap penggunanya untuk “menapaki jenjang status sosial” (duh, bahasa gue!) di dalam komunitas Weyap. Semakin banyak menulis review, meng-upload foto, membuat kategori, mem-follow sesama user, dsb, akan semakin besar pula kesempatan seseorang untuk mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya. Makin banyak poin, makin tinggilah “status sosial” user tersebut di dalam Weyap. Dan makin banyak poin, makin besar kesempatan untuk mendapatkan treatment-treatment spesial dari Weyap.

Treatment spesial ini bukan cuma perihal hadiah macam voucher belanja, pulsa, atau gadget seperti yang biasanya diberikan oleh brand/kontes lain untuk pesertanya. Di Weyap, reward yang diberikan untuk user biasanya lebih ke experience yang banyak sekali added value-nya, and they’re all surprisingly delightful. Misalnya, diundang ke event/launching tempat-tempat seru terbaru di Jabotabek, atau diajak jalan-jalan bareng Yapper lain, atau ya seperti yang baru saya rasakan ini; ditraktir perawatan kecantikan seharian di klinik bagus.

Di Weyap, saya juga jadi ketemu dan kenalan banyak teman-teman baru sesama Yapper. Dan karena Weyap lumayan sering bikin meet-up sesama Yapper, saya dan teman-teman baru ini nggak cuma temenan di Weyap, tapi juga jadi saling follow di Twitter dan sering ngobrol. Gara-gara Weyap saya jadi kenal sama @rockadocta, @geretkoper, @thisisayutami, @bebsAya dll.

Oh iya, balik ke soal MedikPro. Jadi, MedikPro adalah klinik kecantikan yang terletak di Jln Gunawarman no. 65, Kebayoran Baru. Klinik yang terletak satu lantai di atas Le Gourmand Cafe ini menawarkan beragam perawatan kecantikan yang mampu menunjang penampilan pria dan wanita. Mulai dari basic treatment seperti Facial dan Hair Removal hingga Laser, tersedia lengkap di MedikPro.

Hari Minggu, 18 Januari 2015 kemarin, saya mencoba perawatan di MedikPro untuk pertama kalinya berkat Weyap. Secara lokasi, semua pasti setuju kalau daerah Kebayoran Baru emang sarangnya klinik kecantikan yang oke oke. Strategis, mudah dijangkau, dan lingkungan sekitarnya mendukung banget buat nongkrong-nongkrong kece. MedikPro juga demikian. Bukan cuma letaknya di area strategis, tapi MedikPro ini terletak persis di atas Le Gourmand Cafe yang terkenal dengan kopi dan es krim nya.

Pertama nyampe di MedikPro, yang langsung kepikiran adalah bahwa tempat ini oke banget buat perempuan-perempuan yang datang bersama pasangannya. Nggak perlu pusing deh, pas lagi perawatan, pasangan kita bisa nunggu sambil makan atau ngopi dan WiFi-an di bawah.

Klinik MedikPro tidak terlalu luas, hanya ada 4 ruangan di dalam klinik, yakni ruang perawatan biasa (Facial, Slimming), ruang laser, ruang couple treatment, dan ruang untuk Botox, Filler, dll. Ternyata, waktu ngobrol dengan pemiliknya, klinik MedikPro memang disengaja berukuran lebih kecil agar lebih homy dan privacy tamu tetap terjaga. Jadi kalau ke MedikPro dan terlihat sepi, jangan heran. MedikPro mengatur appointment setiap tamunya sedemikian rupa agar tidak ada antrian. Pokoknya kalau treatment di MedikPro, tamu akan merasa seperti diberi pelayanan pribadi.

Waktu itu saya mencoba perawatan Facial, Slimming, dan Laser di MedikPro. Seluruh perawatan menghabiskan waktu sekitar 4 jam. Puas banget! Secara pelayanan, dari skala 1 – 10, saya kasih MedikPro nilai 9. Seluruh terapis ramah, mudah senyum, asik diajak bercanda, dan yang paling penting, mereka sangat komunikatif dan paham product knowledge. Karena saya baru pertama kali mencoba 2 dari 3 perawatan di MedikPro kemarin, saya cenderung lebih cerewet dan banyak tanya, dan terapis menjawab seluruh pertanyaan dengan baik dan sangat membantu.

FACIAL: Krim massage yang dipakai terapisnya wangi banget dan menyenangkan. Pijatnya enak dan bener-bener bikin rileks sampai saya nyaris ketiduran. Metode dan teknik sih standar ya, sama aja kok sama Facial di klinik kecantikan lainnya.

SLIMMING: Nah yang ini saya baru pertama kali coba. Di MedikPro, sebelum Slimming Treatment, pelanggan akan diukur dulu mulai lingkar perut, lingkar pinggang, lingkar pinggul, sampai berat badan. Setelah itu, kita akan disuruh naik ke tempat tidur dengan hanya menggunakan kemben di bagian dada saja. Secara garis besar, ada 3 tahap dalam Slimming Treatment di MedikPro. Yang pertama: Pijat. Perut akan dipijat oleh terapis dengan bantuan krim selama kurang lebih 15 menit. Menurut terapis, tujuannya adalah untuk melancarkan peredaran darah. Yang kedua: Penghancuran Lemak. Di tahap ini, terapis akan menggunakan alat yang mirip senter dengan sinar merah yang akan digosok-gosokkan ke seluruh perut dan pinggul. Nggak berasa apa-apa, tapi waktu alatnya menyentuh kulit, telinga pasien akan berdengung. Proses ini berlangsung selama 15 menit. Yang ketiga: Pengencangan. Di tahap ini terapis akan menggunakan alat lain yang berbentuk seperti lempengan logam bundar yang bisa menghantarkan aliran listrik ke tubuh kita. Waktu alat menyentuh area perut, nggak ada rasa kesetrum sama sekali, melainkan rasa agak panas yang cenderung nyaman sekali. Di tahap ini saya nyaris tertidur. Setelah semua tahap selesai, perut akan dibersihkan lalu diolesi lotion pelembab, lalu kita akan diukur kembali. 45 menit menjalankan terapi, lingkar perut dan pinggul saya berkurang 2cm, dan berat badan berkurang 700gr. Terus terang saya agak bingung, sih, dari mana jalannya berat badan bisa berkurang. Tapi mungkin lemak-lemak yang sudah dihancurkan tadi keluar dari tubuh dalam bentuk keringat yang langsung menguap karena panas alat? Kurang tau juga. Tapi so far menurut saya oke, kok. J

LASER: Salah satu terapi lain yang baru pertama kali saya coba. Berbeda dengan terapi lainnya, laser hanya bisa dikerjakan oleh dokter klinik. Ruang laser juga dibedakan khusus, lengkap dengan meja dokter untuk konsultasi. Gimana rasanya? Gini deh, selama ini saya pikir Chemical Peeling adalah puncak rasa sakit perawatan wajah, tapi saya salah. Laser jauh lebih sakit dari treatment apapun yang pernah saya rasakan. Rasanya seperti di-jepret karet gelang tepat di wajah… tapi oleh 100 orang bersamaan. Hahaha. Menurut dokter, laser berguna untuk membuat kulit wajah lebih glowing karena sel akan di-regenerasi. Kata dokter juga, karena kulit saya masih muda dan bagus (YAAAAY!) jadi perawatan laser tidak perlu dilakukan rutin, kalaupun ingin laser, pilih yang untuk rejuvenate kulit aja, bukan untuk yang anti-aging. Dokternya asik banget, ramah ngajak ngobrol dan bisa ditanya-tanya. Bahkan, saya sampai konsultasi colongan sama dokternya soal terapi Filler wajah. Hihihi. Walau sakit, terapi laser berjalan cukup cepat kok, mungkin sekitar 5 menit. Ya nggak kebayang juga sih kalau sakit begitu sampe 30 menit. But well, beauty is pain, they said. Terapi Laser ini juga jadi perawatan yang paling mahal dibanding ketiga terapi lainnya, harganya nyaris 4 juta rupiah untuk 1x perawatan. Setelah terapi, saya diberi krim oleh dokter. Katanya setelah 3-5 hari wajah akan terlihat lebih glowing dan kulit lebih kenyal.

In summary, saya puas sama pelayanan di MedikPro. Semua alat juga dijaga kebersihan dan dijamin higienis. Kalau punya rejeki, mungkin saya akan ke MedikPro lagi sih, terutama kalau treatment laser ini hasilnya signifikan.

Thank you for the treat, Weyap! :3

 

Mencintai Diri Sendiri (Dengan Selfie?)

Semua diawali dengan tweet dari Teh @NitaSellya mengenai plus size fashion bloggers Indonesia, beberapa bulan yang lalu.

“Di Indonesia ada fashion blogger yang badannya ukuran besar gak sih? Perasaan nemunya yang langsing intimidatif melulu.”

Percakapan seru antara saya, teh Nita, dan beberapa teman-teman lain di timeline menjadi semakin hangat hari itu. Sampai di satu titik saya tersadar bahwa memang benar, di Indonesia kayanya langka sekali ada plus size fashion blogger yang bisa jadi inspirasi perempuan

Diskusi terus memanas sampai entah siapa yang mulai celetuk duluan, seseorang mendorong saya untuk serius jadi plus size fashion blogger.

Awalnya nggak pede, karena melihat betapa social media bisa menjadi sarana bully yang demikian kejam. Tapi kemudian ada salah satu follower yang bilang, bahwa seringkali bukan masalah ukuran atau penampilan, bullies will be bullies.

Dan benar kok, banyak sekali fashion blogger yang saya follow di social media (mau plus size atau enggak) yang tampilannya udah flawless banget, tapi masih ada aja troll yang komentar jahat. People can be really mean sometimes.

So, akhirnya setelah pertimbangan, dukungan orang sekitar, dan persiapan mental yang cukup, saya mulai beranikan diri upload foto-foto selfie OOTD di Instagram dan Twitter. Hasilnya sangat mengejutkan, beberapa followers malah sampai nungguin saya posting OOTD baru. Baik sekali.

Efek paling positifnya, semakin sering saya berkutat di depan kaca dan berdandan, semakin saya percaya diri dan semakin saya mencintai diri saya sendiri. Every curve, every flaws, every scars. Semakin sering saya foto-foto diri sendiri, semakin saya paham angle yang terbaik seperti apa, lalu pencahayaan yang baik seperti apa, dsb.

Semakin serius untuk menghasilkan foto yang bagus, saya mulai mempertimbangkan penggunaan kamera yang lebih profesional, dan bukan lagi kamera HP saja. Tapi ya namanya juga apa-apa dilakukan sendirian, mau nggak mau pakai bantuan tripod dan timer. Awalnya, sumpah agak malu. Bayangin aja, pakai kamera beneran (so far saya cuma punya Canon 1100D) dan pake tripod segala, tapi… Selfie. Diliatin orang tuh udah pasti jadi resiko utama. Hahahaha.

Waktu jalan-jalan ke Danau Toba bulan Desember lalu, adalah pertama kalinya saya beranikan diri selfie di ruang terbuka dengan kamera dan tripod. Soalnya, pemandangan sekitar yang bisa dijadikan background luar biasa bagusnya, I just couldn’t help it. *alesan*

 

Foto ini, misalnya, diambil dengan cara meletakkan kamera + tripod di pinggir jalan setapak, dan saya berdiri di seberangnya. Berhenti, lari, atau menunduk saat banyak turis/warga lokal lewat jadi hal biasa yang harus saya hadapi hari itu. Teknik foto saya masih basic banget dan perlu banyak latihan, tapi saya akan kasih nilai 9 untuk kemampuan saya… menahan malu. :))

image

 

Tidak lama, adik saya datang dan menawarkan bantuan untuk foto-foto. 

Ternyata nggak cuma saya yang malu-malu diliatin orang karena selfie, tapi adik saya juga malu karena dalam usahanya mengambil foto terbaik, dia juga harus berpose aneh-aneh. Saya melihat dia jongkok, membungkuk, berdiri, lalu jongkok lagi demi mendapatkan angle foto yang bagus.

They say a picture says a thousand words, I agree. Karena seringkali sebuah foto bukan lagi tentang objeknya, tapi tentang momen yang terjadi di baliknya. Ini foto yang “nggak sengaja” terjepret, waktu saya ngetawain adik saya yang berusaha mengambil foto saya sampai harus jongkok dan nyaris jatuh.

 image

Perjuangan setiap orang untuk menghasilkan foto yang bagus memang macam-macam,dan setiap foto pasti punya kisahnya sendiri. Seperti halnya para fotografer di video #ShootMyBest dari Canon ini. Wah ternyata di luar sana banyak yang lebih nekat dari saya! XD

Buat saya, selfie OOTD lebih dari sekedar mengikuti tren saja, tapi juga upaya untuk lebih mencintai diri sendiri (karena saya akan didorong untuk terus tampil baik tiap hari). Untuk lebih meningkatkan percaya diri. Dan semoga bisa menularkan semangat positif yang sama buat perempuan-perempuan yang merasa dirinya tidak cantik. 🙂

Salam sayang,

Twelvi

Break Up

We always talk about the red strings of fate.
The invisible thread that connects our lives and touch each other’s journey.
All the beautiful, beautiful bullshit of coincidence that we never really believed in.

About how we knew each other,
Or how I fell hard for you for the last thousand days,
Or how it got us ended up being together for the hundreds of nights.

What if there was the chance, that you could be the one that was standing at the end of my red string, but instead you pulled it too far and too hard, that it had to broke apart?

Mencari Rumah (Tangga) Idaman

Sepuluh tahun yang lalu, jika saya ditanya apa yang ingin saya inginkan dalam periode lima tahun kedepan, saya cuma ingin jadi anak kuliahan yang tiap hari cuma sibuk mikirin belajar dan main sama temen-temen. Udah, sesederhana itu. Hidup rasanya masih santai banget dan nggak ada beban mikirin uang, nabung, karir, kontrakan, tagihan ini-itu. pernikahan, dan sebagainya.

Tapi itu sepuluh tahun yang lalu. Sekarang, di usia saya yang nyaris 26 tahun ini, prioritas dan kebutuhan saya sudah jauh berbeda. Sekarang, setiap hari saya bekerja untuk menafkahi diri sendiri, serta menyusun rencana-rencana untuk masa depan nanti. Saya punya fokus yang jelas untuk urusan karir, uang, dan urusan asmara *ahzeg*.

Termasuk masalah rumah (dan rumah tangga, sih). Sejak dua tahun belakangan ini saya sudah mulai kepikiran untuk menabung supaya bisa membeli rumah untuk masa depan saya nanti. Dari dulu, saya selalu pengen punya rumah nyaman yang pas untuk keluarga. Tidak terlalu besar, tapi tetap cukup lega supaya sirkulasi udaranya terjaga. Selain itu, saya selalu pengen punya rumah yang punya pekarangan kecil di belakang dan yang area dapurnya spacious, karena saya suka sekali masak-masak. Tapi yang paling penting, saya inginnya rumah yang terletak di lingkungan yang aman dan berfasilitas lengkap dan tidak terlalu padat penduduk atau kumuh.

Saya tuh ngebayanginnya punya rumah seperti itu biar bisa bawa anak-anak jalan sore keliling area perumahan, dan bisa BBQ-an di pekarangan rumah kalau ada acara-acara tertentu. Persis seperti rumah Orangtua dan Kakek-Nenek saya di kampung. Dapur besar, ruang tamu lega, dan pekarangan untuk anak-anak bermain. Buat saya, rumah seperti itu masih tetap jadi pilihan utama untuk hunian masa depan. Jadi impian itu akan tetap saya simpan sambil terus menabung modal untuk membeli rumah.

Hahaha, ngayal banget ya? Padahal di Jakarta udah susah banget nemu perumahan yang begitu. Sampai akhirnya pada hari Sabtu, 27 September 2014 yang lalu, saya diundang ke acara Bloggers Gathering / One Day Tour Graha Raya di perumahan Graha Raya, Bintaro.

Ada kurang lebih 30 orang bloggers yang datang ke acara ini, dan Graha Raya menyediakan bus besar untuk mengantar kami dari meeting point di FX mall Sudirman menuju Graha Raya Bintaro.

Setelah menempuh perjalanan darat kurang lebih 45 menit, bus kamipun tiba di kawasan perumahan Graha Raya. Rupa-rupanya Graha Raya akan segera meluncurkan salah satu cluster terbarunya yakni Fortune Terrace pada hari Sabtu, 18 Oktober 2014 nanti. Cluster ini terletak di distrik Fortune yang merupakan distrik premium terbesar yang dimiliki Graha Raya.

Distrik Fortune Terrace dibangun diatas lahan seluas 40 ha dengan akses langsung ke Jl.  Boulevard Utama Graha Raya. Selain dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti club house dan jogging track, distrik ini juga menyediakan fasilitas lainnya seperti; Pasar Segar, RS Internasional, Sekolah, Klub Keluarga, Giant Supermarket, Mc.Donalds, serta kemudahan-kemudahan lain, seperti:

–          Akses langsung ke Jalan Utama Bintaro Jaya – Graya Raya

–          10 menit dari Exit Tol Alam Sutra, 5 menit dari Mal Living World.

–          Shuttle Bus Graha Raya – Sudirman bagi penghuni yang berkerja di daerah Jakarta Pusat dan sekitarnya.



Lengkap banget ya fasilitasnya? Memang letaknya tidak di area pusat Jakarta, tapi perjalanan menuju kesana sangat mudah dan terbilang cepat, jadi saya rasa justru tidak ada masalah. Aduh, jadi pengen!

Anyway, cluster Fortune Terrace ini akan diluncurkan pada hari Sabtu, 18 Oktober 2014, di BxPark, Bintaro XChange Mall. Kabarnya, event launching ini akan dimeriahkan oleh music performance dan games seru serta ada hadiah 1 unit Honda Mobilio. Tuh yang mau beli rumah mungkin bisa langsung datang ke eventnya, siapa tahu bisa dapet mobilnya juga.

Oh iya, satu lagi, dalam rangka launching ini, Graha Raya juga mengadakan Blog Writing Contest dengan hadiah total Rp.10.000.000,- lho. Informasi lengkapnya bisa lihat di www.graharaya.com/jago-ngeblog atau tanya-tanya langsung lewat twitternya @JagoNgeblog.

Ikutan yuk, lumayan nambahin tabungan buat DP rumah di Graha Raya :p